Alasan Alif Lam Tidak Bisa Berkumpul Dengan Tanwin Dalam Satu Kalimah Selamanya

Almunawwar.or.id – Sering sekali banyak orang yang mempertanyakan terutama bagi mereka para pelajar islam (Santri) yang masih berada dalam tahap belajar tentang kedudukan dalam sebuah kalimah arab yang tidak di ketemukan adanya alif lam dan tanwin berbarengan dalam satu kalimah.

Padahal seperti di ketahui bersama dari kajian ilmu nahwu dan shorof yang biasa sudah menjadi kurikulum penting di sebuah lembaga pendidikan islam ataupun Pondok Pesantren bahwa alif dan tanwin tersebut merupakan salah satu ciri dari pada bentuk kalimah isim (Subjek).

Dalam hal ini yang tentunya ada alasan tersendiri mengapa dari dua ciri isim tersebut yaitu alif lam dan tanwin tidak bisa menyatu dalam sebuah kalimah bahkan selamanya tidak akan pernah bisa kumpul. Dalam artian salah satunya itu harus mengalah jika pengambilan sebuah kalimah isim itu di dapati atau di berlakukan.

Nah sebagai kajian lebih lanjutnya, maka tidak ada salahnya kita sama-sama menela’ah kembali masalah seperti ini meskipun bisa di katakan hukumnya fardhu kifayah sebagaimana hukum asal yang di berlakukan pada ilmu nahwu dan shorof sendiri.

Akan tetapi jika melihat dan melirik kembali pada kaidah arobiyah (ilmu Shorof) yaitu “Tagoyyurol lafdi Tagoyyurol Ma’na” (berubah lafadz maka secara maknanya pun akan berubah) maka penjelasan seperti masalah ini sangat penting sekali terutama bagi mereka yang mengerti akan literasi bahasa arab.

Terlebih bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam mempelajari dan menggali ilmu Alquran dan Alhadits, mengetahui secara penuh dan menguasai ilmu shorof dan nahwu adalah hukumnya fardhu ‘Ain, Sebagaimana yang sudah di jelaskan pada kajian-kajian kitab yang ada di Pondok Pesantren.

Lalu apa alasannya di balik tidak pernah bersatunya atau berkumpulnya antara alif lam dan tanwin dalam sebuah kalimah? berikut pengertian dan penjelasan secara real sesuai dengan kaidah yang berjalan pada kajian ilmu shorof dan nahwu di beberapa redaksi kitabnya.

Dalam kitab Jurumiyyah di terangkan bahwa:

Jurumiyah :

ِفَالْاِسمُ يُعرفُ بِالْخَفْضِ وَالتَّنْوِيْنِ وَدُخُولِ الْألفِ وَاللّأمِ وَحُرُوفِ الخفْضِ وهي : من، وإلى، وعن، وعلى، وفي، ورب، واباء، والكاف، واللام ، وَحُرُوفُ الْقَسَمِ وَهِيَ الْوَاوُ، وَالْبَاءُ، وَالتَّاءُ

Artinya : “Isim itu dapat dikenali dengan dikhafadhkan (huruf akhirnya dijarkan), ditanwinkan, kemasukan alif-lam (dipangkal perkataan) dan (didahului oleh) huruf khafadh, iaitulah : منْ (dari); إلى (ke/kepada); عنْ (dari); على (atas/kepada); فى (pada/di/dalam/didalam); ربَّ (sedikit sekali atau banyak sekali); باء (dengan); كاف (seperti); لامُ (untuk); dan huruf qasam (sumpah), yaitu : تاء ، باء ، واو”.

Dari pengertian ini tentu bisa di fahami betul bahwa alif lam dantanwin tersebut merupakan bagian dari pada ciri kalimah isim, dalam artian cukup dari salah satu ciri tersebut menjadi wakil dalam sebuah kalimah isim. Jadi kalau ada alif lam ataupun tanwin maka ciri isim yang lainnya tidak di perbolehkan ada.

Bahkan dalam penjelasan lainnya “Kitab Alfiyyah” menyebutkan bahwa Alif lam itu menunjukan pada sesuatu yang khusus (ma’rifat atau kepemilikan) sedangkan tanwin sendiri itu menunjukan pada hal yang umum (Nakiroh), sebagaimana yang sudah di kaji dalam beberapa ilmu nahwu dan shorof lainnya.

Sehingga bisa di katakan bahwa ” Kalimah yang di awali dengan alif lam maka itu menunjukan akan kempemilikan dari pada kalimah tersebut, Contohnya seperti lapadz Alhamdu artinya fuji yang di miliki oleh Alloh S.W.T.

Berbeda lagi dengan hamdun artinya semua fuji “Dalam pengertian fuji tersebut tidak hanya di miliki oleh satu orang saja, siapapun berhak mendapat fuji meskipun secara hakikatnya itu fuji hanya di peruntukan pada Alloh S.W.T.

Lebih jelasnya para pelajar bisa menyimak dan menela’ah kembali redaksi-redaksi yang ada pada keterangan kitab Al lubab fi ilalil bina’ wal i’rob, halaman 77 dengan penjelasannya sebagai berikut :

وإنما لم يجتمع التنوين مع الألف واللام لوجهين : أحدهما:أن الاسم ثقل بالألف واللام فلم يحتمل زيادة أخرى. والثاني:أن الألف واللام يعرف الاسم فيصير متناولا لشيء بعينه فيثقل بذلك,بخلاف النكرة فإنها أخف الأسماء.

Artinya : “Pastinya tidak akan berkumpul Tanwin dan Alif lam karena dua alasan yaitu : 1. Karena kalimah isim itu berat, maka tidak mungkin untuk menambah bebam (penambah) yang lainnya. 2. Karena alif Lam itu fungsinya untuk mengkhususkan (me Ma’rifat kan) kalimah isim, maka jadilah kepemilikan tersebut sehingga berat akan pikulannya, berbeda dengan isim nakiroh itu adalah seringan-ringannya sebuah kalimah.

اعلم أنه لا يجوز اجتماع الألف واللام والتنوين على حال من الأحوال نحو قولك رجل وفرس وغلام ثم تقول الرجل والغلام والفرس فيسقط التنوين وخطأ الجمع بينهما والعلة في ذلك عند البصريين
أن التنوين دخل في الأسماء فرقا بين المنصرف منها المتمكن وبين الممتنع من الانصراف بثقله مضارعا للفعل فإذا دخلت الألف واللام عليه مكنته فردته إلى الأصل، فإن صرف كله فاستغنى عن دلالة التنوين لأنه لا معنى للجمع بين دليلين على معنى واحد لا فضل لأحدهما على الآخر وعلة امتناع الجمع بين التنوين والألف واللام عند الفراء والكسائي وأصحابهما هي أن التنوين لازم الأسماء فرقا بينها وبين الأفعال لأن من الأسماء ما جاء بوزن الأفعال نحو جعفر لأنه بوزن دحرج ونحو جبل وجمل لأنه بوزن خرج وذهب، وكذلك ما أشبهه فجعل التنوين فرقا بين الأسماء والأفعال وألزم الأسماء لأنها أخف منالأفعال والألف واللام لا تدخل على الأفعال لأنه لا تعتوِرها المعاني التي من أجلها تدخل الألف واللام على الأسماء التي قدمنا شرحها فلما دخلت الألف واللام على الأسماء فارقت شبه الأفعال

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com