Bentuk Mimbar Rasulullah S.A.W Dan Anjuran Memegang Tongkat Saat Khutbah

Bentuk Mimbar Rasulullah S.A

Almunawwar.or.id – Begitu banyaknya hal yang bisa di jadikan sebagai amalan terbaik dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan anjuran sunah, termasuk dari pada tersedianya sebuah fasilitas ataupun media yang menjadi perantara dan juga tempat di langsungkannya amalan ibadah tersebut.

Seperti dijadikannya kayu ataupun barang lainnya untuk di buat sebagai tempat berkhutbah (Mimbar), Dimana jika menurut kesunahan dalam bentuk dan dari apa mimbar itu sebaiknya bahkan di anjurkan layaknya bentuk mimbar yang di buat pada jaman Rasululllah S.A.W.

Meskipun dalam hal ini tidak harus di samakan, akan tetapi jika memang ingin sekali meraih amalan sesuai dengan sunnah, maka setidaknya ketika akan membuat mimbar tersebut sama persis dengan gambaran dan bentuk mimbar yang ada pada jaman Baginda Rasulullah S.A.W dan para sahabatnya.

Dikatakan demikian karena memang dalam praktek pengamalan berkhutbah itu sendiri secara posisi itu haruslah ada perbedaan antara seorang khotib dan para jama’ah. Hal ini di maksudkan supaya bisa membedakan seseorang yang sedang khutbah dan para jama’ahnya.

Terlebih pada pelaksanaan khutbah jum’at itu sendiri yang memiliki ketentuan dan syarat yang berlaku pada pelaksanaannya itu, tujuannya adalah selain sesuai dengan aturan Fiqh juga mamou meriah hal yang bersifat kesunahan di balik pelaksanaan khutbah itu sendiri.

Bentuk Mimbar Rasululallah S.A.W
Lalu bagaimana bentuk dari mimbar nya Baginda Rasulullah S.A.W? Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam kitab syarah nawawi alal muslim dengan redaksinya sebagai berikut :

حدثنا يحيى بن يحيى وقتيبة بن سعيد كلاهما عن عبد العزيز قال يحيى أخبرنا عبد العزيز بن أبي حازم عن أبيه أن نفرا جاءوا إلى سهل بن سعد قد تماروا في المنبر من أي عود هو فقال أما والله إني لأعرف من أي عود هو ومن عمله ورأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أول يوم جلس عليه قال فقلت له يا أبا عباس فحدثنا قال أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى امرأة قال أبو حازم إنه ليسمها يومئذ انظري غلامك النجار يعمل لي أعوادا أكلم الناس عليها فعمل هذه الثلاث درجات ثم أمر بها رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعت هذا الموضع فهي من طرفاء الغابة ولقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قام عليه فكبر وكبر الناس وراءه وهو على المنبر ثم رفع فنزل القهقرى حتى سجد في أصل المنبر ثم عاد حتى فرغ من آخر صلاته ثم أقبل على الناس فقال يا أيها الناس إني صنعت هذا لتأتموا بي ولتعلموا صلاتي

Dari Abdul Aziz bin Abi Hazim dari bapaknya bahwasanya sekelompok orang mendatangi Sahl bin Sa’ad sedang mereka berselisih pendapat tentang masalah mimbar. Maka Abu Hazim berkata : “Adapun aku, demi Allah, sungguh aku mengetahuinya dari kayu apa mimbar tersebut dibuat dan siapa yang membuatnya. Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada hari pertama beliau duduk di atasnya.” Berkata Abdul Aziz, aku katakan kepadanya : “Wahai Abu Abbas, khabarkanlah kepada kami!” Dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyampaikan kepada seorang wanita –Berkata Abu Hazim : “Sesungguhnya beliau menyebutkan namanya pada hari itu”– : “Temuilah budak kamu yang tukang kayu untuk membuat mimbarku yang di atas mimbar itu aku berceramah kepada manusia.”

Maka budak tersebut membuat mimbar ini tiga tingkatan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh untuk diletakkan di tempat ini. Mimbar tersebut terbuat dari pangkal pohon hutan. Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdiri di atasnya kemudian beliau bertakbir (shalat) dan bertakbirlah manusia yang ada di belakangnya sedang beliau tetap di atas mimbar. Kemudian beliau (ruku’) lalu bangkit dari ruku’ kemudian beliau turun dari mimbar (dengan berjalan mundur) sampai beliau sujud di dasar mimbar kemudian mengulanginya lagi sampai akhir shalatnya. Setelah itu beliau menghadap manusia dan bersabda :“Wahai manusia, sesungguhnya aku lakukan yang demikian agar kalian mengikuti dan mempelajari shalatku.”(HR. Muslim)

قال العلماء : كان المنبر الكريم ثلاث درجات ، كما صرح به مسلم في روايته فنزل النبي – صلى الله عليه وسلم – بخطوتين إلى أصل المنبر ثم سجد في جنبه ، ففيه فوائد منها استحباب اتخاذ المنبر ، واستحباب كون الخطيب ونحوه على مرتفع كمنبر أو غيره ، وجواز الفعل اليسير في الصلاة

ulama’ berkata :” dulu mimbarnya Nabi yg mulia adalah tiga tingkat sebagaimana penjelasan imam muslim dalam riwayatnya : ” kemudian Nabi shollallohu alaihi wasalam turun dengan dua langkah ke dasar mimbar kemudian sujud disebelahnya “.dalam hadis terdapat beberapa faedah dantaranya anjuran membuat mimbar , anjuran adanya khotib dan semisalnya berada di tempat yg tinggi seperti mimbar atau selainnya dan bolehnya gerakan kecil dalam sholat.

قوله : ( فعمل هذه الثلاث درجات ) هذا مما ينكره أهل العربية والمعروف عندهم أن يقول : ثلاث الدرجات ، أو الدرجات الثلاث . وهذا الحديث دليل لكونه لغة قليلة . وفيه تصريح بأن منبر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان ثلاث درجات .

Dari adanya keterangan yang telah disebutkan tadi, jadi sudah jelas bahwa bentuk mimbarnya Rasululoh shollallohu alaihi wasallam adalah tiga tingkat sebagaimana yang telah di riwayatkan oleh pada Ulama Shalafusholih.

Anjuran Memegang Tongkat Saat Khutbah
Jumhur (mayoritas) ulama fiqh mengatakan bahwa sunnah hukumnya khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dijelaskan oleh Imam Syafi’i di dalam kitab al-Umm:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا
t;

Imam Syafi’i RA berkata: Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah saw berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi’ mengabarkan dari Imam Syafi’i dari Ibrahim, dari Laits dari ‘Atha’, bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan”. (al-Umm, juz I, hal 272)

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ

Dari Syu’aib bin Zuraidj at-Tha’ifi ia berkata ”Kami menghadiri shalat jum’at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur”. (Sunan Abi Dawud hal. 824).

As Shan’ani mengomentari hadits terserbut bahwa hadits itu menjelaskan tentang “sunnahnya khatib memegang pedang atan semacamnya pada waktu menyampaikan khutbahnya”. (Subululus Salam, juz II, hal 59)

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ

Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama’ ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain”. (Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz I, hal 180)

Hikmah dianjurkannya memegang tongkat adalah untuk mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya. Demikian dalam kitab Subulus Salam, juz II, hal 59).

Jadi, seorang khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah. Tujuannya, selain mengikuti jejak Rasulullah SAW juga agar khatib lebih konsentrasi (khusyu’) dalam membaca khuthbah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
piss-ktb.com
almunawwar.or.id