Berikan Pemahaman Bagi Jama’ah Dari Tiga Gaya Penyampaian Materi Khutbah

Berikan Pemahaman Bagi Jama'ah Dari Tiga Gaya Penyampaian Materi Khutbah

Almunawwar.or.id – Pada prakteknya sebuah amalan penting seperti khutbah ini memang memiliki ketentuan yang sangat berpengaruh sekali terhadap amalan yang berkaitan dengan khutbah tersebut seperti shalat jum’at dan para jama’ah yang menjadi syarat wajib jum’at.

Termasuk ketika seorang khotib menyampaikan materi khutbah itu sendiri dengan gaya penyampaiannya yang berbeda-beda tergantung bagaimana pembawaannya yang mampu di mengerti dan memberikan pemahaman yang jelas akan isi khutbah tersebut bagi para jama’ahnya.

Karena memang sebagaimana para Ulama menjelaskan bahwa ayat atau materi khutbah itu harus di mengerti arti dan tujuannya oleh para jama’ah, dan hal inilah yang menjadikan pentingnya sarat mengetahui terhadap kedudukan khutbah tersebut sebagai bagian dari pada ibadah wajib.

Nah dalam segi penyampaian tersebut ada beberapa cara dan gaya tersendiri sebagaimana yang telah di sampaikan oleh beberapa ulama pendahulu, bahwa ada tiga cara atau gaya dari menyampaikan isi khutbah tersebut yang bisa di lakukan oleh seorang khotib kepada para jama’ah nya.

1. Gayanya mayoritas ulama Syam
Dimana gaya penyampaiannya itu dilakukan dengan suara yang tegas dan keras, dengan intonasi lantang yang dapat menggetarkan jiwa para pendengarnya. Cara ini adalah yang menyerupai gaya dan intonasi Rasulullah saat berkhutbah, Sebagaimana yang ada dalam keterangan sebuah hadits disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ اِحْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

Artinya : “Dari sahabat Jabir, sesungguhnya Nabi saat berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang dan sangat marah. Seakan-akan beliau memotivasi pasukan perang.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

2. Gayanya mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Syam
Dan cara kedua dilakukan dengan mengombinasikan antara nagham (berirama) dan tahqiq (bersuara jelas tanpa irama). Sesekali khatib menyampaikan khutbahnya dengan datar, sesekali ia menyampaikannya dengan nada dan penuh irama. Di antara yang menempuh cara kedua ini adalah al-Khatib Badruddin al-Damasyqi dari kalangan ulama klasik dan Syekh Sirajuddin ibnu al-Shairafi al-Syafi’i dari kalangan ulama kontemporer.

3. Gayanya ulama masyriq, sebagian ulama Mesir dan minoritas ulama Syam
Menurut cara yang pertama ini, khutbah disampaikan dengan penuh irama, dengan suara pelan dan lemah lembut, tidak menakutkan. Cara seperti ini dapat meluluhkan hati para pendengar serta dapat memberikan kenyamanan kepada khatib. Cara pertama ini dipakai oleh Syekh Khatib al-Mushili dari kalangan ulama mutaqaddimin (ulama klasik) dan Syekh Utsman bin Syams dari kalangan muta’akhirin (ulama kontemporer).

Dari penyampaian materi khutbah tersebut itu memang sangat memberikan kesan yang luar biasa bagi jama’ahnya terutama dari segi penerimaan dan pemaknaan yang ada dari materi khutbah itu sendiri. Dan apapun itu gaya cara menyampaikan khutbahnya itu yang penting bisa jauh lebih di mengerti oleh para jama’ah yang menjadi sarat wajib jum’at.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id