Aturan Fiqih Tentang Batasan Sakit Yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan

Aturan Fiqih Tentang Batasan Sakit Yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadhan

Almunawwar.or.id – Ada kemudahan tertentu atau rukhsoh bagi mereka yang sakit dalam melaksanakan ibadah puasa ramadhan terutama sakit yang memang masuk para ketentuan yang sudah di atur dalam sebuah kadiah hukum agama dalam hal ini adalah ilmu Fiqh.

Karena sering sekali orang salah menafsirkan tentang penerangan sakit yang di perbolehkan tidak berpuasa, sehingga secara pemahaman itu kurang tepat karena tidak semua sakit itu di perbolehkan untuk tidak puasa ramadhan, akan tetapi ada batasa-batasan tertentu.

Sebagaimana yang di jelaskan berikut ini tiga batasan penting sakit yang di perbolehkan untuk tidak berpuasa bagi orang yang mengalaminya, seperti yang tercantum dalam kitab Nihayatuzain halaman 189 dengan redaksinya sebagai berikut :

فللمريض ثَلَاثَة أَحْوَال إِن توهم ضَرَرا يُبِيح التَّيَمُّم كره لَهُ الصَّوْم وَجَاز لَهُ الْفطر وَإِن تحقق الضَّرَر الْمَذْكُور أَو غلب على ظَنّه أَو انْتهى بِهِ الْعذر إِلَى الْهَلَاك أَو ذهَاب مَنْفَعَة عُضْو حرم الصَّوْم وَوَجَب الْفطر وَإِن كَانَ الْمَرَض خَفِيفا بِحَيْثُ لَا يتَوَهَّم فِيهِ ضَرَرا يُبِيح التَّيَمُّم حرم الْفطر وَوَجَب الصَّوْم مَا لم يخف الزِّيَادَة وكالمريض الحصادون والملاحون والفعلة وَنَحْوهم

Artinya : “Bagi orang yang sakit itu ada 3 keadaan (kondisi)

1. Jika disalah pahami bahwa sakit tersebut menjadi berbahaya yang membolehkan tayamum maka makruh untuk berpuasa dan boleh tidak berpuasa (ifthor).

2. Jika jelas adanya bahaya yang dimaksud atau menurut persangkaan yang kuat atau udzurnya sampai menjadikannya binasa atau hilangnya manfaat anggota tubuh maka haram untuk berpuasa dan wajib ifthor.

3. Jika sakitnya ringan sekira tidak disalah pahami bahwa sakit tsb berbahaya yang membolehkan tayammum maka haram untuk ifthor dan wajib berpuasa selagi tidak khawatir adanya tambahan pada sakit tersebut.

Itulah penjelasan secara umum perihal sakit yang memang tidak di perbolehkan untuk berpuasa bagi orang yang mengalaminya. Sehingga selain dari pada yang tiga hal tadi, maka tidak ada kemurahan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa karena alasan sakit.

Adapun penjelasan lain mengenai syarat yang mewajibkan seseorang untuk berpuasa itu ada lima perkara seperti yang terlansir dari beberapa kitab fiqh dan berikut redaksinya :

1. Islam, maka orang yang kafir tidak terkena khithob (urusan/tuntutan) berpuasa di dunia. adapun orang yang murtad wajib untuk mengqodlo’ puasa ketika dia kembali ke agama Islam sebagai pemberat atasnya.

2. Taklif yakni sudah baligh dan berakal. adapun anak kecil (shobiy) diwajibkan atas walinya untuk memerintah anak kecil ketika berumur 7 tahun, dan memukulnya ketika meninggalkan puasa pada saat berumur 10 tahun, jika anak tersebut mampu berpuasa.

3. Mampu dengan penjelasan mampu untuk berpuasa, kemampuan ini adakalanya berupa keadaan/kondisi (chissi) adakalanya berupa syara’ dengan penjelasan :

a. Secara khissi : maka tidak wajib berpuasa atas orang yang sudah tua renta, dan orang yang sakit yang sudah tidak ada harapan sembuh.
b. Secara syara’ : Maka tidak wajib atas orang yang haidl dan nifas.

4. Sehat, maka dari itu orang yang sakit tidak wajib berpuasa. batasan sakit yang memperbolehkan tidak berpuasa (fithr) : yaitu keadaan sakit yang dikhawatirkan menyebabkan binasa, atau lama sembuhnya, atau bertambah parah. dan hal ini disebut dengan : machdzurut tayammum { محذور التيمم } , perkara yang perlu diwaspadai yang memperbolehkan tayammum.

5. Iqamah (orang yang bermukim), Maka puasa tidak wajib atas orang yang melakukan perjalanan (musafir) yang menempuh jarak yang jauh (82 KM) dalam perjalana yag diperbolehkan (mubah). disyaratkan bagi diperbolehkannya tidak berpuasa dalam perjalanan, jikalau perjalanan tersebut dilakukan sebelum keluarnya fajar.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id