Argumen Nyata Dari Fenomena Hijrah Ke Dunia Maya Lewat Penyeimbangan Privasi

Argumen Nyata Dari Fenomena Hijrah Ke Dunia Maya Lewat Penyeimbangan Privasi

Almunawwar.or.id – Perkembangan dan pergolakan jaman sekarang ini memang menuntut untuk semua orang termasuk kaum muslimin untuk bisa lebih peka terhadap apa yang menjadi problematika publik saat ini demi untuk lebih berperan besar terhadap penyeimbangan penerimaan informasi terkait dengan spekluasi yang terjadi.

Kemudahan dalam mengakses apa yang di butuhkan menjadi alasan tersendiri mengapa banyak orang yang selama ini sangat cenderung dengan kehidupan di dunia maya, Dimana pendapatan akan kemampuan berpikir dalam mengolah dan menerima semua data yang masuk pada diri itu seolah kalah dengan cerahnya berpikir.

Tidak salah memang jika mengargumentasikan seperti itu, karena memang bisa dengan gampanganya semua hal yang di buthkan itu bisa di dapatkan melalui media internet yang selama ini sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang, termasuk dalam hal ini adalah input masalah ilmu agama.

Menenggarai semua itu, tentu sebagai Umat islam haruslah lebih bijak dalam menyikapi, memahami perihal problematika publik saat ini, jangan sampai terseret dengan informasi yang tidak valid tanpa di ketahui sumber utamanya karena itu justru akan menimbulkan berbagai macam gejala fintah.

Terhindar dan menghindari dari hal yang bersifat merusak kepentingan umum itu lebih baik dan jauh bermanfaat, apalagi bisa berperan besar untuk lebih memanfaatkan dunia maya sebagai fasilitas dalam menjaga penyeimbangan kerukunan antar sesama manusia terlebih untuk sesama saudara umat islam sendiri.

Nah lantas bagaimana menyikapi fenomena seperti ini? Sekilas opini yang berangkat dari cara penyikapan para Ulama terhadap tentu akan jauh lebih memberikan porsi kita untuk jauh lebuh berpikir jerniuh lagi dari kemanfaatan dan kemadaharatan media informasi publik yang berkembang luas di dunia maya.

Pergantian tahun baru Islam 1435 Hijriyah yang berdasarkan sistem penanggalan bulan (qamariyah) juga ditandai dengan peningkatan penggunaan internet sebagai media dakwah atau sarana belajar Islam. Berbeda dengan sekitar 50 tahun yang lalu saat internet mulai menjangkau kawasan muslim, para tokoh muslim dunia bahkan sudah terang-terangan mengajak umat Islam memanfaatkan internet untuk kepentingan Islam.

Syekh Sa’ id Ramadhan al-Buthi, ulama asal Syria yang berkomunikasi aktif dengan NU yang meninggal baru-ini di tengah konflik berdarah di negaranya itu, mengibaratkan internet sebagai podium-podium yang berguna untuk menyuarakan kepentingan Islam.

Banyak sekali media Islam dari berbagai aliran berbasis internet bermunculan dan berinisiatif mengembangkan misi keislaman mereka masing-masing. Internet juga menjadi media yang paling efektif bagi persebaran paham-paham keagamaan baru yang cukup gencar dipublikasikan oleh sejumlah media massa seperti paham radikal, liberal, dan aliran-aliran transnasional lainnya.

Tidak untungnya, berbagai informasi tentang gerakan, ajaran dan manuver paham-paham baru ini relatif mudah terpublikasi karena memiliki aspek sensasional dan menjadi santapan industri media dan disebarluaskan melalui internet.

Selain itu, kelompok-kelompok yang ekstrim kiri maupun kanan memang cenderung sangat aktif dalam memanfaatkan media internet untuk mensosialisasikan berbagai ajaran dan aktifitas mereka.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar mengalami peningkatan jumlah pengguna internet yang cukup drastis. Jumlah user internet di Indonesia menurut APJII untuk tahun 2012 mencapai 63 juta atau 25,86% dari penduduk Indonesia. Diperkirakan Pada tahun 2013 jumlah ini akan menjadi 82 juta user, tahun 2014 menjadi 107 dan pada 2015 sudah mencapai 139 juta atau 50 % dari total penduduk Indonesia.

Di sisi lain, pola hidup modern yang didukung dengan fasilitas komunikasi yang serba canggih mendorong orang untuk mempunyai privasi tinggi. Definisi “privat” dalam hal ini lebih kepada keinginan untuk memilih segala hal sesuai dengan selera sendiri dan dengan caranya sendiri.

Di dunia maya apalagi didukung dengan perkembangan mesin pencarian (search engine) yang semakin canggih para peselancar bebas memilih siapa saja yang akan mereka jadikan sebagai guru, atau materi dan informasi apa saja yang lebih cocok untuk mereka. Di dunia maya mereka bebas memilih segalanya, termasuk dalam memilih pelajaran mengenai agama dan tuntunan hidup.

Selain itu memang ahli agama yang ada di sekitar kita tidak selalu siap menjawab semua persoalan dan problem keagamaan yang sedang berkembang. Maka cara yang paling efektif ditempuh adalah mencari sendiri berbagai informasi lewat dunia maya. Di dunia maya mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk menanyakan atau menemukan jawaban masalah-masalah yang remeh bahkan tabu sekalipun.

Masalahnya, berbagai informasi yang terdapat dalam jutaan situs itu seperti hutan belantara. Para pencari informasi bisa menemukan hal yang sangat bermanfaat, namun pada sisi lain data yang didapatkan bisa jadi kurang memenuhi keinginan, atau kurang memadai, bahkan pada titik tertentu bisa menyesatkan dan menjerumuskan.

Menapaki tahun 1435 H, para ahli agama Islam dan para pendakwah tidak bisa mengandalkan forum-forum pengajian, majelis ta’lim atau media ta’lim yang konvensional. Bukan berarti menganjurkan untuk hijrah total ke dunia maya dan meninggalkan pos-pos lama itu, namun sekedar mengingatkan bahwa umat Islam telah memasuki era baru. Masa depan itu sudah terjadi saat ini.

Tidak ada pilihan, berbagai informasi yang disebarkan oleh kelompok-kelompok baru yang sangat aktif memanfaatkan media internet ini perlu diimbangi dengan mengaktifkan situs-situs baru yang lebih moderat, atau jejaring-jejaring sosial dunia maya yang menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian para peselancar dunia maya akan mendapatkan sumber yang pas dan membandingkan beberapa informasi yang mereka dapatkan.

Lebih dari itu, beberapa konten ilmu-ilmu keislaman di dunia maya selama ini tidak sebanding dengan peredaran isu dan gosip yang terkait dengan dunia muslim.

Informasi penting tentang ajaran agama Islam di dunia maya perlu mendapatkan porsi yang memadai, terutama terkait bidang-bidang yang spesifik dan berbagai hasil kajian hukum Islam terkait problematika masyarakat muslim.

Serta kajian-kajian yang menyangkut inovasi dan kontekstualisasi ajaran Islam di era kekinian. Dengan demikian para pencari Islam di internet dapat menemukan informasi atau guru yang tepat.

Sangat di butuhkan filterisasi terhadap manfaat dan madharat dari semakin canggihnya teknologi infoirmasi dan digital saat ini sebagai penampung dari pada arus informasi dan aspirasi publik, yaitu nilai luhur agama sebagai tameng dalam mengembalikan kesejatian seorang muslim yang beriman dan bertaqwa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id