Arti Sesungguhnya Maksud Daripada Makna SAMAWA Pada QS Ar-rum Ayat 21

Arti Sesungguhnya Maksud Daripada Makna SAMAWA Pada QS Ar-rum Ayat 21

Almunawwar.or.id – Sudah sering kita mendengar istilah atau ucapan bagi mereka yang baru saja melakukan akad nikah ataupun yang sudah lama menjalaninya yaitu perkataan “SAMAWA” (Sakinah, Mawaddah dan Warohmah) seolah perkataan tersebut sudah lumrah dikatakan oleh banyak orang.

Namun alangkah lebih indahnya apabila maksud dari pada ucapan tersebut mampu diketahui makna dan tujuannya dan dapat pula di terapkan dalam menjalani kehidupan berumah tangga yang saling mempersatukan dua ideologi menuju kesempurnaan dan kebahagiaan pada satu tujuan.

Sebab banyak rintangan dan tantangan yang mungkin saja bisa menodai, merusak bahkan juga cenderung mengarah kepada hal-hal yang justru akan merubah sahnya akad pertikahan tersebut ketika ucapan ijab qabul saat prosesi pernikahan berlangsung juga ketika mengarungi bahtera rumah tangga.

Akan kiranya semua itu perlu untuk lebih mengerti tujuan dari pada perintah dan anjuran untuk bersegera menikah bagi mereka yang mampu, karena di balik kata “Sakinah, Mawaddah dan warohmah” itu tersimpan rasa kentraman, ketenangan dan juga kedamaian bagi mereka yang mampu melaksanakannya.

Lalu apa maksud arti dari pada ucapan doa yang di maksud? Dalam hal ini para ulama ahli tafsir menerangkannya tentang arti dan makna dari pada Sakinah Mawaddah dan juga Warohmah.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Dari ayat tersebut para ulama Mufassirin menjelaskan arti yang di maksud oleh “Mawaddah Warohmah” yaitu :

1. Dalam tafsir Ibnu Katsir :

{ مودة} وهي المحبة { ورحمة} وهي الرأفة

Artinya : “Mahabbah dan Warohmah itu adalah cinta dan kasih sayang”

2. Dalam Tafsir Qurthuby :

{ وجعل بينكم مودة ورحمة} قال ابن عباس ومجاهد : المودة الجماع، والرحمة الولد؛ وقاله الحسن. وقيل : المودة والرحمة عطف قلوبهم بعضهم على بعض. وقال السدي : المودة : المحبة، والرحمة : الشفقة؛ وروي معناه عن ابن عباس قال : المودة حب الرجل امرأته، والرحمة رحمته إياها أن يصيبها بسوء. ويقال : إن الرجل أصله من الأرض، وفيه قوة الأرض، وفيه الفرج الذي منه بدئ خلقه فيحتاج إلى سكن، وخلقت المرأة سكنا للرجل

Artinya : “Ibnu Abbas dam Mujahid berkata : “Almawaddah itu Jima (Bersetubuh) Warohmah (Anak) begitu juga dengan pendapat imam Hasan, Dan diceritakan pula bahwa “Mawaddah” dalam ayat “Waja’ala Bainakum Mawaddah Warohmah” itu arti dari pada Arrohmah itu adanya cintanya hati mereka-mereka yang melangsungkan pernikahan terhadap yang lainnya, Dan berkata Imam Assadi Almahabbah itu cinta dan warohmah itu adalah kasih sayang, dan di riwayatkan pula dari Ibnu Abbas beliau berkata : “Al mawaddah itu rasa cintanya seorang laki-laki terhadap istrinya, dan Warrohmah itu adalah kasih sayang dari pada laki-laki tersebut terhadap istrinya, dan di katakan juga “Sesungguhnya laki-laki itu asalnya (diciptakan) dari tanah bumi yang di dalamnya terdapat kekuatan bumi dan juga terdapat kebahagiaan di dalamnya yang sangat membutuhkan terhadap ketenangan dan ketentraman dan di ciptakan wanita itu untuk memberikan ketenangan bagi laki-laki tersebut.

3. Al Tahrir wa Al tanwir :

وأن جعل بين كل زوجين مودة ومحبة فالزوجان يكونان من قبل التزواج متجاهلين فيصبحان بعد التزواج متحابين ، وأن جعل بينهما رحمة فهما قبل التزاوج لا عاطفة بينهما فيصبحان بعده متراحمين كرحمة الأبوة والأمومة ، ولأجل ما ينطوي عليه هذا الدليل ويتبعه من النعم والدلائل جعلت هذه الآية آيات عدة في قوله إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون .

Artinya : ” Dan pastinya di jadikan antara suami dan istri itu adanya rasa suka dan cinta, maka kedua orang tersebut (Suami istri) sebelum akad nikah tidak ada mengetahui satu sama lain (rasa suka dan cinta) maka setelah menikah rasa tersebut akan muncul tercipta. Dan pastinya di jadikan antara suami dan istri itu kasih sayang yang dimana keduanya (suami istri) sebelum akan nikah tidak terbersit dalam hatinya rasa sayang, maka setelah akada pernikahan di langsungkan rasa itu mulai tertanam dalam kedua hatinya seperti rasa cinta, kasih sayang ayah dan ibu terhadap anak-anaknya, akan kiranya itu menjadi dalil bagi mereka-mereka kaum-kaum yang berfikir.”

Dari penjelasan tafsir-tafsir di atas tentunya tidak lepas dari fitrah seorang manusia yang sejatinya sangat saling membutuhkan satu sama lain, hal ini sebagai bentuk dari pada manusia yang memiliki odrat sebagai mahluq sosial dan sebagai pemaknaan dari pada keterangan tentang di ciptakannya sebuah perkara itu secara berpasang-pasangan.

Karena manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan-perasaan tertentu terhadap jenis yang lain. Dan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran itu adanya atau ditimbulkan oleh daya tarik yang ada pada masing-masing mereka, yang menjadikan yang satu tertarik kepada yang lain, sehingga antara kedua jenis pria dan wanita itu terjalin hubungan yang wajar.

Selanjutnya untuk memberikan rasa tentram an tenang dalam menjalani hubungannya, maka mereka melangkah maju dan bergiat agar perasaan-perasaan itu dan kecenderungan-kecenderungan antara laki-laki dan wanita itu tercapai. Puncak dari semuanya itu ialah terjadinya perkawinan antara laki-laki dan perempuan itu.

Dan dalam keadaan demikian bagi laki-laki hanya istrinya itulah wanita yang paling cantik dan baik, sedang bagi wanita itu, hanya suaminyalah laki-laki yang menarik hatinya. Sebagaimana maskud dan tujuan dari pada adanya ikatan pernikahan itu. Dimana masing-masing dari mereka merasa tenteram hatinya dengan ada pihak yang lain itu.

Semuanya ini merupakan modal yang paling berharga dalam membina rumah tangga bahagia. Sehingga kemudian dengan adanya rumah tangga yang berbahagia jiwa dan pikiran menjadi tenteram, tubuh dan hati mereka menjadi tenang serta kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan ketenteraman bagi laki-laki dan wanita secara menyeluruh akan tercapai.

Itulah fitrah yang sesungguhnya dari dan bagi seorang manusia yang ingin merasakan kebahagiaan dari adanya tali pernikahan sebagai bentuk untuk meraih dan mencapai keridhoan Alloh S.W.T yang berangkat dari pelaksanaan dan pengamalan salah satu yang menjadi Sunnah Rasululloh S.A.W.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id