Apakah Corak Mukena Termasuk Pakaian Syuhroh Dalam Shalat? Berikut Ulasannya

Apakah Corak Mukena Termasuk Pakaian Syuhroh Dalam Shalat Berikut Ulasannya

Almunawwar.or.id – Salah satu yang masuk syarat syah shalat adalah memakai pakaian yang menutup semua aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan sesuai dengan batasan-batasan yang telah di syariatkan kepada keduanya. Terutama bagi perempuan yang memang seluruh badannya itu adalah aurat terkecuali wajah dan kedua telapak tangan dalam waktu shalat, maka untuk memenuhi syaratnya tersebut di buatlah sebuah perangkat shalat wanita yaitu yang di sebut dengan Mukena.

Banyaknya jenis dan motif mukena saat ini menjadi trend tersendiri tidak hanya bagi pengusaha konveksi namun tentunya dampak bagi wanita muslimah yang menjadi konsumen dari pemasaran mukena tersebut. beragam pula motif mukena tersebut di mulai ada yang polos, kombinasi renda, motif bunga bordir dan masih banyak lagi yang menjadi sebuah kultur dari adanya pengembangan usaha dalam menjadikan mukena tidak hanya sebagai perangkat shalat saja namun ada nilai seni dan ekonomi.

Namun jika di hubungkan dengan fungsi dari mukena tersebut yang menjadi sebuah perangkat shalat wanita itu memang harus memenuhi syarat dalam menutup aurat, terutama dari serat kainnya jangan sampai menerawang apalagi ada bolongnya karena itu sangat mempengaruhi kekhusuan dan syahnya ibadah shalat, Untuk itu membuat jenis mukena yang sesuai dengan syariat islam itu merupakan solusi yang tepat dan paling objektif.

Lalu bagaimana dengan masalah pakaian syuhroh yang merupakan pakaian yang tidak di perbolehkan untuk di pakai saat shalat. Dan apakah corak dan motif mukena itu termasuk pada bagian pakaian syuhroh? Untuk menjawab permasalahan seperti ini mari kita kaji bersama-sama agar sesuai dengan prosedur dan jawaban yang benar sesuai dengan dalil dan keterangan yang berkaitan dengan permasalah tersebut.

Maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang menarik perhatian, baik karena sangat bagusnya ataupun sangat jeleknya. Pakaian syuhroh itu juga bisa berupa pakaian yang memperlihatkan keburukan yang bisa membuat terkenal. Atau pakaian yang untuk sombong, gumede, atau pakaian agar orang yang pura-pura zuhud terkenal akan kezuhudannya, Atau pakaian agar terkenal kesayyidannya, Atau pakaian agar terlihat sebagai Ulama Fuqoha padahal dia orang bodoh. Hukum memakai pakaian syuhroh adalah makruh, bukan haram.

Jadi jika motif pakaian itu umum di pasaran maka bukan termasuk pakaian syuhroh, pakaian syuhroh itu pakaian yang sekiranya orang-orang terkagum-kagum dan menunjuk-nunjuk yang tidak dipakai oleh masyarakat umumnya, kalau mukena mungkin mukena yang bukan seperti biasa dipakai oleh warga indonesia, sehingga orang yang melihatnya kagum dan menunjuk-nunjuk dan ujungnya menggunjing karena pakaiannya. Al-Imam Ibnu Baththal (wafat tahun 404 H) dari kalangan ulama Malikiyah. Beliau berkata:

فالذى ينبغى للرجل أن يتزى فى كل زمان بزى أهله مالم يكن إثمًا لأن مخالفة الناس فى زيهم ضرب من الشهرة

Artinya : “Maka yang seharusnya bagi seseorang adalah berpakaian di setiap jaman sesuai dengan pakaian penduduk jamannya, selagi bukan dosa, karena menyelisihi manusia dalam pakaian mereka termasuk bagian dari ‘kemasyhuran’.” (Syarh Shahihil Bukhari li Ibni Baththal: 9/123).
Demikian pula menurut al-Imam ath-Thabari dari kalangan ulama Syafi’iyah. Beliau menyatakan:

فإن مراعاة زى الزمان من المروءة ما لم يكن إثما وفي مخالفة الزي ضرب من الشهرة

“Sesungguhnya menjaga diri untuk berpakaian yang sesuai dengan penduduk jamannya adalah termasuk sikap muru’ah, selagi bukan perbuatan dosa. Dan di dalam menyelisihi pakaian mereka terdapat semacam ‘kemasyhuran’.” (Fathul Bari: 10/306).

Jadi SYUHROH itu lebih kepada Fashion yang tidak umum dipakai di suatu negeri. Tren berbusana yang lain daripada yang lain, sebagaimana dalam keterangan dibawah :

ثوب الشهرة ليس له كيفية معينة أو صفة معينة وإنما يراد بثوب الشهرة ما يشتهر به الإنسان أو يشار إليه بسببه فيكون متحدث الناس في المجالس فلان لبس كذا فلان لبس كذا وبناء على ذلك قد يكون الثوب الواحد شهرة في حق إنسان وليس شهرة في حق الآخر فلباس الشهرة إذن هو ما يكون خارجا عن عادات الناس بحيث يشتهر لابسه وتلوكه الألسن وإنما جاء النهي عن لباس الشهرة لئلا يكون ذلك سببا لغيبة الإنسان وإثم الناس بغيبته

Artinya : “Baju kemasyhuran tidak mempunyai tata cara tertentu atau sifat tertentu. Yang dimaksud dengan baju kemasyhuran hanyalah pakaian yang menjadikan seseorang terkenal dan mendapatkan isyarat karena pakaian tersebut. Sehingga ia menjadi bahan pembicaraan manusia di majelis-majelis. Fulan memakai baju demikian. Fulan memakai baju demikian. Atas dasar ini, maka suatu pakaian bisa menjadi baju kemasyhuran pada seorang manusia dan tidak menjadi baju kemasyhuran pada orang lain. Maka kalau begitu, pakaian kemasyhuran adalah pakaian yang keluar dari kebiasaan manusia sehingga pemakainya menjadi terkenal dan menjadi buah bibir. Larangan pakaian kemasyhuran hanyalah datang agar ia tidak menjadi bahan ‘ghibah’ orang lain dan juga agar manusia tidak jatuh dalam dosa perbuatan ghibah karenanya.” (Fatawa Nur alad Darb, Ahkam Libasil Mar’ah: 23).

Referensi :
– Faidhul Qodir :

[المناوي، فيض القدير، ٢١٩/٦]
من لبس ثوب شهرة) قال القاضي: الشهرة ظهور الشيء في شنعة بحيث يشتهر به (ألبسه الله يوم القيامة) التي هي دار الجزاء وكشف الغطاء (ثوبا مثله)

– Mirqotul Mafatih :

[الملا على القاري، مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، ٢٧٨٢/٧]
4346 – وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» “. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَابْنُ مَاجَهْ.
ــــــــــ
4346 – (وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ) : أَيْ ثَوْبَ تَكَبُّرٍ وَتَفَاخُرٍ وَتَجَبُّرٍ، أَوْ مَا يَتَّخِذُهُ الْمُتَزَهِّدُ لِيُشْهِرَ نَفْسَهُ بِالزُّهْدِ، أَوْ مَا يَشْعُرُ بِهِ الْمُتَسَيِّدُ مِنْ عَلَامَةِ السِّيَادَةِ كَالثَّوْبِ الْأَخْضَرِ، أَوْ مَا يَلْبَسُهُ الْمُتَفَقِهَةُ مِنْ لُبْسِ الْفُقَهَاءِ، وَالْحَالُ أَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ السُّفَهَاءِ. (فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبُ مَذَلَّةٍ)

Mausuatul fiqih :

لُبْسُ الأَْلْبِسَةِ الَّتِي تُخَالِفُ عَادَاتِ النَّاسِ مَكْرُوهٌ لِمَا فِيهِ مِنْ شُهْرَةٍ، أَيْ مَا يَشْتَهِرُ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيُشَارُ إِلَيْهِ بِالأَْصَابِعِ، لِئَلاَّ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا إِلَى حَمْلِهِمْ عَلَى غِيبَتِهِ، فَيُشَارِكَهُمْ فِي إِثْمِ الْغِيبَةِ.
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشُّهْرَتَيْنِ فَقِيل: يَا رَسُول اللَّهِ وَمَا الشُّهْرَتَانِ؟ قَال: رِقَّةُ الثِّيَابِ وَغِلَظُهَا، وَلِينُهَا وَخُشُونَتُهَا، وَطُولُهَا وَقِصَرُهَا، وَلَكِنْ سَدَادًا بَيْنَ ذَلِكَ وَاقْتِصَادًا (1)
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (2) قَال فِي لِسَانِ الْعَرَبِ: الشُّهْرَةُ ظُهُورُ الشَّيْءِ فِي شُنْعَةٍ حَتَّى يَشْهَرَهُ النَّاسُ، وَيُكْرَهُ لُبْسُ زِيٍّ مُزْرٍ بِهِ لأَِنَّهُ مِنَ الشُّهْرَةِ، فَإِنْ قَصَدَ بِهِ الاِخْتِيَال أَوْ إِظْهَارَ التَّوَاضُعِ حَرُمَ لأَِنَّهُ رِيَاءٌ: مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى بِهِ (3) .
_____
(1) حديث: ” نهى عن الشهرتين. . . . ” أخرجه البيهقي (3 / 273 – ط دائرة المعارف العثمانية) وقال: هذا منقطع.
(2) حديث: ” من لبس ثوب شهرة ألبسه الله ثوب مذلة. . . . ” أخرجه أبو داود (4 / 314 – عزت عبيد دعاس) وحسنه المنذري في الترغيب (3 / 44 – ط دار إحياء الكتب العربية) .
(3) كشاف القناع عن متن الإقناع 1 / 278 – 279، 285، 286 – ط النصر الحديثة. وحديث: ” من راءى راءى الله به. . . “. أخرجه مسلم (4 / 2289 – ط الحلبي)

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id