Antara Cinta dan Akal Tersimpan Mahkota Kehidupan, Berikut Perspektif Tasawufnya

Antara Cinta dan Akal Tersimpan Mahkota Kehidupan, Berikut Perspektif Tasawufnya

Almunawwar.or.id – Sebuah mahkota kehidupan bagi semua orang, kini jauh lebih hidup dan menjadi pelita kehidupan bagi setiap orang, apabila dari peranannya itu mampu menjadikannya sebagai salah satu ruh jiwa dalam mengarungi hidup dan kehdiupan ini.

Dimana peran dari kedua bagian penting adalah laksana komando jiwa untuk dalam menentukan, mengimbangi dan juga memastikan langkah mana yang harus di tempuh di balik fenomena dan dinamika serta corak kehidupan ini yang begitu sangat berwarna sekali.

Dalam biasnya tentu sangat real sekali apa yang disinyalirkan dari kedua hal tersebut, sehingga bisa mempengaruhi keseimbangan jiwa, pemantapan pandangan yang menjadi ranah penting bagi setiap hidup individu seorang manusia.

Disadari ataupun tidak, hadirnya keputusan dalam menentukan langkah hidup seseorang itu berdasarkan daya pemikiran dan kematangan sebuah aqal, yang turut serta di bubuhi dengan rasa yang cenderung untuk melakukan hal tersebut yaitu rasa cinta.

Karena dengan cinta yang tumbuh dan berkembang pada jiwa seorang manusia serta adanya akal sebagai penyeimbang dalam memutuskan dan memastikan sebuah langkah tersebut, rupanya sangat berpengaruh sekali terhadap cara pandang seseirang dalam menentukan sikap di hidup dan kehidupannya.

Akal merupakan potensi intelek yang bersemayam “di dalam” diri manusia dan berfungsi untuk menuntun mereka agar senantiasa memilih yang terbaik di antara sekian pilihan. Juga berfungsi untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin dari segala sesuatu yang dijumpai.

Pun demikian akal juga berfungsi untuk menyelamatkan diri manusia dari berbagai macam bencana, seberapa pun takarannya, yang akan menimpa atau menghadang mereka, akal mampu mengimbanginya sehingga bisa memastikan langkah selanjutnya yang akan di tempuh oleh seseorang.

Serta Akal pula akan selalu senantiasa berada pada posisi menimbang dan mengambil berbagai keputusan mana yang baik, mana yang lebih baik dan mana yang terbaik. Mana yang benar, mana yang lebih benar dan mana yang terbenar. Dan lain sebagainya.

Karena Akal merupakan pemandu perjalanan manusia sekaligus sebagai pemegang kontrol bagi langkah-langkah kesadarannya. Tentu saja kalau akal itu difungsikan sebagaimana semestinya sesuai dengan kehendak hakikat dan nurani akal yang sesungguhnya.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Ssedikit membahas tafsiran dari kitab tafsir alqurtuby

فتكون لهم قلوب يعقلون بها أضاف العقل إلى القلب لأنه محله كما أن السمع محله الأذن . وقد قيل : إن العقل محله الدماغ ؛ وروي عن أبي حنيفة ؛ وما أراها عنه صحيحة .

Akal di sandarkan dengan hati karena memang tempatnya akal itu dihati sebagaimana tempatnya pendengaran itu di telinga. dan dikatakan bahwa tempatnya akal adalah di otak, ini diriwayatkan dari imam abu hanifah, tetapi aku (imam qurtuby) berpendapat bahwa itu tidak shohih dari beliau.

Dalam mengimbangi dan menyoroti hal ini, seorang tokoh ahli sufi terkemuka dan ternama Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) pernah bertutur bahwa sebelum dirinya berjumpa dengan gurunya, Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, dia merupakan seorang “pemuja” akal.

Dia juga (Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi) merupakan seorang yang tergila-gila pada buku-buku, seorang pembaca yang sangat tekun, seorang yang selalu menjadi bagian terdepan di majlis-majlis para sastrawan yang begitu fenomenal dan terkenal di masa itu.

Dimana dengan tuturannya itu, dia ingin mengatakan bahwa dirinya pada waktu itu merupakan seseorang yang sangat berpegang teguh dan bersandar pada akal. Sebagaimana penemuannya yang memang sangat berpengaruh sekali terhadap daya penjelajahan dan pemikiran pandangannya.

Sedangkan menyinggung masalah Cinta yang selalu luput dari jangkauan dan sergapan akal serta-merta lalu menabrak kesadaran Maulana. Yaitu ketika dia menatap kening seorang saki rohani, menyaksikan aura cinta dari wajah gurunya sendiri, Matahari agama dari Tabriz yang diutus oleh takdir untuk mengobarkan api cinta di kedalaman batinnya.

“Saat itu aku mabuk,” tuturnya. “Lalu kuhancurkan pena-penaku.” Artinya adalah bahwa sufi-penyair yang namanya begitu harum dan masyhur baik di barat maupun di timur itu, lalu berpindah dari logika pena (akal) yang kerontang menuju genangan cinta yang senantiasa gelisah dan berkobar.

Dan ketika akal yang cerdas dan gagah itu telah menyaksikan dan merasakan kedatangan sultan cinta, ia seperti seorang gubernur yang serta-merta menyisih dan kisut di pojok kesadaran ketika menyaksikan Sang Raja datang. Ketika itu akal tampil seperti seseorang yang sedang terseok-seok berjalan di lorong keputus-asaan.

Kobaran api cinta di dalam diri Maulana itu tidak saja menggerakkan dirinya untuk senantiasa bertawajjuh kepada Allah Maha Kekasih, tapi juga sangat efektif untuk menghalau orang-orang “terdekatnya” pada telaga keindahan dan keagungan hadiratNya sebagai keharibaan dalam menentukan sebuah tujuan.

Cinta pula membawa mereka pada kondisi rohani yang selalu menghidangkan pencerahan demi pencerahan, juga mengantarkan mereka pada penyingkapan rahasia-rahasia keilahian yang mampu bersemayam dalam jati dirinya sebagai pembubuhan yang begitu stimewa sekali terhadap keseimbangan dan pemantapan jiwa yang sesunguhnya.

Hal ini di maksudkan pula sebagaimana keterangan penting mengenai hal tersebut, dari pada ungkapan salah seorang tokoh ulama ahli tasawuf syeikh qusyairiy dimana beliau berkata :

قال الاستاذ القشيري : المحبة حالة شريفة شهد الحق سبحانه بها للعبد وأخبر عن محبته للعبد، فالحق سبحانه يوصف بأنه يحب العبد، والعبد يوصف بأنه يحب الحق سبحانه … ويفسر الأستاذ القشيري المحبة في هذا الموضع بالإرادة، وعلى هذا الأساس فمحبة الله تعالى للعبد إرادته الخير له، ورحمته به وإنعامه عليه.

Telah berkata syeikh qusyairiy :
Mahabbah adalah tingkat keadaan yang mulia, Allah menyaksikan kecintaannya langsung kepada hambanya dan Allah akan menyaksikan kepada hamba yang lain akan kecintaanNYA kepada hambaNYA, Allah mensifati, bahwa Allah mencintai hambanya dan si hambaNya sangat mencintaNYA.

Syeikh qusyairiy memerikan penafsiran atas kata mahabbah disini dengan “irodah(kehendak)”. Artinya jika Allah mencintai hambaNYA, maka hamba tersebut diberikan kehendak dan keinginan untuk menjalankan kebaikan dan amal sholeh,dan Allah merahmatinya serta memberikan ni’mat kepadanya.

Cinta juga adalah fondasi bagi setiap kecemerlangan amal, sumber bagi segala keindahan dan kesempurnaan, permata paling mahal dalam kehidupan. Siapa pun yang tulus mengenakannya, dia berarti diperkenankan untuk menampung dan menjajakan salah satu sifat hadiratNya.

Dalam bagian ini cinta yang merupakan fondasi bagi terealisasinya penciptaan alam raya ini. Kita lahir atas nama cinta. Sehingga mampu mengenal jati diri sebagai awal dari pemberangkatan pasti pengenalan ruh dan jiwa yang mengahntarkan kepada kemaharibaab Alloh S.W.T sebagai puncak dari tujuan utama.

Dan ranah tersebut rupanya sisi bagian penting jika di pandang sesuai dengan kaidah kelimuan ruh dan jiwa seseorang yang dalam hal ini adalah ilmu tasawuf sebagai penyeimbang, pengatur dalam membersihkan dan menyucikan jiwa jauh dari hal-hal yang membuat rasa cinta dan akal tersebut dari sifat yang menodai juga merusak.

Semoga senantiasa kita semua selalu di bubuhi dengan rasa cinta lillah yang mampu membuka dan mendobrak rahasia-rahasia kehidupan ini juga mampu pula membukakan hati untuk melangkah lebih pasti sesuai dengan penuturan kalam-kalam ilahi sebagai pedoam hidup untuk meraih mahkota di akhirat nanti.

Wallohu A’almu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com