Beretika Seperti Rasulullah S.A.W Dalam Berikhtiar dan Berbisnis

Beretika Seperti Rasulullah S.A.W Dalam Berikhtiar dan Berbisnis

Almunawwar.or.id – Sejatinya setiap orang memiliki hak untuk mengembangkan apa yang menjadi kebutuhan selama ini, Berikhityar merupakan bentuk yang realita dalam merealisasikan semua itu, Daya ikhtiyar setiap manusia memang berbeda-beda tergantung dari prospek hatinya kemana arah tunduknya sebuah kinerjanya, Salah satunya dengan berdagang atau berbisnis yang sesuai dengan syariat Islam. Karena pucuk dari dominasinya rezeki itu datang dengan cara berbisnis atau berdagang.

Meskipun pada pola perdagangan saat ini lebih praktis dan simple di banding dengan cara berdagang masa lampau, Namun sejatinya dalam berbisnis ini secara kriteria itu itu haarus sesuai dengan aqad jual beli menurut syariat Islam, jangan sampai keluar dari pada kaidah tersebut, Karena takut di khawatirkan hasil dari jerih payah dalam berbisnis itu bermuara pada sebuah ketidakpastian akan statusnya bisa saja riba bahkan haram.

Hal inilah yang tentunya harus di perhatikan terlebih dahulu sebelum terjun pada dunia bisnis, terlebih begitu banyak persaingan dari pebisnis lain sehingga tidak menutup kemungkinan adanya tuaian sistem yang keluar dari koridor syariat demi meraih pundi-pundi bisnisnya yang melimpah. tidak pandang halal dan haramnya yang penting bisnis bisa berjalan terus dan dapat menghasilkan input yang melimpah sesuai dengan hasrat dan keinginan.

Jauh sebelum ilmu berdagang modern saat ini berjalan, Baginda Rasulallah S.A.W telah memberikan contoh yang baik dalam etika berbisnis dengan cara beliau dalam menjalankan bisnisnya melalui lima syariatnya yang di jamin akan memberikan nilai lebih tidak hanya bisa mendapatkan sebuah keuntungan, namun jauh lebih bernilai karena lahir sebuah kemanfaatan, keberkahan dan kemaslahata dalam menjalankan bisnis tersebut.

1. Shidiq atau kejujuran
Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Sebagai manusia paling sempurna, Rasulullah SAW sangat intens menganjurkan kejujuran dalam hal apapun, termasuk aktivitas bisnis. Sikap jujur sendiri mempunyai makna yakni selalu melandaskan ucapan, keyakinan, serta perbuatan berdasarkan ajaran Islam. Antara ucapan dan perbuatan tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja.

2. Fathanah atau yang berarti kecerdasan
Sifat fathanah sangat penting dimiliki oleh seorang pebisnis. Sebab, dengan memiliki sifat fathanah, seseorang bisa memahami, mengerti, dan mendalami segala hal yang berkaitan dengan segala macam yang ada dalam dunia bisnisnya. Sifat fathanah dapat dipandang sebagai strategi hidup setiap muslim, karena untuk mencapai sang khaliq, seorang muslim harus mengoptimalkan segala potensi yang diberikan olehnya. Akal (intelektualitas) lah yang menjadi potensi berharga dan termahal yang hanya diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Jadi gunakanlah akal untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam berbisnis. Dan gunakanlah akal untuk membedakan mana yang halal atau haram, dan benar atau salah dalam menjalankan bisnis.

3. Amanah atau dapat dipercaya
Untuk mencapai kesuksesan dalam berbisnis, sifat amanah ini harus dimiliki setiap pelaku usaha. Ada beberapa bentuk amanah dalam berbisnis, salah satunya adalah tidak mengurangi takaran dan timbangan dari barang-barang dagangannya, sehingga tidak merugikan konsumen/pelanggan. Seseorang dikatakan memiliki integritas yang baik bisa dilihat dari sejauh mana orang tersebut dapat memelihara amanah yang diberikan kepadanya. Jadi kalau mau dikenal sebagai pebisnis yang baik, ia harus mampu memelihara integritasnya. Sebab, integritas yang terpelihara akan menimbulkan trust (kepercayaan) bagi nasabah, mitra bisnis bahkan semua stakeholder dalam suatu bisnis.

4. Tabligh yang berarti menyampaikan
Dalam kata lain menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah SWT kepada umat manusia. Dalam urusan bisnis, sifat tabligh juga wajib dimiliki seorang pebisnis. Bagi pebisnis, ia dituntut untuk menjadi pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik, selalu mendengar masukan atau saran dari pelanggan. Seorang pebisnis juga harus mempunyai sikap selalu respek terhadap orang lain, mempunyai pertimbangan yang bijak serta selalu bersahabat kepada setiap orang. Sifat tabligh dalam bisnis juga menuntut untuk selalu berusaha memahami keinginan pelanggan serta mengetahui kebutuhan pelanggan.

5. Istiqamah atau konsisten
Artinya tidak berhenti ketika misal usahanya gagal atau bisnisnya bangkrut, tapi mereka yang mempunyai istiqamah harus terus berusaha untuk bangkit hingga mencapai tujuan yang diinginkannya. dan selalu konsekwen dalam segala situasi baik dalam keadaan beruntung maupun ketika bisnis mengalami penurunan. Istiqomah seseorang dalam menjalankan usahanya itu jauh lebih baik di banding dengan hanya meraih keuntungan semata.

Itulah kelima cara Rasulallah S.A.W dalam menjalankan bisnisnya, Beliau berdagang tidak lepas dari pada kelima aspek tersebut karena selain bisa memberikan keuntungan secara pribadi dengan cara itu semuanya merasa tidak di rugikan malah di berikan keuntungan yang pada akhirnya timbul Ridho yang merupakan puncak dari sebuah transaksi untuk mencapai sebuah keberkahan, kemanfaatan dan kemaslahatan antara kedua belah pihak. Dan ini merupakan realisasi seorang hamba dalam berusaha dan berikhtiyar sebagaimana yang telah di perintahkan oleh Agama. Allah SWT telah memerintahkan hambanya untuk bekerja. Dalam Al-qur’an surat Al-Jumu’ah ayat 10 berbunyi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya :“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumuah : 10)

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id