6 Nilai Kemanusiaan Yang di Dapat Dari Ritualnya Pelaksanaan Ibadah Haji

6 Nilai Kemanusiaan Yang di Dapat Dari Ritualnya Pelaksanaan Ibadah Haji

Almunawwar.or.id – Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang begitu besar pahalanya bagi orang yang mampu dalam menunaikannya, terbilang ibadah haji mengandung pesan-pesan moral kemanusiaan dalam setiap rukun yang di kerjakan pada ibadah haji tersebut.

Bahkan nilai ibadah haji begitu memiliki keagungan yang besar sejak untuk pertama kalinya di ysariatkan pada jaman Nabi Ibrahim A.S. Dimana esensi pada tata cara dan pelaksananan ibadah haji tertuju pada struktural seorang muslim ketika beribadah langsung di maqom dan saatul ijabah.

Tidak hanya bersifat ritual saja, namun ibadah haji merupakan tolak ukur bagi setiap umat islam dalam segi amaliyah sehari-harinya. Tidak sempurna nilai peribadahan seorang muslim kalau tidak melaksanakan ibadah haji, tentu dalam hal ini adalah bagi orang yang Mustati’ atau mampu dalam menunaikannya.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Perjalanan panjang praktek ibadah haji semenjak jaman nabi Ibrahim A.S pernah mengalami perubahan, namun hal tersebut sudah di luruskan ketika Baginda Nabi Muhammad S.A.W di utus ke dunia ini sekaligus menjadi penyempurna dalam tata cara ibadah lainnya termasuk ibadah haji itu sendiri.

Sehingga nilai keagungan ibadah haji tersebut mampu menciptkan strutural seorang msulim yang kuat dan ta’at dari semua pelaksaanaan amalan yang tertata pada rukun-rukun haji itu sendiri. Setidaknya ada enam pesan moral penting di balik pelaksanaan ibadah haji di antaranya

1. Ibadah haji diawali dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Seperti diketahui bahwa fungsi pakaian antara lain sebagai pembeda antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain dalam hal status sosial, ekonomi atau profesi.

Pakaian khusus ihram yang telah disyariatkan memungkinkan bersatunya seluruh umat Islam dalam status yang sama, yakni jemaah calon haji. Tidak ada perbedaan status sosial dan lain-lain karena perbedaan pakaian yang dikenakan. Hal ini menunjukkan juga bahwa seluruh manusia pada dasarnya sama di mata Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

2. Dengan memakai pakaian ihram, sejumlah larangan harus dihindari oleh jemaah haji. Ketika salah satu rukun haji tersebut dilaksanakan, Islam mensyariatkan bahwa jemaah haji dilarang menyakiti dan membunuh binatang, jangan menumpahkan darah, dan jangan mencabut pepohonan.

Laku syariat tersebut mengandung pesan bahwa manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Allah serta memberikan kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga memakai wangi-wangian, bercumbu atau kawin, serta berhias agar jemaah haji menyadari bahwa kehidupan manusia semata-mata materi dan nafsu birahi melainkan kondisi ruhani yang ada dalam posisi penghambaan yang kuat di sisi Allah.

3. Ka’bah yang dikunjungi dalam momen ibadah haji juga mengandung arti dari sisi kemanusiaan bahwa salah satunya terletak hijr Islmail yang berarti pengakuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim pembangun Ka’bah pernah berada dalam pengakuan ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu.

Dengan latar belakang tersebut, namun peninggalan Hajar diabadikan Allah agar menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk berhijrah (hajar) dari kejahatan menuju kebaikan juga dari keterbelakangan menuju peradaban. (Quraish Shihab, 1999: 336)

4. Setelah selesai melakukan ritus thawaf, jemaah haji larut dan berbaur dalam kebersamaan dengan manusia-manusia lain. Rukun ibadah haji tersebut juga memberikan kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam hadirat Allah SWT. Begitu juga dengan ritual sa’i yang menggambarkan perjuangan Siti Hajar dalam upaya memperoleh penghidupan untuk anaknya Ismail yang kehausan luar biasa di tengah gurun pasir.

Usaha dan kerja Siti Hajar yang beberapa kali bolak-balik antara bukit shafa dan marwa menunjukkan bahwa kenikmatan yang diperoleh dari anugerah Allah harus didahului perjuangan dan kerja keras dari seorang manusia. Karena Allah tidak mungkin menurunkan anugerah dan rezekinya kepada manusia yang hanya berpangku tangan.

5. Ketika jemaah haji berkumpul di padang ‘Arafah. Tempat yang konon diriwayatkan menjadi lokasi pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Di tempat tersebut, seharusnya manusia menemukan ma’rifah pengetahuan tentang jati dirinya dan perjalanan hidupnya selama ini sehingga mendekatkan diri kepada Tuhannya. Di padang ‘Arafah itulah manusia diantarkan menuju laku yang ‘arif (sadar) dan mengetahui. Karena Nabi Muhammad pun menerangkan dalam sabdanya bahwa sesiapa yang mengenal dirinya, maka ia bakal mengenal Tuhannya.

6. Dari ‘Arafah jemaah haji menuju ke Muzdalifah kemudian ke Mina menuju rukun haji yaitu mabit dan melempar jumroh. Ritus ini dilakukan untuk memerangi perangai setan yang ada pada diri manusia. Untuk tujuan tersebut, manusia harus mempersiapkan senjata dalam melawan setan dengan mengumpulkan batu di malam hari di Muzdalifah kemudian melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka kepada setan dengan melemparkan batu di Mina dalam ritual melempar jumroh.

Ada makna penting di balik pelaksanaan ibadah haji yang tidak hanya menjadi rukun Islam saja, akan tetapi mampu membentuk dua sisi hubungan manusia yaitu ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablum minallah) juga ibadah yang menuntut terwujudnya keshalehan sosial (hablum minannas)

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id