Bagaimana Jika Khatib Dan Imam Beda Orang? Berikut Penjelasan Hukumnya

Bagaimana Jika Khatib Dan Imam Beda Orang? Berikut Penjelasan Hukumnya

Almunawwar.or.id – Ketika hal yang mungkin bisa terjadi dalam pelaksanaan ibadah itu tidak berjalan dengan keharusannya mungkin itu haruslah sesuai dengan kadiah yang berjalan sesuai dengan koridor hukumnya, salah satu contohnya ketika ada perbedaan orang yang berkhutbah dan yang menjadi imam sholat jum’at.

Lebih tepatnya lagi jika memang masalah seperti ini terjadi, dimana seorang khotib dan imam itu berbeda orang, apakah itu syah menurut hukum? Ataupun jika memang terjadi maka kiat apa yang seharusnya dilakukan oleh para jama’ah sholat jumat agar tetap berada dan berjalan pada ketentuan syariat hukumnya.

Selain daripada itu juga tentunya sangat penting sekali kajian seperti ini untuk lebih diketahui oleh banyak orang, terkait dengan apa hukum serta bagaimana ketentuan yang berjalan jika permasalahan seperti ini harus terjadi meskipun hal yang jarang di temui, berikut penjelasannya.

Dalam permasalahan seperti ini, maka para Ulama madzhab berbeda pendapat sesuai dengan ketentuan yang berjalan pada dasar-dasar dalil, meskipun pada ketentuan hukumnya tersebut adalah sunnah sebagaimana yang diuraikan pada kitab Ad-Durr al-Mukhtaar dengan redaksinya sebagai berikut:

يُسْتَحَبُّ أَنْ لاَ يَؤُمَّ الْقَوْمَ إِلاَّ مَنْ خَطَبَ فِيهِمْ ؛ لأَِنَّ الصَّلاَةَ وَالْخُطْبَةَ كَشَيْءٍ وَاحِدٍ

Artinya :”Disunahkan shalat jumah tidak diimami oleh selain orang yang ditunjuk menjadi khotib, karena shalat jumah dan khutbah seperti sesuatu yang satu.”

1. Menurut Syafiiyyah itu hukumnya boleh sholat jum’at yang imam sholat dan khotibnya tapi makruh

وَيُكْرَهُ ذَلِكَ أَعْنِيْ أَنْ يَكُوْنَ اَلْخَطِيْبُ غَيْرَ اْلإِمَامِ أَفْتَى بِذَلِكَ اَلشَّيْخُ التَّحْرِيْرِ اللَّوْذَعِيُّ مُحَمَّدُ صَالِحِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ اهـ

Artinya : “Kalangan Syafi’iyyah “Makruh hukumnya khotib tidak menjadi imam shalat jumah” (fatwa at-tahriir al-laudzaa’i Muhammad Sholih Bin Ibrahim. (Sulam At-Taufiiq Hal 34 ).

2. Menurut Malikiyyah hukumnya tidak boleh dan batal shalat jumahnya anjuran khotib dan imam jumat satu orang.

Adapun untuk lebih detailnya permasalahan seperti ini tergantung kejadian yang menimpa oleh seorang khotib :

a. Apabila khotib berhadats di tengah-tengah khutbah maka wajib mengulang dari awal khutbah. dan tidak boleh bagi khotib melanjutkan khutbahnya, walaupun dia bersuci dengan cepat, karena khutbah adalah satu kesatuan ibadah oleh karena itu tidak boleh dilakukan dengan 2 kali bersuci.

b. Berbeda hal nya apabila hadastnya terjadi di antara khutbah dan sholat, lalu khotib bersuci dengan cepat maka ini tidak apa-apa. Dan apabila digantikan secara langsung oleh orang yang meneruskan pekerjaannya itu, maka hukumnya sah, karena Istikhlaf hukumnya jaiz sebagaimana yang dhohir.

Walhasil kesimpulannya bahwa pergantiaan posisi menjadi imam adakalanya terjadi saat di pertengahan khutbah, ataupun di antara khutbah dan sholat jum’at juga bisa terjadi di saat melaksanakan sholat jum’at.

Maka jawabannya jika kejadiannya berupa kasus yang pertama, maka disyaratkan pengganti imam telah menyimak perkara yang lewat (yang diuraikan oleh khatib), dari berbagai rukun khutbah.

Dan jika kejadiannya berupa kasus yang kedua, maka disyaratkan pengganti imam telah menyimak seluruh rukun khutbah (jum’at), sebab orang yang tidak mendengarkan khutba bukan tergolong ahlil jum’at, dan sesungguhnya ia baru bisa tergolong ahli jum’at apabila ia telah masuk (melaksanakan) solat jum’at.

Namun jika kejadiannya berupa kasus yang ketiga, maka terbagi atas 3 bagian :
‎1. Penggantian itu terjadi sebelum pengganti imam itu berma’mum kepada imam, maka hal ini terlarang secara mutlaq
‎2. Pengganti imam mendapati imam dalam posisi berdiri yang pertama atau saat posisi ruku’, maka sholat jum’at nya sah baginya dan bagi para jama’ah.

Namun jika imam meminta digantikan kepada orang yang berma’mum dengannya, sebelum imam keluar dari jama’ah, atau ma’mum melangka maju dengan sendirinya, maka hal itu merupakan hal yang jelas (sah solat jum’atnya).

Dan jika tidak (imam tidak minta digantikan/ga ada yang maju) maka wajib bagi para ma’mum mengedepankan 1 orang di antara mereka, dan wajib bagi orang itu melangka maju jika ia menyangka kuat mendapat penyerahan (para ma’mum untuk mengganti imam itu).

‎3. Pengganti imam tidak mendapati imam sebelum imam berhadats, kecuali setelah ruku’ roka’at pertama, dan kejadian seperti ini, tidak diperbolehkan bagi orang itu untuk melakukan pergantian (posisi imam), menurut pendapat imam ibnu hajar.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id