Aksi Penolakan “Full Day School” Oleh Warga Nahdliyin Tasikmalaya

Aksi Penolakan Full Day School Oleh Warga Nahdliyin Tasikmalaya

Almunawwar.or.id – Rencana pemerintah untuk menerapkan pola pendidikan Full Day School ini memang mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat, diantaranya aksi penolakan yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat kota Tasikmalaya khususnya dari kaum warga nahdliyyin.

Sejumlah pihak mulai dari Pimpinan Pesantren, Pimpinan NU, IMNU (Internet Marketers Nahdlatul Ulama), FKDT, BKPRMI, IMG, FPP, PGM, ANSOR, IPNU, IPPNU, LESBUMI, Santri dan Ormas Islam lainnya melakukan aksi orasi dalam rangka menolak rencana pemerintah yang akan menerapkan program FDS tersebut. Karena di nilai akan mengganggu program-program pendidikan agama yang sudah berjalan sebelumnya.

Aksi demo yang bertempat di depan gedung Nahdlatul Ulama jalan Dr. Sukarjo Kota Tasikmalaya ini dihadiri oleh berbagai elemen dan tokoh masyarakat yang menghasilkan sejumlah kesepakatan dengan di tandatangani secara bersama.

Acara yang di mulai jam 8 pagi dan berakhir sesaat menjelang waktu dzuhur ini mendapat reaksi dan pandangan dari beberapa tokoh, terkait yang memberi pandangannya terhadap pelaksanaan aksi penolakan Full Day School. Berikut hasil rangkuman wawancara tim almunawwar.or.id dengan para tokoh aksi penolakan, Sabtu 12 Agustus 2017.

“Proses pembelajaran dari madrasah diniyyah dan pondok pesantren akan terganggu akan mengalami kevakuman atau mati suri, karena otomatis para siswa masih ada di sekolah masing-masing di waktu belajar” Begitu imbuh dari pandangan dari ketua Ansor Kota Tasikmalaya H. Ricky Assegaf.

“Pendidikan karakter yang begitu sangat militan yang sangat jelas begitu terasa sejak adanya diniyyah awalliyah dan pondok, jika FDS itu di terapkan maka jelas akan mengikis habis lembaga pendidikan tersebut. Dengan ini menyatakan menolak keras terhadap di terapkannya full day school. Demikian tutur salah satu santri Pondok Pesantren Sulalatul Huda, Paseh, Muhammad Asep Qusaeri.

Penolakan terhadap diberlakukannya FDS ini juga di tuturkan oleh pengasuh pondok pesantren Miftahul Huda Jarnauziyah “Muhammad Yan Yan Al Bayani S.Kom M.Pd” beliau menuturkan andai saja program FDS ini di terapkan, maka pemerintah seolah tidak menghargai jasa para ulama yang begitu besar sekali terhadap pembentukan karakter bangsa.

Beliau juga menuturkan terhadap program tersebut seolah menghianati terhadap para ulama, sehingga sangat wajar apabila para ulama dan pondok pesantren sangat kecewa dan menolak terhadap rencana pemerintah tersebut. Jauh sebelum sekolah-sekolah muncul, madrasah diniyyah dan pondok pesantren sudah ada. Dengan kebijakan ini maka peran madrasah diniyyah dan pondok pesantren akan terkebiri, demikian tuturnya.

“Dengan adanya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 ini jelas sudah bahwa akan mengancam keberadaan pendidikan Madrasah Diniyah, Maka dari itu kami menghimbau untuk meramaikan jagad sosmed dengan menggunakan tagar #JihadTolakFDS #TolakFullDaySchool, ujar Pengurus IMNU Enceng Rahman”.