Amma Ba’du Menurut Kajian Nahwu Serta Orang Yang Pertama Kali Mengucapkannya

Amma Ba'du Menurut Kajian Nahwu Serta Orang Yang Pertama Kali Mengucapkannya

Almunawwar.or.id – Sering sekali kita dengar ucapan yang merupakan kata pemisah antara kalimat sebelum dan sesudahnya, terutama pada perkataan muqoddimah dalam sebuah pidato atupun sambutan berbahasa arab. Dimana lapadz amma ba’du seolah sudah menjadi perkataan yang selalu ada dalam perkataan tersebut.

Nah tentunya di balik pengucapannya tersebut memiliki kedudukan tertentu dari hal soal ta’rif dasar menegnai pelapalan dari ucapan amma ba’du itu, terutama pada kajian penting menurut istilah ilmu nahwu sebagai literasi dari pembahasan lebih jauh pada kalimah-kalimah bahasa arab.

Di samping itu juga tidak hanya memiliki kedudukan dan makna tertentu, Lapadz amma ba’du juga mempunyai sejarah dari orang yang pertama kali mengucapkannya yang sampai dengan saat ini selalu di gunakan sebagai kalimah penyambung ataupun kalimah jeda pada sebuah muqoddimah atau kata pengantar.

Nah untuk lebih lanjut mengenai pembahasan tersebut, berikut ini adalah uraian dari kedudukan lapadz amma ba’du sendiri menurut kajian ilmu nahwu sesuai dengan makna dan i’robnya.

Sunah bagi yang melaksanakan khuthbah mengucapkan kalimat “Ammaa ba’du” dengan sebelumnya mengucapkan Basmalah, Hamdalah, Tasyahud, Sholawat dan salam atas Nabi SAW dan keluarganya.

– Kitab ‘Aunu Al-ma’bud :

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا محمد بن فضيل عن أبي حيان عن يزيد بن حيان عن زيد بن أرقم أن النبي صلى الله عليه وسلم خطبهم فقال أما بعد-

Di riwayatkan sahabat Zaid Bin Arqom RA : Bahwa Nabi SAW memberikan khuthbah/mituturi para sahabat, beliau SAW mengucapkan “Ammaa Ba’du (اما بعد)”.
2. Masyhur dibaca MABNI DHOMAH (dhomah pengganti idhofat yang di buang)
3. Kata “أَمَّا بَعْدُ” bisa juga diungkapkan dengan: “وَبَعْدُ” . Keduanya bermakna sama. Sering diartikan dengan: “adapun selanjutnya”.
4. Kalimat ini disebut “فَصْلُ الخِطَابِ” (kalimat pemisah). Digunakan untuk memisahkan muqadimah dengan isi dan tema khotbah.
5. Orang yang pertama kali mengucapkannya adalah Nabi Dawud ‘alaihis salaam. Wallohu a’lam.
– Kitab Al Awaail karya Imam Thobrony :

(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ النَّوْفَلِيُّ الْمَدَنِيُّ ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ بِلالِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ ، عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” أَوَّلُ مَنْ قَالَ : أَمَّا بَعْدُ : دَاوُدُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلامُ . وَهُوَ فَصْلُ الْخِطَابِ ” .

Itulah salah satu penjelasan khusus mengenai kedudukan lapadz amma ba’du sendiri yang sering di pakai pada muqaddimah khutbah ataupun pidato berbahasa arab.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com