Bagaimana Jika Lafadz An Pada Kalimah Syahadat di Takhfif? Berikut Jawabannya

Bagaimana Jika Lafadz Al Pada Kalimah Syahadat di Takhfif Berikut Jawabannya

Almunawwar.or.id – Lapad An (ان) memang memiliki keterkaitan khusus dengan kalimah lainnya, Selain menjadi an taukid yaitu penguat status sebuah kalimah pembacaan lapadz an itu juga bisa dikatakan berbeda-beda, Apakah itu mau di takhfif sekira di baca An atau di Tsiqol sekira di baca Anna. Nah permasalahan ini memang termasuk pada salah satu kajian kitab ilmu nahwu dan Shorof yang bisa di kaji di Pondok Pesantren.

Salah satu permasalahan tersebut adalah munculnya sebuah pertanyaan dimana jika lapadz An yang terdapat pada kalimah Syahadat itu di baca Takhfif (di sukunkan) apakah itu bisa merubah susunan dan arti kalimah atau bagaimana. Dimana pada Syahadat tersebut terdapat dua lapadz An yang pertama di sukunkan dan An yang kedua pakai Tasydid, Sehingga sangat wajar apabila ada yang bertanya tentang pembacaannya tersebut.

Terlebih Syahadat sendiri merupakan kalimah yang sering di baca dalam amalan wajib seperti Shalat dan yang lainnya, Bahkan Syahadat termasuk pada salah satu rukun Islam, Sehingga sangat wajar dan perlu apabila mengetahui secara jelas tentang kedudukan lapadz An pada kalimah tersebut karena pembacaan dan penulisan yang beda antara yang pertama dengan yang kedua. Nah supaya pas dengan jawabannya mari kita ulas bersama-sama.

Ibnu malik dalam beit alfiyah nya mengatakan :

وَإِنْ تُخَفَّفْ أَنَّ فَاسْمُهَا اسْتَكَنّ *** وَالْخَبَرَ اجْعَلْ جُمْلَةً مِنْ بَعْدِ أَنّ

Jika ANNA ditakhfif = AN, maka isimnya ada tersimpan (berupa dhamir syaen/sya`nu). Dan jumlah sesudah AN jadikan! sebagai khobarnya .

Keterangan : “Apabila ANNA yang hamzahnya berharakat fathah tsb di-takhfif (AN), maka ia tetap beramal namun isimnya berupa dhomir sya`en yang terbuang, dan khobarnya tiada lain adalah kalimat yang ada setelah AN tersebut.

Jadi asalnya : ASYHADU ANNAHU LAA ILAAHA ILLALLAHU. Dhomir “HU” sesudah ANNA dibuang , Karena TAKHFIF dibaca AN kemudian di idghomkan pada huruf LAM sesudahnya

Ma’na Asal : Aku bersaksi Bahwa sesungguhnya suatu perkara ( aw sya`nu) Tiada tuhan yang haq di sembah kecuali Allah.
Ma’na lazim : Aku bersaksi Bahwa sesungguhnya tiada tuhan yang haq di sembah kecuali Allah.

Lengkapnya dalam syahadat pertama ada ISIM ANNA yang dibuang dan ada KHOBAR LAA NAFI JINIS yang dibuang :

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Asalnya

اشهد ان (ه) لا اله ( اي لا معبود بحق في الوجود ) الا الله واشهد ان محمدا رسول الله

Seperti Contoh dalam kalimat :
‘ALIMTU “AN” ZAIDUN QOOIMUN, ada dhamir sya`en yang terbuang taksirannya : ‘ALIMTU “ANNA-HU” ZAIDUN QOOIMUN. (Isimnya berupa dhomir “HU” dan khobarnya adalah kalimat “ZAIDUN QOOIMUN”)
arti secara tarkib nahwu: Aku tahu sesungguhnya “suatu perkara” adalah zaid orang yang berdiri. Arti bebas : Aku tahu bahwasanya zaid adalah orang yang berdiri. (dhamir sya`en = dhomir yang merujuk pada suatu hal, suatu kejadian atau suatu perkara).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id