Tata Cara Mengumandangkan Adzan dan Doa Saat Hujan Lebat di sertai Angin

Tata Cara Mengumandangkan Adzan dan Doa Saat Hujan Lebat di sertai Angin

Almunawwar.or.id – Senantiasa di berikan kemudahan dan keselamatan dalam setiap perkara adalah harapan dan asa yang selalu terpanjatkan oleh setiap insan, terlebih sejatinya manusia yang merupakan salah satu mahluk sosial yang di tuntut untuk lebih mengoptimalkan segala kemampuannya.

Dan berdoa merupakan bagian terpenting atas di berikannya kemudahan dan kelancaan tersebut, terutama di saat-saat penting dan genting seperti di kala terjadi pristiwa hujan di sertai dengan angin kencang, dimana selain usaha yang maksimal tentu memohon kelancaran atas itu haruslah di priosritaskan.

Mengingat tiada satu pun peristiwa yang terjadi di muka bumi ini terkecuali atas kehendak Alloh S.W.T yang menciptakan dan mengurus semua tatanan kehidupan semua makhluk di muka bumi ini.

Terlebih bagi seorang muslim yang smenjadikan doa adalah senjata paling ampuh di samping berusaha dan berikhtiyar sebisa mungkin. Lalu apa amalan dan doa yang di anjurkan untuk di baca ketika hujan deras dan angin kencang melanda, Berikut tata cara adzah dan bacaan doa yang di maksud.

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا ,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allāhumma hawālainā wa lā ‘alainā. Allāhumma ‘alal ākāmi wal jibāli, waz zhirābi, wa buthūnil awdiyati, wa manābitis syajari.

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami (memberkahi), bukan di atas kami (memudharatkan). Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuh pohon.”

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, (Kairo, Darud Diyan lit Turats: 1987 M/1408 H), halaman 176. Doa ini dibaca oleh Rasulullah saat khutbah Jumat berlangsung ketika seorang sahabat datang melapor bahwa hujan deras yang selama sekira enam hari berlangsung membuat masyarakat kehilangan harta benda dan merusak fasilitas jalan.

Tata cara adzannya sama, seperti adzan pada umumnya, hanya saja ada sedikit penambahan kalimah yakni “alaa sholluu fii rikhaalin atau fii rikhaalikum atau fii buyuutikum” dua kali sesudah adzan usai atau setelah kalimah khai’alah. Dan menambahkan kalimat sesudah adzan usai, adalah yang paling utama. Adapun hujan yang dianjurkan kita melantunkan adzan adalah hujan yang sekiranya dapat menjadikan udzur jama’ah baik dengan mendung tebal disertai angin atau tidak. Wallohu a’lam. [Mumu Bsa, Abdurrahman As-Syafi’i].

– Buyrol karim :

و) يسن (قول : الا صلو فى الرحال) او فى رحالكم او بيوتكم مرتين كما فى سنن ابى داود (فى الليلة المطيرة) و اليوم المطير و ان لم يكن ريح (او ذات الريح) اى ذى الريح (او) ذات (الظلمة) و فى كل ما هو من اعذار الجماعة للامر به و يقول ذلك (بعد الاذان او) بعد (الحيعلتين) و الاول اولى و جرى الشربينى على ان ذلك يجزى عن الحيعلتين بشرى الكريم ١/٦٢_٦٣

– Almajmu’ :

قال الشافعي رحمه الله تعالى في آخر أبواب الأذان: إذا كانت ليلة مطيرة أو ذات ريح وظلمة يستحب أن يقول المؤذن إذا فرغ من أذانه: «ألا صلوا في رحالكم» قال: فإن قاله في أثناء الأذان بعد الحيعلة فلا بأس. هذا نصه.

Berkata Imam syafi’i ra. di akhir bab Adzan: apabila malam terjadi Hujan atau ada angin kencang, atau gelap, maka disunnahkan bagi muadzzin mengucapkan jika selesai dari adzannya “alaa shollu fii rihalikum” , berkata imam syafi’i, jika muadzzin mengucapkannya di tengah-tengah azan setelah lafadz hay’alah maka tidak apa-apa. Inilah nashnya (majmu’).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
Almunawwar.or.id
islam.nu.or.id
piss-ktb.com