Apakah Mil’a atau Mil’us Samawati Pembacaan Saat I’tidal?

Apakah Mil'a atau Mil'us Samawati Pembacaan Saat I'tidal

Almunawwar.or.id – Salah satu hal yang penting dalam belajar mengkaji ilmu alat dalam hal ini adalah ilmu shorof dam nahwu adalah mengetahui cara meletakan kedudukan dari pada pembacaan sebuah kalimah, Sehingga dengan mengetahui kedudukan tersebut setidaknya tarkiban kalau dalam bahasa arab di sebutkan itu bisa di ketahui pula sesuai dengan prosedur dan ketetnuan ilmu nahwu sebagai salah satu ilmu literasi bahasa arab.

Salah satunya contoh lapadz mil’u atau mil’asamawati yang ada saat bacaan ketika i’tidal, Dan memang hal ini terkadang bagi sebagian orang di pertanyakan soal tarkib dari lapadz tersebut, apakah di baca mil’a atau mil’u kedua-duanya harus di dasari dengan illat atau alasan yang jelas dan kuat, karena memang jika salah membaca atau meletakan harkat pada sebuah kalimah, maka secara ilmu nahwu itu sangat berpengaruh terhadap artinya.

Begitu pula dengan harkat yang ada pada kalimah mil tadi, Sehingga dari adanya penjelasan dari kajian ilmu nahwu setidaknya ada keterangan yang menjelaskan kedudukan kalimah tersebut. Ada dua hadits yang menerangkan tentang :

فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَامَ قَدْرَ مَا أَقُولُ: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ. (صحيح مسلم (1/ 343

Dalam hadits lain menerangkan :

وَإِذَا رَفَعَ، قَالَ: «اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ» صحيح مسلم (1/ 535

ربنا ولك الحمد ملء السماوات وملء الارض وملء ما شئت من شيئ بعد

Lafadz ملء bisa dibaca rofa’ dengan menjadi sifat / na’at dari lafadz الحمد yang rofa’ sebagai mubtada’. Dan bisa dibaca nasab dengan menjadi hal. Hamzahnya dibaca nashob (fathah), atau rofa’ (dhommah). Ulama beda pendapat mana yang lebih unggul, tapi yang lebih masyhur adalah dibaca nashob. Wallohu a’lam. .

تحفة المحتاج
(مِلْءَ) بِالرَّفْعِ صِفَةٌ وَالنَّصْبِ حَالًا أَيْ مَالِئًا بِتَقْدِيرِ تَجَسُّمِهِ (السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْت مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ)

Keterangan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj menyebutkan ” Kalau di baca rofa’itu tarkibannya menjadi shifat sedangkan kalau di baca nashab itu tarkiban menjadi hal yaitu Maalina Bitaqdiiri Tajassumihi (ssamawaati wa mil al ardi wa mil a Maa syita Min Syain Ba’du)

نهاية المحتاج
(مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْت مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ) أَيْ بَعْدَهُمَا كَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ وَغَيْرِهِمَا مِمَّا لَا يَعْلَمُهُ غَيْرُهُ، وَيَجُوزُ فِي مِلْءِ رَفْعُهُ عَلَى الصِّفَةِ وَنَصْبُهُ عَلَى الْحَالِ: أَيْ مَالِئًا لَوْ كَانَ جِسْمًا

شرح النووي على مسلم ٦ ص ٥٩
قَوْلُهُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ هُوَ بِكَسْرِ الْمِيمِ وَبِنَصْبِ الْهَمْزَةِ بَعْدَ اللَّامِ وَرَفْعِهَا وَاخْتُلِفَ فِي الرَّاجِحِ مِنْهُمَا وَالْأَشْهَرُ النَّصْبُ

Ada keterangan lian yang menerangkan tentang kedudukan lapadz Mil tersebut berikut penjelasannya :

Kalau di baca Mil A itu illatnya:

1. Hal
Ibnu as-Shalah (w. 643 H) menyebutkan bahwa mil’a itu dibaca fathah karena manshub menjadi hal. Beliau berkata:

وقوله: “ملء السموات” هو بكسر الميم منصوباً على الحال أي مالئاً للسموات (3)، والرفع فيه جائز (شرح مشكل الوسيط، 2/ 123)

2. Sifat Masdar Mahdzuf
Berbeda dengan Ibnu as-Shalah (w. 643 H), Mahmud Muhammad as-Subki, Nuruddin Mula al-Harawi al-Qari (w. 1014 H) dan al-Kirmani (w. 854 H) menyebutkan bahwa fathah nya karena mil’a menjadi sifat dari mashdar yang dibuang (mahdzuf). Kira-kiranya begini: “hamdan mil’a”.

Mahmud Muhammad as-Subki menyebutkan:

وملء الأرض بنصب ملء على أنه صفة لمصدر محذوف أي حمدا… (المنهل العذب المورود شرح سنن أبي داود (5/ 286)

Sebagaimana persis diungkap oleh Nuruddin Mula al-Harawi al-Qari (w. 1014 H):

(مِلْءَ السَّمَاوَاتِ) : بِالنَّصْبِ وَهُوَ أَكْثَرُ عَلَى أَنَّهُ صِفَةُ مَصْدَرٍ مَحْذُوفٍ… (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (2/ 712)

Atau komentar dari al-Kirmani (w. 854 H):

ربنا لك الحمدُ ملء السماوات” بالنصب: صفة مصدر محذوف… (شرح المصابيح لابن الملك، 2/ 9)

3. Mashdariyyah
Ada pula yang menyatakan bahwa mil’a itu fathahnya karena menjadi mashdariyyah: Seperti komentar as-Syaukani (w. 1182 H):

مِلْءَ: بِنَصَبِ الْهَمْزَةِ عَلَى الْمَصْدَرِيَّةِ… (سبل السلام (1/ 269)

4. Naz’u al-Khafidz
Sedangkan beberapa ulama menyebutkan bahwa fathahnya mil’a itu karena dibuangnya huruf jar, maka huruf jar nya tak kelihatan jadinya fathah. Jadinya aslinya itu “bi mil’i as-samawati”. Nuruddin Mula al-Harawi al-Qari (w. 1014 H) menyebutkan:

(مِلْءَ السَّمَاوَاتِ)… وَقِيلَ: عَلَى نَزْعِ الْخَافِضِ، أَيْ بِمِلْءِ السَّمَاوَاتِ (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (2/ 712)

Kalau di baca Mil U itu illatnya:

1. Sifat al-Hamdu
Para ulama yang menyebut bahwa mil’u dibaca marfu’, salah satu alasannya adalah bahwa mil’u menjadi sifat dari al-hamdu. Al-hamdu sendiri mubtada’ yang diakhirkan.

Nuruddin Mula al-Harawi al-Qari (w. 1014 H) menyebutkan:

(مِلْءَ السَّمَاوَاتِ)…وَبِالرَّفْعِ عَلَى أَنَّهُ صِفَةُ الْحَمْدِ. (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (2/ 712)

Sebagaimana juga komentar dari al-Kirmani (w. 854 H), beliau menyebutkan:

ربنا لك الحمدُ ملء السماوات… وبالرفع: صفة (الحمد) (شرح المصابيح لابن الملك، 2/ 9)

2. Khabar Mubtada’ Makhdzuf
Para ulama lainnya menyebutkan bahwa marfu’ nya mil’u itu karena menjadi khabar dari mubtada’ yang dibuang (mahdzuf). Sebagaimana as-Syaukani (w. 1182 H) menyebutkan:

مِلْءَ: … وَيَجُوزُ رَفْعُهُ خَبَرُ مُبْتَدَأٍ مَحْذُوفٍ. (سبل السلام (1/ 269)

Lantas yang benar mana? Sejatinya dua-duanya benar. Para ulama pun berbeda pendapat tentang ini. Ada yang menyebut mil’a dan ada yang menyebut mil’u. Mereka pun berbeda pendapat tentang statusnya dalam gramatikal sebagaimana yang tadi di jelaskan.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id