Adab Dan Integritas Berdoa Melalui Media Sosial Menurut Tinjauan Hukum Agama

Adab Dan Integritas Berdoa Melalui Media Sosial Menurut Tinjauan Hukum Agama

Almunawwar.or.id – Mungkin salah satu hal yang penting dalam menerapkan sebuah kebijakan adalah dengan melihat efek manfaat dan madharatnya tersebut, jangan sampai apa yang sudah dan akan di ekpos atau di publikasikan itu memberikan efek yang kurang nyaman bagi semua orang.

Dimana nilai sebuah efek tersebut sangatlah berpengaruh cara pandang banyak orang tentang apa yang sudah di publikasikan tersebut, Contoh salah satunya adalah dengan berdoa melalui sebuah fasilitas yang sudah lumrah di gunakan saat ini yaitu media sosial mulai dari facebook dan lain sebagainya.

Tentu di balik pengeksposan tersebut terdapat sesuatu yang bersifat manfaat dan madharatnya, yang secara konsekuensi hal tersebut rupanya perlu di cermati dan di perhatikan lagi dari bagaimana cara terbaik untuk lebih memberikan dampak media sosial bagi orang banyak.

Lalu bagaimana pandangan hukum agama jika hal tersebut sudah lumrah oleh banyak orangdi lakukan? Berikut penerangan dari pada sisi hukumnya.

Boleh-boleh saja, malah dianjurkan kalau memang ia meyakini bahwa dindingnya adalah tempat majlis adz-dzikri atau dengan harapan mendapatkan doa dari saudara muslim lainnya dengan tanpa sepengetahuannya. Di balik semua itu jika banyak madharatnya itu tidak boleh di lakukan cukup berdoa dalam diam saja.

Artinya selama dapat memberikan efek yang begitu manfaat bagi banyak orang maka itu di perbolehkan dan tidak ada niat apapun hanya semata karena Allah S.W.T.

ج – حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ : 20 – اجْتِمَاعُ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ مِنْ مَوَاطِنِ الإِْجَابَةِ لِحَدِيثِ : لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَل إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (3) .وَلِحَدِيثِ : إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُول لِمَلاَئِكَتِهِ : قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيَقُولُونَ : رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَال : فَيَقُول : وَلَهُ غَفَرْتُ، هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ (4)(3) حديث : ” لا يقعد قوم يذكرون الله إلاَّ حفتهم الملائكة . . . ” . أخرجه مسلم ( 4 / 2074 ) من حديث أبي هريرة وأبي سعيد الخدري . (4) حديث : ” إن الله يقول لملائكته : قد غفرت لهم . . . ” . أخرجه مسلم ( 4 / 2070 ) من حديث أبي هريرة .وَلِحَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ فِي خُرُوجِ النِّسَاءِ يَوْمَ الْعِيدِ وَفِيهِ : يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ (1) .قَال الشَّوْكَانِيُّ : فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَجَامِعَ الْمُسْلِمِينَ – أَيْ لِلذِّكْرِ – مِنْ مَوَاطِنِ الدُّعَاءِ . (2) ط – دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ 21 – وَرَدَ فِي اسْتِجَابَةِ دُعَاءِ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ (3) حَدِيثُ أَبِي الدَّرْدَاءِ مَرْفُوعًا :دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَِخِيهِ بِخَيْرٍ قَال الْمَلَكُ الْمُوَكَّل بِهِ : آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ (4) .

__________
(1) حديث أم عطية : ” يشهدن الخير . . . ” . أخرجه البخاري ( 3 / 470 فتح الباري ) ، ومسلم ( 2 / 606 ) ، واللفظ المذكور لمسلم .
(2) تحفة الذاكرين ص 71
(3) تحفة الذاكرين ص 47
(4) حديث أبي الدرداء : ” دعوة المرء المسلم لأخيه المسلم بظهر الغيب . . . ” . أخرجه مسلم ( 4 / 2094 )

Diantara saat-saat yang diduga kuat waktu ijabah :

8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikriBerdasarkan beberapa hadits Nabi :

• “Tidaklah duduk suatu kaum dalam majlis berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat mengelilinginya, rahmat menyelimutinya dan turun kepada mereka ketenangan, serta Allah memujinya di hadapan makhluk yang berada di sisinya”. [Riwayat Muslim, IV/2074 dari hadits Abu Hurairoh dan Sa’id al-Hudzry]

• “‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka”Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.” (HR. Muslim)

• Dan berdasarkan hadits riwayat dari Ummi ‘Athiyah berkata, saat keluarnya para wanita dihari raya”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimiin” (Muttafaqun ‘alaihi)Berkata as-Syaukaany “ini adalah dalil bahwa perkumpulan orang-orang muslim untuk dzikir termasuk tempat-tempat ijabahnya doa.

9. Do’a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

Terdapat riwayat hadits anjuran mendoakan kepada saudara muslim lainnya dengan tanpa sepengetahuannya

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim).

hya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar menyebutkan 10 adab berdoa. Hal ini menunjukkan betapa sakralitas ibadah doa.

1. Kita menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir dalam setiap malam, dan waktu sahur.
2. Kita memanfaatkan kondisi-kondisi istimewa untuk berdoa seperti saat sujud, saat dua pasukan berhadap-hadapan siap tempur, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat dan sesudahnya.
3. Menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa.
4.Mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah.
5. Menghindari kalimat bersajak dalam doa karena dikhawatirkan justru melewati batas dalam berdoa. Prinsipnya tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata saat berdoa.
6. Berdoa dengan penuh ketundukkan, kekhusyukan, dan ketakutan kepada Allah SWT.
7. Mantap hati dalam berdoa, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar dalam berdoa. Sufyan bin Uyaynah mengatakan, sadar akan kondisi dirimu jangan sampai menghalangimu untuk berdoa kepada-Nya. Allah, kata Sufyan, tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk.
8. Meminta terus menerus dalam berdoa.
9. Membuka doa dengan lafal zikir. Kita dianjurkan untuk membuka doa dengan pujian dan shalawat. Demikian pula ketika mengakhiri doa.
10. Tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT dengan cara mematuhi segala aturan agama. Pasal sepuluh ini yang sangat penting.

العاشر : وهو أهمها والأصل في الإجابة ، وهو التوبة ، ورد المظالم ، والإقبال على الله تعالى

Artinya: “Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT,” (Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com
nu.or.id