Beberapa Istilah Penting Mengenai Fiqh Syafi’i Antara Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Beberapa Istilah Penting Mengenai Fiqh Syafi'i Antara Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Almunawwar.or.id – Ada banyak istilah yang berlaku dalam kaidah ilmu fiqh terutama dari kalangan syaf’iiyah, dimana kebijakan mengenai fatwa dan kedudukan hukum sebuah perkara itu berdasarkan dan di nyatakan sesuai dengan keterangan yang bersumber pada Al quran dan Al hadits.

Dengan kebijakan yang di muat sendiri sesuai dengan tingkat kemanfaatan dan kemaslahatan umat menjadi kebijakan tersendiri yang di fatwakan oleh Imam Syafi’i. Sehingga termuatlah dua istilah penting tentang fatwa-fatwa fiqh yang di kemukakan oleh imam syafi’i tersebut yaitu qaul qadim dan qaul jadi.

Di antara qaul qadim dan qaul jadid itu mengandung beberapa hal yang menarik dan perlu diketahui pasti tentang bagaimana kebijakan yang di muat sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan umat, terutama dalam melaksanakan amalan ibadah yang di tinjau dari ilmu fiqih.

Terlebih khusus yang terdapat pada kajian-kajian fiqih Syaf’ii, Dimana selain dua istilah yang di kemukakan tadi terdapat pula keberagaman istilah-istilah lain yang selalu di gunakan dalam penjelasan dan penerangan fiqih Syaf’di yang di jadikan objektfitas dari pada kedudukan hukum itu sendiri, diantaranya :

1. Al-Nash (teks) adalah pendapat Syafi’i sendiri. pendapat beliau ini di sebut nash untuk menempatkan pendapat beliau pada posisi tertinggi dalam internal mazhab.

2. Al-Manshush, pendapat yang kuat menurut penilaian al-Syafi’i. istilah ini di populerkan oleh murid-murid beliau guna mencari legitimasi dari gurunya.

3. Al-Takhrij adalah jawaban al-Syafi’i dalam dua kasus yang hampir sama, tetapi ketentuan hukumnya di terapkan berbeda.

4. Al-Awjuh pendapat murid al-Syafi’i sesuai dengan kaidah dan metodologi yang di kembangkan oleh al-Syafi’i walaupun ending ketetapan hukumnya berbeda dengan pendapat gurunya.

5. Al-Thuruqi adalah pendapat murid-murid al-Syafi’i yang antara satu pendapat dengan yang lain berbeda istilah istilah di atas di pilih secara hirarkhisesuai urutannya. dalam al-Qaoul (jama al-Aqwal) di kenal istilah al-Adzhar, al-Dzohir, dan al-Masyhur. sedang dalam al-Awjuh berkembang istilah al-Ashoh dan al-Shohih yang kekuatannya berlaku secara hirarkhis.

Adanya kebijakan yang biasa di kaji dalam kitab-kitab fiqih madzhab syafi’i ini memang tidak lepas dari kearifan yang di miliki oleh Imam Syafi’i, terlebih mengenai hal ikhwal yang berhubungan langsung dengan pengamalan ibadah berdasarkan dan sesuai dengan kaidah fiqih yang sesungguhnya.

Juga merupakan salah satu dari perluasan keterangan yang berawal dari pada adanya qaul qadim dan qaul jadid, dengan lebih lanjut itu di sesuaikan pula dengan penemuan keterangan yang di jadikan rujukan bagi yang bermadzhab imam Syfi’i dalam menetapkan status hukumnya.

Dari penerangan yang di buat dari kehadiran kebijakan kedudukan yang di kemukakan oleh Imam Syafi’i, maka terlahirlah sebuah intisari kebijakan dan cara pandang imam syafi’i yang tertuangkan dalam beberapa karya karangannya, sekaligus menjadi rujukan bagi fiqh-fqih madzhab lainnya, yaitu :

1. Aqwal yang merupakan istilah ini berarti perkataan Imam Syafi’i.
2. Awjah yaitu perkataan pengikut madzhab Syafi’i.
3. Azhhar yaitu suatu istilah yang dilontarkan Imam Syafi’i apabila terdapat perbedaan antara dua pendapat yang sama-sama kuat, maka yang lebih kuat dinamakan azhhar.
4. Masyhur yaitu pendapat yang kurang kuat menurut Imam Syafi’i.
5. Ashohh yaitu suatu istilah yang dikemukakan pengikut madzhab Syafi’i apabila terdapat perbedaan dua pendapat yang sama-sama kuat, maka pendapat yang lebih kuat dinamakan ashohh.
6. Shohih ialah pendapat yang kurang kuat dari perbedaan pendapat di atas.
7. Nash bila ada kata nash, maka yang dimaksud adalah nash/teksnya Imam Syafi’i dalam suatu masalah.
8. Qoul Qodim adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i ketika berada di Iraq. Di antara para fuqoha’ yang masyhur meriwayatkan pendapat ini adalah Karabisi, Za’faroni, Abu Tsaur, dan Ahmad ibnu Hanbal.
9. Qoul Jadid adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i setelah kepindahannya ke Mesir. Adapun di antara para fuqoha’ yang masyhur meriwayatkan perkataan ini aadalah al-Mazani, Buwaithy, Rabi’ al-Muradi, dan rabi’ al-Jizi. Pada tataran realitanya, qoul (pendapat) ini mendapat prioritas yang lebih daripada qoul qodim, kecuali perihal perpanjangan waktu shalat Maghrib hingga hilangnya mega-mega merah.
10. Wa qila kadza adalah pendapat lemah dari pengikut madzhab Imam Syafi’i.
11. Wa fi qouli kadza adalah pendapat Imam Syafi’i yang lemah menurut pengikutnya.

Adapun istilah qaul qadim dan qaul Jadid itu adalah :
Qaul Qodim maksudnya adalah pendapat imam syafi’i yang di kemukakan ketika beliau tinggal di bagdad irak, sebelum hijrah ke mesir baik pendapat itu berupa tulisan, dalam kitab atau fatwa maupun dalam bentuk yang lain. Al-Syafi’i ketika di Irak menulis kitab berjudul al-Hujjah yang di riwayatkan oleh lima murid beliau : Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H), Abu Tsaur (w. 240 H), al-Za’faroni (w.260H), Karabisi (w.248H), dan Abu Ali al-Hasan (w. 260H).

Sedangkan Qaul Jadid : Pendapat al-Syafi’i ketika beliau bermukim di mesir, baik berupa kitab maupun fatwa,. kitab populer yang beliau tulis di mesir adalah al-Um. perowi kitab ini dan Qaul Jadid yang lain adalah al-Bawaithi (w.231H), al-Muzani (w.260H) dan masih ada enam perowi sekaligus murid al-Syafi’i yang lain.

Dan antara Qaoul Qodim dan Qaoul Jadid dalam fikih syafi’i secara fungsional tak ubahnya seperti nasikh mansukh dalam kaidah hukum islam, walaupun tidak secara mutlak, masih harus di perhatikan korelasi Qaoul itu dengan kemaslahatan umum manusia, Sebagaimana yang saat ini sangat relevan sekali di jadikan dalil dan keterangan umat islam terlebih bagi para penganut paham Syafi’iyyah.

Wallohu A’lamu Bishowabb
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com