Berbeda Pendapat, Tidak Harus Dengan Memaki dan Mencaci

Berbeda Pendapat, Tidak Harus Dengan Memaki dan Mencaci

Almunawwar.or.id – Pada dasarnya untuk membuat sebuah keputusan atau fatwa itu harus berdasarkan kedatailan dalil sebagai sumber dalam membuahkan titik temu, dari adanya perbedaan pandangan dan pendapat untuk satu jalur sesuai dengan kata mufakat dari adanya pandangan tersebut. Yang pada intinya masalah ini sudah lumrah terjadi di kalangan masyarakat luas.

Begitu pula dalam menentukan adanya perbedaan pendapat dalam kajian agama baik yang bersifat furu’iyah, maupun yang bersifat asal dalam hal ini aqidah. Terlebih khusus dalam masalah furu’iyah sering sekali perbedaan pendapat menjadi masalah paling krusial dan sulit sekali untuk mencapai kata mufakat dari perbedaan tersebut, hingga lahirlah pertentangan yang mengarah pada perpecahan.

Dan masalah semakin komplek di saat masyarakat awam sangat membutuhkan kepastian dari keabsahan hukum, yang menjadi batu sandungan ataupun masalah itu. Nah, Sebagai solusi terbaiknya adalah dengan berkaca pada Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Apalagi dalam semua cabang ilmu agama, baik Ilmu Al-Quran, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih, Ilmu Ushul Fiqih dan lain-lainnya, pasti selalu terdapat perbedaan pendapat. Para ulama yang menjadi pakar di masing-masing disiplin ilmu memang tidak bisa menghindari perbedaan ini. Tentu masuk akal kalau perbedaan-perbedaan itu juga sulit kita hindari sebagai orang awam.

Tugas kita bukan membuang perbedaan-perbedaan itu dengan memilih yang menurut kita paling benar, lalu yang kita anggap tidak benar kita masukkan tong sampah. Bukan, bukan begitu caranya. Tetapi kita tetap harus menyebutkan semua perbedaan itu, dan silahkan tetap punya pilihan pribadi. Hanya saja etika yang harus kita jaga adalah memahami memang ada perbedaan, tetapi tidak perlu kita menanggapi mereka yang punya pandangan berbeda dengan kita dengan cacian dan makian.

Pada bab cacian dan makian kepada lawan perbedaan pendapat ini sering kali sulit kita buang. Sebab di dalam teks yang kita copas-copas itu banyak sekali terkandung cacian dan makian. Tidak bisa kita edit ulang dan tidak bisa kita otak-atik. Maka cacian dan makian itu semuanya ikut kita sebarkan viral ke tengah publik. Apakah kita bisa berlepas diri dari dosanya? Tentu tidak bisa, sebab kita ikut andil menyebarkan caci maki itu juga.

Maka jangan terlalu mudah main sebarkan materi-materi yang mengandung caci dan maki, kalau tidak mau terkena dosanya juga.

Oleh : KH. Ghozali Al-Mabni