Antara Sholawat dan Berdoa Saat Dua Khutbah Berlangsung Mana Yang Di Prioritaskan

Antara Sholawat dan Berdoa Saat Dua Khutbah Berlangsung Mana Yang Di Prioritaskan

Almunawwar.or.id – Hal yang lazim dan sering di lakukan saat khutbah jum’at sedang berlangsung atau lebih tepatnya ketika duduk antara dua khutbah tersebut sedang berjalan, dan tentunya ada keutamaan khusus yang semestinya di lakukan dan di bacakan baik itu bagi khatib maupun bagi muroqi.

Karena memang selain menjadi salah satu amalan terbaik, melakukan hal yang di anjurkan ketika duduk antara dua khutbah itu mempunyai ketentuan yang semestinya lebih di proyeksikan oleh kedua orang tersebut yaitu khatib dan muraqinya.

Dengan tujuan tidak hanya bisa melaksanakan ibadah shalat jum’at dan khutbahnya sesuai dengan anjuran fiqih, namun ada secara afdhol ada ketertiban khusus yang menyaratkan bagi kedua orang yang di maksud tadi untuk lebih berhati-hati dalam segi pelaksanaannya.

Daripada itulah, rupanya hal tersebut sudah Lazim kita saksikan praktek sholat jum’ah dimasyarakat ketika khotib duduk diantara dua khutbah biasanya muraqqi langsung membacakan sholawat. Sehingga fenomena ini menimbulkan kebingungan.

Sebab disatu sisi kita dianjurkan menjawab sholawat, namun dalam kesempatan yang sama ketika khotib duduk diantara dua khutbah merupakan saat yang mustajabah yang semestinya harus kita gunakan untuk khusuk berdo’a sesuai dengan apa yang di perintahkan dan di anjurkan ketika pelaksanaan amalan ibadah khutbah jum’at sedang berlangsung.

Meskipun di antara kedua amalan tersebut memiliki keunggulan dan keafdholan masing-masing, namun ada baiknya secara tertib itu di lakukan sesuai dengan yang lebih utama, Sebagaimana yang salah satunya di jelaskan oleh beberapa kajian kitab-kitab para Ulama yang menerangkan bahwa :

1. Khotib dianjurkan membaca surat ikhlas, untuk hadirin disunnahkan berdoa. Dasar Hukum bisa di lihat dan di telaah kembali redaksi yang terdapat pada kitab Mughni al Muhtaj 1 halaman 557 :

(ويكون جلوسه بينهما) أي بين الخطبتين (نحو سورة الإخلاص) استحباباً ، وقيل إيجاباً، وقيل يقرأ فيها أو يذكر أو يسكت لم يتعرضوا لـه؛ لكن في صحيح ابن حبان: «أنه كان يقرأ فيها» وقال القاضي : إن الدعاء فيها مستجاب. ويسنُّ أن يختم الخطبة الثانية بقولـه: «أستغفر اللـه لي ولكم»

2. Seorang Muraqqi di anjurkan membaca amalan sesuai dengan tuntunan Ulama shalaf, Sehingga ketika pada saat khatib naik mimbar, muraqqi bisa membaca :

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْت

Hal ini sebagaimana telah lazim dilakukan. Meskipun hal ini termasuk bid’ah, namun bisa dikatagorikan bid’ah hasanah, hal ini tidak diharamkan karena dibaca sebelum khatib berkhutbah. Untuk bacaan muraqqi saat khatib duduk diantara dua khutbah bisa dengan shalawat sebagaimana biasa dilakukan, tasbih, tahlil ataupun istighfar. Dasar Pengambilan Hukum :
– Al Fawakih ad Diwani III halaman 190 :

( تَنْبِيهٌ ) : عُلِمَ مِمَّا مَرَّ مِنْ حُرْمَةِ التَّكَلُّمِ وَقْتَ الْخُطْبَةِ بِشُرُوعِ الْخَطِيبِ فِيهَا عَدَمُ حُرْمَةِ مَا يَقُولُهُ الْمُرْقَى عِنْدَ صُعُودِ الْخَطِيبِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { إذَا قُلْت لِصَاحِبِك وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْت } .وَقَوْلُهُ : ” أَنْصِتْ رَحِمَكُمْ اللَّهُ ” ؛ لِأَنَّهُ يَقُولُهُ قَبْلَ شُرُوعِ الْخَطِيبِ ، نَعَمْ فِعْلُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِدْعَةٌ َمكْرُوهَةٌ قَالَ الْأُجْهُورِيُّ وَعَلَّلَ الْكَرَاهَةَ بِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ عَمَلِ أَهْلِ الشَّامِ ، وَلِي فِي دَعْوَى الْكَرَاهَةِ بَحْثٌ مَعَ اشْتِمَالِهِ عَلَى التَّحْذِيرِ مِنْ ارْتِكَابِ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ حَالَ الْخُطْبَةِ فَلَعَلَّهُ مِنْ الْبِدْعَةِ الْحَسَنَةِ ، وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ لَيْسَ بِمَوْضُوعٍ ، وَأَمَّا مَا يَقُولُهُ الْمُؤَذِّنُونَ عِنْدَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ فَيَجُوزُ ، كَمَا يَجُوزُ كُلٌّ مِنْ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذِكْرِ أَسْبَابِهَا

3. Yang terbaik ucapan bagi seorang Muroqqi, Dimana pada saat khatib naik mimbar, muraqqi bisa membaca :

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْت

sebagaimana telah lazim dilakukan. Meskipun hal ini termasuk bid’ah, namun bisa dikatagorikan bid’ah hasanah, hal ini tidak diharamkan karena dibaca sebelum khatib berkhutbah. Untuk bacaan muraqqi saat khatib duduk diantara dua khutbah bisa dengan shalawat sebagaimana biasa dilakukan, tasbih, tahlil ataupun istighfar. Dasar hukum dan referensi :

( تَنْبِيهٌ ) : عُلِمَ مِمَّا مَرَّ مِنْ حُرْمَةِ التَّكَلُّمِ وَقْتَ الْخُطْبَةِ بِشُرُوعِ الْخَطِيبِ فِيهَا عَدَمُ حُرْمَةِ مَا يَقُولُهُ الْمُرْقَى عِنْدَ صُعُودِ الْخَطِيبِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { إذَا قُلْت لِصَاحِبِك وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْت } .وَقَوْلُهُ : ” أَنْصِتْ رَحِمَكُمْ اللَّهُ ” ؛ لِأَنَّهُ يَقُولُهُ قَبْلَ شُرُوعِ الْخَطِيبِ ، نَعَمْ فِعْلُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِدْعَةٌ َمكْرُوهَةٌ قَالَ الْأُجْهُورِيُّ وَعَلَّلَ الْكَرَاهَةَ بِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ عَمَلِ أَهْلِ الشَّامِ ، وَلِي فِي دَعْوَى الْكَرَاهَةِ بَحْثٌ مَعَ اشْتِمَالِهِ عَلَى التَّحْذِيرِ مِنْ ارْتِكَابِ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ حَالَ الْخُطْبَةِ فَلَعَلَّهُ مِنْ الْبِدْعَةِ الْحَسَنَةِ ، وَالْحَدِيثُ الْمَذْكُورُ لَيْسَ بِمَوْضُوعٍ ، وَأَمَّا مَا يَقُولُهُ الْمُؤَذِّنُونَ عِنْدَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ فَيَجُوزُ ، كَمَا يَجُوزُ كُلٌّ مِنْ التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذِكْرِ أَسْبَابِهَا

Catatan :
Dapat diketahui dari keterangan yang telah lewat akan haramnya berbicara saat khutbah berlangsung serta tidak haramnya ucapan Muraqqi saat naiknya khothib pada mimbar dengan mengambil hadits Nabi Muhammad S.A.W :

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ فَقَدْ لَغَوْت

Dan ungkapannya :

أَنْصِتْ رَحِمَكُمْ اللَّهُ

Karena kesemuanya dilaksanakan sebelum khutbah, namun bila dikerjakan dihadapan khothib maka bidah yang dimakruhkan, al-Ajhuury memberi alasan tentang kemakruhannya.

“Karena yang demikian tidak pernah dinuqil dari nabi dan seorang sahabatpun dari sahabat-sahabat beliau, yang demikian adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Syam”.

Sedang pendapat lain menyatakan “menghukuminya makruh perlu dikaji ulang karena yang dilakukan Muraqqi tersebut adalah bentuk peringatan untuk tidak mengerjakan hal-halyang diharamkan saat khutbah berlangsung, kiranya dapat tergolong tergolong bid’ah yang hasanah, hadits yang tertutur diatas juga bukan hagits maudhu’.”

Sedang yang diucapkan Muaddzin saat khothib duduk antara dua khutbah diperbolehkan seperti bilehnya membaca tasbih, tahlil, istighfar dan shalawat nabi saat adanya hal yang mendorongnya.

3. Amalan yang dianjurkan Saat Khatib Duduk Antara Dua Khutbah

ذُكِرَ في الْعُبَابِ أَنَّهُ يُسَنُّ له قِرَاءَةُ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَقُلْتُ في شَرْحِهِ لم أَرَ من تَعَرَّضَ لِنَدْبِهَا بِخُصُوصِهَا فيه وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ السُّنَّةَ قِرَاءَةُ شَيْءٍ من الْقُرْآنِ فيه كما يَدُلُّ عليه رِوَايَةُ ابْنِ حِبَّانَ كان صلى اللهُ عليه وسلم يَقْرَأُ في جُلُوسِهِ من كِتَابِ اللهِ وإذا ثَبَتَ أَنَّ السُّنَّةَ ذلك فَهِيَ أَوْلَى من غَيْرِهَا لِمَزِيدِ ثَوَابِهَا وَفَضَائِلِهَا وَخُصُوصِيَّاتِهَا

“Disebutkan dalam kitab al-‘Ubâb, bahwa disunahkan bagi khatib membaca Surat al-Ikhlas. Dalam penjelasannya atas kitab tersebut aku mengatakan, aku tidak melihat satu pun ulama yang menjelaskan tentang kesunahan membaca surat al-Ihlas bagi khatib secara khusus saat ia duduk di antara dua khutbah.

Sisi pandang kesunahannya adalah bahwa perkara yang sunah dilakukan khatib adalah membaca ayat suci al-Qur’an saat ia duduk di antara dua khutbah sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits riwayat Ibnu Hibban bahwa Rasulullah membaca ayat suci al-Qur’an dalam duduknya di antara dua khutbah.

Bila demikian sunahnya, maka surat al-Ikhlas lebih utama untuk dibaca dari pada yang lain, karena pahala, keutamaan dan kekhusuan yang dimilikinya melebihi ayat al-Qur’an lainnya”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, Beirut, Dar al-Fikr, 1983, juz 1, halaman 251)

Sementara bagi jamaah Jumat, yang dianjurkan adalah menyibukan diri dengan berdoa. Sebab berdoa pada saat khatib duduk di antara dua khutbah diijabah oleh Allah. Dan yang dianjurkan adalah berdoa dengan suara pelan, agar tidak mengganggu jamaah lainnya. Di sisi lain, anjuran secara umum dalam berdoa adalah dengan suara pelan.

Pakar fiqih madzhab Syafi’i tersebut di kitab yang sama juga mengatakan:

وَيُؤْخَذُ مِمَّا ذُكِرَ عن الْقَاضِي أَنَّ السُّنَّةَ لِلْحَاضِرِينَ الِاشْتِغَالُ وَقْتَ هذه الْجِلْسَةِ بِالدُّعَاءِ لِمَا تَقَرَّرَ أَنَّهُ مُسْتَجَابٌ حِينَئِذٍ وإذا اشْتَغَلُوا بِالدُّعَاءِ فَالْأَوْلَى أَنْ يَكُونَ سِرًّا لِمَا في الْجَهْرِ من التَّشْوِيشِ على بَعْضِهِمْ وَلِأَنَّ الْإِسْرَارَ هو الْأَفْضَلُ في الدُّعَاءِ إلَّا لِعَارِضٍ

Artinya : “Dan dapat diambil kesimpulan dari statemen al-Qadli Husain bahwa sunah bagi hadirin jamaah Jumat adalah menyibukan diri dengan berdoa saat duduknya khatib di antara dua khutbah, sebab telah dinyatakan bahwa berdoa pada waktu tersebut diijabah. Saat mereka berdoa, yang lebih utama adalah dibaca dengan pelan, sebab membaca dengan keras dapat mengganggu jamaah Jumat yang lain dan karena membaca dengan suara pelan adalah cara yang lebih utama dalam berdoa kecuali terdapat kondisi baru datang yang menuntut dibaca dengan keras”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, 1983: 251).

Demikianlah penjelasan menghenai hal ikhwal yang semestinya di perhatikan secara seksama bagi semua para jama’ah termasuk khatib dan muraqinya sebelum di laksanakannya ibadaha shalat jum’at agar sesuai dengan apa yang sudah di anjurkan oleh Baginda Rasulallah S.A.W.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id
piss-ktb.com