Apa Hukumnya Memajang Photo Di Sosial Media? Berikut Tinjauan Hukum Fiqihnya

Almunawwar.or.id – Sudah lazim dan lumrah pada jaman sekarang ini memajang sebuah photo atau postingan dalam sebuah akun media sosial seseorang, terlebih pada seorang wanita yang memang menjadi sorotan utama dalam hal ini tentang bagaimanakah hukum dari pada memajang foto nya tersebut.

Meskipun dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat ada yang memperbolehkan dan ada juga yang melarang, namun satu fenomena padti khusus bagi seorang wanita itu ada hal-hal tertentu yang harus di perhatikan sebelum benar-benar fotonya tersebut mau di postingkan.

Dan tentunya ada alasan tersendiri mengapa hal seperti ini juga ada perbedaan pendapatnya, karena memang terdapat perbedaan tujuan dari pada postingannya tersebut. Nah dari sisi perbedaan inilah ilmu fiqih mencoba memberikan penjelasannya mengenai hal ini.

Tiga keterangan dalam kitab-kitab ini yang mungkin bisa di jadiakn sebagai sebuah referensi untuk bisa mengetahui secara pasti boleh dan tidaknya memajang foto menurut tinjuan hukum fiqih yang redaksinya sebagai berikut :

1. Tafsir Ayatul Ahkam Lisy-Sayis, Juz 1 Halaman 677

ولعلك تريد بعد ذلك أن تعرف حكم ما يسمى بالتصوير الشمسي أو الفتوغرافي فنقول: يمكنك أن تقول: إنّ حكمها حكم الرقم في الثوب، وقد علمت استثناءه نصا. ولك أن تقول: إن هذا ليس تصويرا، بل حبس للصورة، وما مثله إلا كمثل الصورة في المرآة

2. Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz 3 Halaman 301

مهمة [في بيان النظر المحرم والجائز وغير ذلك] يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شيء من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد لا في نحو مرآة

قوله: لا في نحو مرآة) أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها. ويؤيده قولهم لو علق طلاقها برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك. قال في التحفة: ومحل ذلك، كما هو ظاهر، حيص لم يخش فتنة ولا شهوة

3. Fatawi Darul Ifta’ al-Mishriyah, Juz 7 Halaman 220

والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات

Walhasil sebagaimana yang di rangkum dalam penjelasan yang termuat pada situs piss-ktb.com mengenai permasalah seperti itu adalah

Gambar wanita yang berada pada foto itu bisa disamakan dengan gambar yang ada pada cermin, dalam hal sama-sama bukan wujud asli dari bendanya. Jika gambar yang ada dicermin adalah bayangan dari suatu benda, gambar yang dihasilkan dari kamera yang berupa foto adalah pantulan cahaya pada suatu benda. Karena itulah hukum melihat gambar wanita pada foto bisa disamakan dengan melihat gambar pada cermin.

Menurut pendapat ulama’, melihat bayangan wanita yang berada dikaca atau dipermukaan air itu diperbolehkan, karena tidak melihat secara langsung, dan yang dilihat hanyalah bayangan yang menyerupai wanita bukan wujud dari wanitanya.

Hal ini dikuatkan dengan penjelasan para fuqoha’ yang menyatakan, apabila seorang laki-laki menggantungkan talaknya dengan melihat seorang wanita, maka dengan hanya melihat gambarnya dicermin belum dianggap ta’liq talaknya jatuh. Namun diperbolehkannya melihat foto seorang wanita bagi laki-laki yang bukan mahromnya dengan ketentuan ketika melihatnya tidak syahwat, apabila ketika melihatnya syahwat, maka hukumnya harom, dan ketentuan bagi orang yang memasang fotonya adalah tidak memasang foto yang merangsang timbulnya syahwat bagi orang yang melihatnya.

Kesimpulannya, hukum memasang foto wanita sebagai banner PILKADA atau sebagai foto profil akun facebook yang dapat dilihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya, itu diperbolehkan asalkan foto yang dipasang bukan foto yang dapat menarik kepada kemaksatan atau dapat menimbulkan fitnah dan syahwat, seperti foto yang memperlihatkan aurot.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id