Beragam Aqad Yang Termasuk Pada Konstitusi Fiqh Berikut Dengan Pembagiannya

Beragam Aqad Yang Termasuk Pada Konstitusi Fiqh Berikut Dengan Pembagiannya

Almunawwar.or.id – Jadi dan syahnya sebuah perkara itu tergantung pada sisi nilai kepemilikannya yang telah di atur dalam sebuah proses aqad atau pertaliana khusus dari kedua belah pihak untuk saling menyerahkan apa yang menjadi hak miliknya tersebut yang selanjutnya di berikan sepenuhnya ke salah satu piak tersebut.

Nah dalam hal ini, konteknya ilmu fiqih memang menjadi salah satu referensi khusus untuk mengetahui dan lebih memastikan keabsahan dari proses aqad tersebut, juga sebagai landasan dari pada dalam menentukan status perihal yang menjadi objek dari aqad itu.

Sehingga kepastian bisa di dapatkan setelah adanya proses dari aqad itu, apakah sah atau tidak sah sesuai dengan jenis dan macam aqad apakah proses kepemilikannya itu sebagaimana yang telah di atur dalam beberapa kajian ilmu fiqih tentang pembagian aqad menurut pemberlakuannya itu.

Pengertian dan Penjelasan Tentang Aqad
Dari sudut pandang bahasa, aqad memiliki bentuk jama’ dari ‘uqûd. Dalam literatur Arab, sinonim aqad adalah rabth, syaddu, tautsiq, ihkam, quwwah, kumpulan dari dua hal, dan al ‘ahdu. Mengikuti pengertian bahasa ini, aqad seolah memiliki dua sisi pengertian, yakni hissi (inderawi) dan ma’nawi (bathin).

Pengertian indrawinya (hissi), adalah sebagaimana ikatan dua ujung tali. Adapun pengertian ma’nawi dimaknai sebagai ikatan bathin, kontrak sosial, sebagaimana layaknya pernikahan, jual beli, berserikat, dan sebagainya. Persamaan dari kedua sudut pandang ini, titik persamaan dari pengertian aqad adalah berkumpulnya dua benda atau dua hal yang berbeda menjadi satu.

Secara istilah, menurut Ibnu Rajab dalam kitabnya Al-Qaidah li Ibn Rajab: 73 aqad dalam fiqih dimaknai sebagai:

العقد معنيان عام وخاص فالمعنى العام يطلق على كل التزام تعهد به الإنسان على نفسه سواء كان يقابله التزام آخر أم لا، وسواء كان التزاماً دينياً كالنذر أو دنيوياً كالبيع ونحوه وأما المعنى الخاص فيطلق العقد على كل اتفاق تم بين إرادتين أو أكثر على إنشاء التزام أو نقله، فهو لا يتحقق إلا من طرفين أو أكثر، وهذا هو المعنى الغالب عند إطلاق الفقهاء للعقد في الاصطلاح الفقهي

Aqad ada dua makna, yaitu ‘Am dan Khash. Makna ‘Am aqad adalah sesuatu yang diucapkan karena adanya komitmen yang harus dipatuhi oleh diri dari seorang insan, baik ada hubungannya dengan orang lain atau tidak, termasuk urusan agama seperti nadzar, atau murni duniawi saja seperti jual beli dan sejenisnya.

Adapun makna khas dari aqad adalah, suatu upaya menjalin kesepakatan yang sempurna (ittifaq tam) antara dua pihak yang memiliki kehendak atau lebih, agar tumbuh komitmen bersama atau bahan rujukan. Dengan demikian, maka berdasar pengertian khusus ini, aqad hanya terjadi bila ada dua pihak atau lebih yang saling berinteraksi. Pengertian terakhir inilah yang sering dipakai oleh para fuqaha’ untuk memaknai aqad menurut istilah fiqihnya.

Pengertian di atas diringkas oleh Syekh Ibn Himam dalam kitabnya Faidlul Qadir 3/187, bahwasanya aqad diartikan sebagai:

ذكر الكمال تعريف العقد “مجموع إيجاب أحد المتكلمين مع قبول الآخر . أو كلام الواحد القائم مقامهما

Syekh Al Kamal menyebut bahwa definisi aqad adalah “suatu kumpulan antara lafadh ijab dan qabul antara dua orang yang berbeda. Atau bisa juga diartikan sebagai: “Statemen pertama yang menjadi rule (aturan).”

Pendapat lain juga dijelaskan oleh Syekh Muhammad Qadary dalam kitabnya Mursyidul Hairaan, beliau menyatakan:

العقد بأنه “ارتباط الإيجاب الصادر من أحد المتعاقدين بقبول الآخر على وجه مشروع يثبت أثره في المعقود عليه

“Aqad ituu sesungguhnya merupakan rangkaian dari lafadh ijab dari salah satu dua pihak yang saling beraqad yang disertai dengan lafadh qabul pihak yang lain menurut cara-cara yang dibenarkan oleh syara’ serta bersifat mengikat khususnya perihal yang diaqadkan (al-ma’qud ‘alaih).”

Berdasarkan definisi ini, maka bisa ditarik adanya kesimpulan bahwa dalam aqad terdapat unsur-unsur antara lain (1) shighat aqad yang terdiri atas lafadh ijab dan qabul, (2) dua pihak atau lebih yang beraqad, (3) dan perihal yang diaqadkan (al-ma’qûd ‘alaihi).

Urgensi dan Gambaran Praktis Pelaksanaan Aqad
Setiap shighat (pernyataan) aqad memiliki keterikatan hubungan dengan niat. Seseorang ingin melakukan transaksi jual beli, maka keinginannya ini adalah hakikatnya niat. Sementara bentuk transaksinya antara ia dengan pembeli disebut sebagai shighat. Karena ada hubungan yang erat antara niat dan shighat, maka di sinilah titik berangkatnya aqad atau biasa disebut maqashid al ‘aqdi.

Sebagaimana diketahui bahwa niat memegang peranan yang sangat penting dalam hukum fiqih. Suatu kontrak/transaksi dihukumi sebagai benar atau tidak, sah atau tidak, adalah tergantung pada motivasi awalnya (niat). Jika suatu perbuatan dilakukan dengan niat yang tidak dibenarkan oleh Allah SWT, maka perbuatan itu dinilai tidak benar (bathil) di dalam kacamata fiqih/syariah, sehingga otomatis tidak mendapatkan pahala, bahkan dihitung sebagai kejahatan dan perbuatan dosa.

Dalam aspek hukum, para ulama banyak sekali menitikberatkan pembahasan pada niat ini serta akibat-akibat yang mungkin ditimbulkannya. Para ulama juga telah meneliti banyak hal terkait dengan niat serta hubungannya dengan muamalah atau ibadah yang berhubungan dengan fiqih. Seperti dalam aqad transaksi bisnis, hukum keluarga, ibadah dan lain-lain.

Mereka juga telah menentukan status dan posisi hukum suatu amal berdasarkan niat dan tujuannya. Sebagai contoh kaidah fiqih mereka yang terkenal:

الأمور بمقاصدها

Suatu perbuatan adalah tergatung pada maksudnya (niatnya)
Dimana secara umum ada pembagian tiga akad yang menjadi rujukan pasti dari proses terjadinya sebuah transaksi ataupun kepemindah hak milikan sesuatu, hal ini bisa dilihat kitab bugyatul musytarsyidin hal. 123-124 :

[فائدة]: تنقسم العقود ثلاثة أقسام: جائزة من الطرفين، ولازمة منهما، وجائزة من طرف لازمة من الآخر. وقد نظم الكل بعضهم فقال:

Faidah : akad itu terbagi menjadi tiga (3) :
1. Jaizatun Minath Thorofain (Akad yang boleh dari kedua belah pihak (tidak mengikat keduanya) sebanyak 8 aqad :
a. Aqad Wakalah
b. Aqad Wadi’ah
c. Aqad ‘Ariyah
d. Aqad Hibbah sebelum qobld
e. Aqad Syirkah
f. Aqad Ju’alah
g. Aqad Qirodh
h. Aqad Musabaqoh

2. Lazimatun minhuma akad yang lazim (tetap/mengikat) terhadap kedua belah pihak.
a. Aqad Ijaroh
b. Aqad Khulu’
c. Aqad Musaqoh
d. Aqad Washiyah
e. Aqad Bai’
f. Aqad Nikah
g. Aqad Shuluh
h. Aqad Hiwalah

3. Jaizatun min thorfin lazimatun minal aakhor akad yang boleh bagi satu pihak (tidak mengikat) dan tetap bagi pihak yang lain (mengikat).
a. Aqad Dloman
b. Aqad Jizyah
c. Aqad Amanah
d. Aqad Kitabah

Sebagian ulama menyusun ketiganya dalam bentuk mandzumah berikut ini :

من العقود جائز ثمانيه ** وكالة وديعة وعاريه
وهبة من قبل قبض وكذا ** ك شركة جمالة قراضيه
ثم السباق ختمها ولازم ** من العقود مثلها وهاهيه
إجارة خلع مساقاة كذا ** وصية بيع نكاح الغانيه
والصلح أيضاً والحوالة التي ** تنقل ما في ذمة لثانيه
وخمسة لازمة من جهة ** وهي ضمان جزية أمانيه
كتابة وهي الختام يا فتى ** فاسمع بأذن للصواب واعيه

Catatan :

وذكر ذلك أحمد الرملي في شرح الزبد، وزاد على الأوّل الوصاية والقضاء، وعلى الثاني الهبة بعد القبض لغير الفرع والمزارعة والسلم والمأخوذ بالشفعة والوقف والصداق والعتق على العوض، وعلى الثالث هبة الأصل لفرعه والهدنة والإمامة اهـ.

Imam Ahmad Ar-ramliy menyebutkan kesemua itu di dalam kitab syarh az-zubad, dan beliau menambahkan pada pembagian pertama yaitu wishoyah dan qodlo’, Pada pembagian kedua yaitu hibah setelah qobld bagi selain anak, muzaro’ah, salam (pesan), suf’ah, waqof, mahar (mas kawin), memerdekakan dengan ganti serta pada pembagian ketiga : hibah orang tua pada anak, hudnah (gencatan senjata), imamah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id