Adakah Mubtada Isim Nakiroh Dalam Kalam Arab? Berikut Penerangan dan Contohnya

Adakah Mubtada Isim Nakiroh Dalam Kalam Arab? Berikut Penerangan dan Contohnya

Almunawwar.or.id – Pada ketentuannya sebuah kalimah yang di jadikan mubtada atau kalimah awal dalam bahaa arab itu di ambil dalam kalimah isim karena memang kalimah isim sendiri memiliki ketentuan yang lebih privasi di banding dengan dua kalimah lainnya yaitu harap dan kalimah fi’il.

Bahkan di kalimah isim sendiri itu mengarahkan objek yang ada di dalamnya itu merupakan sesuatu yang bersifat khusus tidak umum sebagaimana yang banyak di terangkan dalam kajian ilmu nahwu, oleh karena inilah kalimah yang menjadi awal (Subjek) akan lebih tepat jika di ambil dari kalimah isim.

Namun terkadang pada kalam arab itu ada juga ada yang keluar dari pada ketentuannya namun haruslah memiliki makna faidah tertentu yang menjadikan mubtada itu di cetak dari isim nakiroh (umum). Berdasarkan keterangan dan dalil yang memperbolehkannya.

Di samping itu juga terbilang langka jika memang menemukan dalam kalam atau tulisan arab bahwa kalimah yang kedudukannya jadi mubtada itu termasuk pada isim nakiroh, Seperti beberapa contoh berikut ini yang menerangkan kedudukan mubtada isim nakiroh.

وَلاَ يَجُوْزُ الابْتِدَا بِالْنَّكِرَهْ ¤ مَا لَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَهْ

Artinya : “Tidak boleh menggunakan mubtada’ dengan isim Nakirah selama itu tidak ada faidah, (yakni, boleh dengan persyaratan ada faidah) seperti contoh:

عِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَةُ

Maksudnya : “adalah disisi Zaid pakaian Namirah (jenis pakaian bergaris-garis yang biasa dipakai oleh orang A’rab Badwi)” (khabarnya terdiri dari zharaf atau jar-majrur yang dikedepankan dari mubtada’nya).

وَهَلْ فَتَىً فِيْكُمْ فَمَا خِلٌّ لَنَا ¤ وَرَجُــلٌ مِنَ الْكِـرَامِ عِنْدَنَا

(dan disyaratkan juga: ) seperti contoh هَلْ فَتَىًفِيكُم “adakah seorang pemuda diantara kalian?”(diawali dengan Istifham/kata tanya),

Dan contoh: مَا خِلٌّ لَنَا “tidak ada teman yang menemani kami” (diawali dengan Nafi),
dan contoh: رَجُلٌ مِنَ الكِرَامِ عِنْدَنَا “seorang lelaki yg mulia ada disisi kami” (disifati)

وَرَغْبَةٌ فِي الْخَيْر خَيْرٌ وَعَمَلْ ¤ بِرَ يَزِيْنُ وَلْيُقَسْ مَا لَمْ يُقَـلْ

dan contoh: رَغْبَةٌ فِي الخَيْرِ خَيْرٌ “gemar dalam kebaikan adalah baik” (mengamal), dan contoh:عَمَلُ بِرٍّ يَزِينُ “berbuat kebajikan menghiasi (hidupnya)” (mudhaf). Dan dikiaskan saja! contoh lain yang belum disebut.

PERIHAL KEBOLEHAN MENDAHULUKAN KHABAR DARI MUBTADA’

وَالأَصْلُ فِي الأَخْبَارِ أَنْ تُؤخَّرَا¤ وَجَـوَّزُوَا الْتَّقْــدِيْمَ إِذْ لاَ ضَــرَرَا

Asal penyebutan Khabar tentunya harus di-akhirkan (setelah penyebutan mubtada’), dan mereka (orang arab/ahli nahwu) memperbolehkan mendahulukan khabar bilamana tidak ada kemudharatan (aman dari ketidakjelasan antara khabar dan mubtada’nya).

Pelarangan Mendahaulukan Khobar Dari Mubtadanya

Sama Nakirah atau Ma’rifat

فَامْنَعْهُ حِيْنَ يَسْتَوِى الْجُزْءآنِ ¤ عُرْفَــــاً وَنُكْـــرَاً عَــادِمَيْ بَيَـــانِ

Maka cegahlah mendahulukan Khabar…! ketika kedua juz (khabar & mubtada’) serupa ma’rifah-nya atau nakirah-nya, dalam situasi keduanya tidak ada kejelasan. (karena dalam hal ini, pendengar atau pembaca tetap menganggap khabarlah yang dibelakang).

Itulah salah satu penerangan dasar tentang kedudukan mubtada dan khobar yang merupakan rangkaian kalimah penting dalam bahasa arab, terutama dalam memastikan ketentuan tentang tidak dan di perbolehkannya Mubtada terbuat dari isim nakiroh berdasarkan illat atau alasannya.

Wallohu A’lamu Bisowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com