12 Tata Krama Bagi Khatib Sebelum Ibadah Jumat diMulai Menurut Imam Ghazali

12 Tata Krama Bagi Khatib Sebelum Ibadah Jumat diMulai Menurut Imam Ghazali

Almunawwar.or.id – Khutbah jum’at yang merupakan satu dari serangkaian ibadah fardhu pada hari jum’at termasuk dari shalat jum’at itu sendiri, yang dalam hal ini tentunya sangat di perlukan perisapan khusus guna bisa memaksimalkan semua faidah dan himah serta keberkahan di sayyidul ayyaam tersebut.

Terlebih bagi seorang khatib yang notabanenya merupakan imam terhadap pelaksanaan ibadah khutbah jum’at itu sendiri yang sudah barang tentu mengetahui perihal yang menjadikan khutbah jum’at itu adalah ibadah yang khusus dan syakral di samping mengetahui dan mengamalkan rukun, syarat dan pembatalan khutbah jum’at.

Termasuk adanya persiapan khusus bisa lebih mengoptimalkan pengamalan ibadah shalat jum’at dan juga khutbahnya itu merupakan bentuk dari pada penghambaan dari keistimewaan yang terdapat pada hari jum’at tersebut sebagai rajanya hari di banding hari-hari lainnya.

Untuk itu Ulama ahli tasawwuf yaitu Imam Al Ghazali mengatakan dan juga menaerangkan bahwa setidaknya ada 12 adab atau tatakrama yang selalu senantiasa di perhatikan oleh seorang khatib sebelum berangkat untuk ibadah shalat jum’at meskipun hal ini termasuk pada perkara sunnah, namun alangkah lebih baiknya untuk di lakukan.

Karena memang khutbah jum’at selain menjadi ibadah yang khusus pada hari itu, termasuk juga pada penilaian ibadah yang integral dalam arti perlu bimbingan dan pengawasan tertentu bagi seorang khatib yang nantinya sangat berpenagruh sekali terhadap keabsahan dari ibadh jum’at itu sendiri.

Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab seorang khatib sebagai berikut:

أداب الخطيب: يأتى المسجد وعليه السكينة والوقار، ويبدأ بالتحية ويجلس وعليه الهيبة، و يمتنع عن التخاطب، وينتظر الوقت، ثم يخطو إلى المنبر و عليه الوقار، كأنه يحب أن يعرض ما يقول على الجبار، ثم يصعد للخشوع، ويقف على المرقاة بالخشوع ويرتقي بالذكر، ويلتفت إلى مستمعيه باجتماع الفكر، ثم يشيرإليهم بالسلام ليستمعوا منه الكلام، ثم يجلس للأذان فزعا من الديان، ثم يخطب بالتواضع، ولا يشير بالأصابع، ويعتقد ما يقول لينتفع به، ثم يشير اليهم بالدعاء، وينزل إذا أخذ المؤذن في الإقامة، ولا يكبر حتى يسكتوا، ثم يفتتح الصلاة، ويرتل ما يقرأ.

Artinya: “Adab khatib, yakni berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang; terlebih dahulu shalat sunnah dan duduk dengan khidmat; tidak berbincang-bincang dan menunggu waktu; kemudian melangkah ke mimbar dengan rasa terhormat seolah-olah senang mengatakan sesuatu yang akan disampaikan kepada Yang Maha Perkasa; kemudian naik dan berdiri di tangga dengan khusyu’ sambil berdzikir; berputar untuk melayangkan pandangan kepada para pendengarnya dengan penuh konsentrasi kemudian menyampaikan salam kepada pendengar agar mereka mendengarkan; kemudian duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa; kemudian berkhutbah dengan penuh tawadhu’; tidak menunjuk dengan jari-jari; merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat; kemudian memberi isyarat kepada makmun agar berdoa; turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat; tidak bertakbir sebelum jamaah tenang; kemudian mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kedua belas adab khatib sebagai berikut:

1. Berangkat ke masjid dengan hati dan pikiran tenang. Seorang khatib memiliki tanggung jawab penuh terhadap sah tidaknya khutbah yang dia sampaikan terutama yang menyangkut syarat-syarat dan rukun-rukun khutbah. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ketika menyampaikan khutbah.

2. Terlebih dahulu shalat sunnah dan kemudian duduk dengan khidmat. Seorang khatib setelah sampai dan memasuki masjid hendaknya melakukan shalat sunnah sebelum duduk menunggu tibanya waktu shalat Jumat dengan tidak berbincang-bincang dengan orang-orang di sekitarnya kecuali sangat terpaksa.

3. Melangkah menuju mimbar dengan rasa terhormat seakan-akan hendak mengatakan sesuatu kepada Yang Maha Perkasa. Seorang khatib hendaknya merasa percaya diri dengan tugas yang dijalankan karena ia memang sedang melaksanakan tugas keagamaan yang sangat penting dan terhormat.

4. Naik ke tangga mimbar dan berdiri di mimbar dengan khusyu’ sambil berdzikir. Sesampai di mimbar, seorang khatib hendaknya berdiri dengan khusyu’ dan selalu mengingat Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Hal ini untuk membantu mengkondisikan suasana sakral karena khutbah tidak sama dengan pengajian umum yang bersifat bebas.

5. Berputar untuk menatap para hadirin dengan penuh konsentrasi dan kemudian segera beruluk salam kepada mereka agar mereka mendengarkan. Hal ini penting karena para jamaah hendaknya mendengarkan apa yang disampaikan khatib dengan baik. Seorang khatib dalam menyampaikan khutbahnya sebaiknya tidak ngelantur, apalagi keluar dari konteks.

6. Duduk untuk mendengarkan adzan dengan penuh rasa takut kepada Yang Maha Kuasa. Setelah beruluk salam khatib hendaknya duduk di kursi yang telah disediakan untuk mendengarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin. Adzan tersebut hendaknya direspon oleh khatib dengan bacaan-bacaan tertentu secara lirih termasuk bacaan doa seusai adzan dikumandangkan.

7. Seusai adzan seorang khatib menyampaikan khutbahnya dengan sikap tawadhu’ dan tidak menunjuk dengan jari-jari. Bagi seorang khatib sebaiknya tidak menunjukkan sikap sombong atau bahkan arogan baik yang tercermin dalam kata-kata maupun dalam bahasa tubuh. Oleh karena itu, penggunaan jari-jari untuk menunjuk sesuatu atau seseorang sebagaimana biasa dilakukan dalam orasi politik harus dihindari selama khutbah berlangsung.

8. Khatib harus merasa yakin bahwa yang disampaikan bermanfaat. Dimana materi yang disampaikan dalam khutbah harus dipastikan berisi tentang hal-hal yang bermafaat bagi para jamaah seperti ajakan untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanu wat’ala dan berakhlak mulia. Oleh karena itu seorang khatib hendaknya menyiapakan materi yang baik dan benar sebelum naik ke mimbar.

9. Memberikan isyarat kepada jamaah agar berdoa. Pada saat khatib sampai pada doa, sebaiknya ia hendak memberi isyarat dengan mengangkat tangannya agar para hadirin mengetahui dan mengikutinya dengan mengangkat tangan sambil mengamini doa yang dipanjatkannya.

10. Turun dari mimbar jika muadzin sudah bersiap-siap iqamat. Dimana dilakukan seusai khutbah, khatib hendaknya tidak langsung turun dari mimbar hingga muadzin mulai menyerukan iqamat yang kemudian diikuti para jamaah dengan berdiri.

11. Tidak bertakbir sebelum jamaah tenang. Khatib bisa sekaligus bertindak sebagai imam. Sebelum memulai takbiratul ihram, Sebaiknya ia (Khatib) harus memperhatikan terlebih dahulu keadaan para jamaah, apakah sudah berdiri dengan tenang dan diam atau masih ada yang bergerak merapatkan barisan. Jika jamaah dalam jangakaun pandangannya sudah terlihat diam dan berdiri dengan rapat, ia bisa memulai takbiratul ihram dengan sempurna.

12. Mulai shalat dan membaca ayat-ayat Al-Qurán dengan tartil. Baru setelah takbiratul ihram yang di ikuti oleh jamaah, Kemudian imam dapat membaca surat Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surat lainnya secara tartil.

Catatan : Untuk nomor satu sampai dengan enam itu dilakukan sebelum kumandang muadzin, nomor tujuh sampai sembilan untuk setelah muadzin mengumandangkan adzan dan 10 sampai 12 dilakuakn dimana seorang muadzin telah menyerukan untuk beribadah shalat jum’at.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id