Belajar Ilmu Keislaman Dari Tata Cara Yang Terdapat Pada Kitab Ta’lim Al Muta’allim

Hakikat Ilmu dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim

Almunawwar.or.id – Salah satu hal yang menjadi metode sebuah bentuk pola keberagaman kehidupan bermasyarakat adalah dengan mencontoh berbagai literatur dari beberapa redaksi yang di tuangkan dalam kitab-kitab karangan Ulama, dimana pada penerangan dan penjelasannya tersebut sangat luas sekali akan pembendaharaan dari nilai intelektual dan syariah kehidupan.

Akan kiranya dengan itu memaknai setiap peristiwa yang terjadi bahkan sudah menjadi sebuah kultur di dalam sendi-sendi kehidupan ini merupakan salah satu cara tepat untuk lebih meneyimbangkan pola prikehidupan yang beradab sesuai dengan nilai tuntunan syariah islam.

Sebagai literasi kehidupan yang seyogyanya karya-karya para Ulama Salaf dahulu dalam menerjemahkan sebuah pencapaian arti dari kebahagiaan dalam menjalani kehidupan yang di tungkan dalam sebuah redaksi tertulis melalui lembaran-lembaran kitab-kitab kuning sebagai penerangan dan penjelasan yang mudah di pahami oleh semua orang.

Termasuk dari nilai-nilai norma kehidupan ini yang tidak lepas dari tata pola aklhaq mulia sebagai gambaran akan kemulyaan seorang jati diri manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai kholifatu fil’ardi (pemimpin di muka bumi). Sehingga lahirlah sebuah kebijakan penting terkait dengan berkehidupan yang bermoral dan beradab sesuai syariat.

Dan salah satu rujukan penting dalam menjabarkan pola adab tersebut adalah sebuah karya yang termaktub dalam kitab Ta’limul muta’allim yang di jadikan sebagai kajian penting di beberapa majelis dan Pondok Pesantren. Dimana dalam syarah kitab ini terdapat bagaimana cara beradab dan bermoralnya seorang jati diri manusia khususnya dari kalangan pelajar terlebih khusus bagi para santri.

Dalam kitab ini, membentuk karakter siswa dimulai dengan penataan hubungan antara guru dengan siswa sebagai sebuah ikatan ruhaniyah. Karenanya, mengutip pendapat Imam Al Ghazzali, guru ibarat ahlu ruh bagi anak didik. Karenanya, relasi guru dan siswa memerlukan kesepahaman keduanya.

Misalnya, menerapkan pedoman dan rambu rambu sebagai pegangan bersama. Bagaimana kontrak belajar dalam kitab Ta’lim Al Muta’allim?

Teks Ta’lim Al Muta’allim
Jika membaca teks Ta’lim Al Muta’allim, maka akan kita temukan kejanggalan dalam sistem pembelajaran di beberapa sekolah. Beberapa proses pembelajaran telah banyak mengabaikan prinsip etika pembelajaran, antara relasi guru dan murid.

Misalnya, pada kasus ‘Kontrak belajar’ yang selama ini masih jauh dari panggang model pendidikan para calon Ulama. Model pendidikan modern, telah memancing konflik relasi yang harmonis antara guru dan murid atau wali murid. Sebagai contoh, banyak wali yang mengadukan guru ke polisi dengan alasan terjadi tindak kekerasan.

Dalam kitak ta’lim al muta’allim, telah menata relasi guru-murid sesuai dengan etika yang baik yang dapat membentuk keseimbangan kebutuhan fisik dan psikis. Dengan demikian, akan terjadi proses pendidikan yang lebih efektif.

Misalnya, memudahkan guru memberikan pendekatan dari hati ke hati kepada Murid, yang sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya secara utuh.

Dalam kitab Ta’lim ini, guru tidak hanya memiliki fungsi mengajar, namun juga berfungsi memberikan pendampingan secara total dan mendidik hingga murid dapat membentuk kepribadian yang memiliki pandangan dan sikap yang terpuji.

Kitab ta’lim merupakan rujukan penting di pesantren NU, karena telah memberikan contoh pendidikan karakter yang bagus. Hal ini sangat bermanfaat, jika dikembangkan di luar pesantren. Kitab Ta’lim Al Muta’alim ini, memiliki 13 pasal, yang sekarang ini diperhatikan para santri di pesantren.

Para santri banyak yang menjadikannya sebagai pedoman dan menunjukkan bukti kemanfaatan nilai pendidikan yang diajarkannya.

Oleh karena itu, tidak heran telah banyak para santri yang berhasil menyebarkan ilmu agama di pelosok tanah air, yang bemula dari metode kitab ta’lim.

Ada lima hal penting, dalam kitab ta’lim ini yaitu:
1. Belajar harus mencari Ridlau Allah
2. Menata niat yang lurus untuk pengembangan keilmuan
3. Membebaskan diri dari ketidaktahuan dan merendahkan diri tanpa ilmu
4. Melestarikan ilmu yang terkait dengan pandangan, sikap dan perilaku
5. Mensyukuri nikmat akal dan kesehatan yang dianugrahkan oleh Allah.

Yang menerik dari teks ini, manusia secara umum itu berbeda dengan Nabi dan Rasul. Jika Nabi dan Rasul menerima ilmu langsung bersumber dari Hidayah Allah dan melalui Malaikat, maka masyarakat awam menerima ilmu melalui guru. Meskipun demikian, jika proses pembelajaran ini dilakukan dengan baik, maka akan menghasilkan seorang ulama yang istiqamah.

Ta’lim Al Muta’allim Sebagai Kitab Kontrak Belajar
Salah satu hal penting dalam pembelajaran santri (siswa), adalah kontrak belajar. Tujuan kontrak belajar, adalah untuk memotivasi santri (siswa) agar menekuni ilmu yang dipelajari dapat membentuk pandangan, sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan ajaran wahyu dan kenabian.

Karena arti penting kontrak belajar, maka para kiai di lingkungan pesantren telah membuat standar umum kontrak belajar santri. Karya penting dari salah seorang Ulama, yang dijadikan pedoman pembuatan sistem kontrak belajar, adalah kitab Ta’lim Al Muta’allim.

Kitab Ta’lim Al Muta’allim ini, telah dirasakan oleh para santri di lingkungan NU hingga sekarang. Karenanya, beberapa pesantren di lingkungan NU, banyak yang menggunakan kitab ini. Dari pengalaman penulis bertemu beberapa teman di pesantren, banyak yang menegaskan sistem belajar santri masih sangat memerlukan model pembelajaran kitab Ta’lim ini.

Di antara teman yang sudah menjadi Kiai di kampung dan lingkungan masing masing menegaskan, bahwa khazanah klasik yang dikaji di pesantren, jika tidak diinternalisasikan dengan kitab ini, maka akan sulit membentuk cara pandang, sikap dan perilaku santri sesuai dengan modeling para Kiai.

Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan waktu dan zaman, berkah kitab ini, para santri tetap konsisten dengan dua hal:

1. Dengan etika ulama salaf, yang bersumber dari khazanah klasik dan bersandar kepada Nabi Muhammad.
2. Telah termotivasi untuk mendalami dan menginternalisasikan hal hal yang terkait dengan attitude keberagamaan dalam khazanah klasik.
3. Adanya sikap kemandirian para santri, yang ditekankan dalam kitab ta’lim.

Secara psikologis, santri yang mandiri akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam dan permanen. Pandangan dan sikap mandiri santri ini, telah menjadi model para kiai untuk mendorong santri belajar secara mandiri. Dalam teori pebdidikan modern, model yang mampu mendorong santri belajar mandiri disebut kontrak belajar.

Model kontrak belajar ini, yang mendorong para santri mampu belajar tanpa pengawasan para Kiai, di antara: pertama, musyawarah kitab fiqh, kalam, dan tasawuf. Kedua, musyawarah ilmu nahwu. Ketiga, menghafal sendiri tanpa pendampingan langsung Kiai.

Oleh karena itu, jika para santri tidak memiliki komitmen belajar mandiri, maka tidak akan menghasilkan khazanah keilmuan di pesantren yang sangat tinggi.

Meskipun demikian, dalam setiap pesantren memerlukan sosok Ulama yang mampu menjadi modeling atau percontohan bagi para santri. Selain itu, para Kiai diharapkan mampu menjawab persoalan santri dan masyarakat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
arrahmah.co.id