Bermuara di Kota Tarim Dengan Segudang Ilmu Dan Keberkahan Sejarah Para Waliyulloh

Bermuara di Kota Tarim Dengan Segudang Ilmu Dan Keberkahan Sejarah Para Waliyulloh

Almunawwar.or.id – Salah satu kota paling bersejarah pada peradaban Islam di masa lalu sampai sekarang adalah sebuah tempat yang terletak di Negara Yaman. Nilai sejarah dari kota ini begitu populer di semua kalangan terlebih untuk umat islam di seluruh dunia.

Karena selain menjadi salah satu pusat peradaban islam, tempat ini juga dikenal dengan gudangnya ilmu yang mampu melahirkan beberapa Ulama besar dengan tingkat keilmuannya begitu alim dan sangat di hormati juga di segani oleh umat islam saat ini.

Adalah Hadhramaut yang merupakan satu dari sekian banyak kota paling berpengaruh terhadap perkembangan dunia islam saat ini, terutama dari segi sejarah dan begitu banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di kota itu sehingga tidak sedikit bagi para pelajar muslim yang menimba ilmu di kota tersebut.

Bisa dikatakan Tarim merupakan kota nya para wali, Bahkan menurut sumber terpercaya menyebutkan bahwa Wali Songo di pulau jawa itu awal mulanya itu dari kota Tarim yang dimana leluhur dari Wali Songo itu berasal dari kota yang terletak di negara Yaman.

Bahkan secara hubungan jika di tinjau secara perjalanan ataupun historis peradaban islam di Nusantara dengan di Tarim itu terbilang sangat erat, Terutama dalam tata pelaksanaan peribadatan, yang kita laksanakan di nusantara sebagian besarnya merupakan pengaruh dari Tarim. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i.

Sama dengan yang ada di Indonesia, Dimana secara mayoritas umat islam di nusantara ini adalah bermadzhab pada Imam Sya’fi’i sehingga sangat sinkron sekali terhadap perjalanan dan tata cara beribadahnya terutama dalam hal ini dalam masalah Fiqhiyah.

Di Kota Tarim ini juga terdapat banyak masjid, jumlahnya kurang lebih mencapai 360 buah, sesuai dengan jumlah hari dalam 1 tahun, selain itu Tarim juga dikenal dengan keilmuan dan ulama, adapun ulama yang saat ini berasal dari Tarim adalah Habib Salim Assyatiri, Habib Abdullah bin Syihab Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al-Jufri. Dan berikut beberapa nama Ulama besar yang berasal dari kota Tarim.

1. Habib Umar bin Hafidz Pemimpin Dar Al-Mustafa
2. Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Imam Masjid Tarim dan Mufti Tarim
3. Syaikh Amjad Rasyid, Cendikiawan Muslim dari Tarim
4. Abdullah bin Umar asy-Syathiri, Cendikiawan Muslim dari Tarim, wafat pada tahun 1942
5. Habib Hasan bin Abdullah asy-Syathiri, Grand Syaikh Tarim, wafat pada tahun 2007
6. Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri, Grand Syaikh Tarim
7. Habib Abdullah bin Muhammad bin Syihab Grand Syaikh Tarim
8. Habib Kazim Ja’far Muhammad as-Saqqaf: Cendikiawan Muslim dan Pengajar dari Tarim
9. Habib Ali Al-Jufri, Cendikiawan Muslim dari Tarim
10. Abdurrahman al-Masyhur

Adapun beberapa bangunan masjid bersejarah yang di bangun beberapa abad silam seklaiguys menjadi saksi bisu terhadap sejarah peradaban islam di kota tersebut, Seperti :

1. Masjid Agung, yang dibangun pada tahun 985-1011
2. Masjid al-Wa’il, dibangun oleh seorang Tabi’in, Ahmad Abbad bin Basyar al-Anshari, dan merupakan masjid tertua di Tarim
3. Masjid ‘Aisy, yang lebih dikenal dengan nama Masjid Abi Hatim
4. Masjid Ba’alwi, yang lebih dikenal dengan nama Masjid Qasam
5. Masjid Al-Fath, dibangun oleh Abdullah bin Alawi al-Haddad
6. Masjid Al-Muhdhar, yang terkenal dengan menaranya

Letak geografis Kota Tarim berdasarkan skala maps Google

Luas Wilayah : 2.894 km²
Jumlah penduduk: 58.523 (2012)
Cuaca: 31 °C, Angin arah Selatan dengan kecepatan 6 km/h, Kelembapan 39%
Waktu setempat: Selasa 06.24
Kegubernuran: Hadhramaut

Oleh sebab itulah sangat wajar apabila kota tarim tersebut menjadi sebuah destinasi paling tepat dan banyak umat islam yang berkunjung ke tempat ini, Sekaligus menambah wawasan keilmuan sembari mengambil hikmah dan keberkahan dari keilmuan para Ulama-Ulamanya.

Ada beberapa alasan mengapa kota tarim tersebut selalu menjadi tujuan utama bagi umat muslim terutama bagi mereka yang ingin menimba ilmu, di antaranya :

1. Doa Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq kepada penduduk Tarim, dengan 3 do’a;

Pertama: Agar Allah tumbuhkan di kota itu para Aulia yang sangat banyak sebagaimana rumput yang tumbuh di musim hujan.
Kedua: Agar air di kota Tarim senantiasa berlimpah.
Ketiga: Agar kota Tarim senantiasa makmur hingga hari kiamat.

2. Andai saja mereka melihat hakikat kota Tarim, maka mereka akan mengatakan, “Surga dunia adalah Tarim” (Imam Ahmad bin Abil Hibb)

3. “Setetes ilmu di Tarim lebih baik dari pada lautan ilmu di luar Tarim” (Syekh Abdurrahman As Segaf)

4. “Andai saja engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi kota Tarim, maka apa yang engkau dapatkan akan lebih banyak daripada yang kau keluarkan” (Habib Abdullah Al-Haddad)

5. “Di pusara Zambal dimakamkan lebih dari 10.000 wali, 80 diantaranya adalah qutub (tingkatan wali tertinggi)” (Syekh Abdurrahman As-Segaf). Jumlah ini sekitar 600 tahun lalu, sebelum wafatnya Imam As-Segaf, Al-Aidrus, Imam Muhdhar, Imam Haddad, mungkin sekarang jumlah aulia’ di Zambal sudah mencapai ratusan ribu bahkan lebih, di Zambal juga terdapat makam makam sahabat Nabi yaitu Ahlu Bader.

6. “Ahlu Tarim bukan malaikat tapi mereka lebih baik dari malaikat” (Habib Ali Habsyi)

7. “Tidak ada tempat di dunia ini yang lebih baik dari Tarim setelah 3 masjid (Makkah, Madinah, Aqsha)” (Habib Abdullah Al Haddad)

8. Syawari’ Tarim Syaikhun liman la syaikha lahu (Sepanjang jalan di kota Tarim adalah guru bagi orang yang tidak mempunyai guru).

9. Kedatanganmu ke Tarim adalah buah panggilan dari Syeh Faqih Muqaddam.

Bagi anda yang sudah di Tarim, jagalah adab-adab di Tarim dan kedepankan sikap husnudzh
an atau berbaik sangka kepada penduduknya.

Cicit dari pengarang simtud durror, shohibul maulid

Kisah Syeikh Kholil Bangkalan Madura ketika menimba Ilmu dan Bermuara di Tarim, Yaman

* Memperingati Haul Maha Guru Ulama Nusantara yang ke 97 : Ketika Adab melambungkan derajat Syaikhona Kholil Bangkalan.

Dulu ketika masih kecil dan belum masuk pesantren, saya bisa dikatakan “awam” pengetahuan tentang sosok Syaikhona kholil Bangkalan. Yang saya ketahui dari para Santri, beliau yang saya ziarahi makamnya bersama ribuan santri Bangkalan pada setiap malam Jum’at itu adalah salah satu “Bujhuk” (buyut) saya. Saya baru mulai mengetahui keagungan nama seorang Syaikhona ketika mondok di PP.

Darul Falah Amtsilati Jepara. Kala itu salah seorang sahabat memperlihatkan buku biografi Syaikhona Kholil berjudul : Surat kepada Anjing Hitam. Bermula dari situ, saya mulai mengetahui sedikit tentang sosok Syaikhona, tentang bagaimana beliau pernah menjadikan Bangkalan sebagai Pusat peradaban ilmu pada zamannya, juga tentang bagaimana beliau dengan “didikan emasnya” berhasil mencetak ribuan ulama yang tersebar di penjuru nusantara.

Kisah tentang kehebatan Syaikhona bahkan masih “membuntuti” saya ketika sampai di Tarim Hadhramaut. Di awal-awal saya belajar disana, Salah satu senior menuturkan bahwa ternyata Syaikhona Kholil memiliki hubungan yang sangat erat dengan Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid. Syaikhona bahkan disebut pernah berjumpa dengan Habib Ali, entah bagaimana caranya beliau sampai ke Seiwun di waktu itu.

Konon suatu hari Habib Ali berkata pada murid-muridnya bahwa sebentar lagi akan datang seorang ulama besar, tak lama kemudian datanglah Syaikhona. Habib Ali menyambut beliau dan keduanya terlihat berbincang-bincang akrab, dan uniknya pada pertemuan itu Habib Ali bercengkrama dengan Syaikhona memakai bahasa Madura.. !!

” Sae Non ? Kakdimmah Salakkah ? ” tanya Habib Ali kepada Syaikhona waktu itu.

Syaikhona dan Habib Ali memang hidup dalam kurun zaman yang sama, mereka berdua juga pernah berguru kepada guru yang sama yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Mufti Syafi’iyah di Mekkah kala itu.

Belakangan saya juga baru mengetahui bahwa ulama-ulama besar sekaliber Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syaikh Ali Gomaa, Habib Salim Assyathiri, Habib Umar bin Hafidz dll memiliki sanad keilmuan yang bermuara kepada Syaikhona Kholil. Itu karena mereka mengambil sanad keilmuan dari Syaikh Yasin Al-Fadani, sedangkan Syaikh Yasin dalam berbagai fan mengambil sanad dari Kh. Ma’sum Lasem dan Kh.

Tubagus Bakri Banten, yang mana keduanya sama sama berguru dan mengambil sanad dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syaikhona bukan hanya bisa disebut sebagai “Syaikhu Syuyukhi Jawa” atau Maha guru dari para ulama Jawa, Syaikhona juga layak disebut sebagai Maha guru dari Ulama-ulama dunia.

* Akhlak dan Adab luhur, kunci keagungan Syaikhona.

Selama ini banyak yang memandang Syaikhona sebagai sosok waliyullah pemilik ribuan karomah, yang seringkali perilakunya tidak bisa dinalar akal
orang-orang biasa. Syaikhona juga dikenal sebagai salah satu Inspirator berdirinya NU, seorang “murobbi” sejati yang murid-murid didiknya berhasil menjadi ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam di seluruh penjuru Nusantara. Disini saya tak akan membahas tentang ribuan karomah dan keajaiban yang Syaikhona miliki, selain karena memang sudah banyak yang menceritakannya, saya rasa terlalu banyak membahas bab karomah hanya akan membuat kita menganggap bahwa Syaikhona adalah sosok yang tak bisa dijangkau dan dijadikan panutan.

Toh padahal tujuan utama kita mengkaji sejarah seorang ulama adalah untuk menteladani tindak-lampahnya. Saya hanya akan menunjukkan satu “kunci”, dimana dengannya Syaikhona bisa meraih dan menggapai semua kemuliaan yang terus mengalir sampai detik ini, dimana dengan “kunci” itu Hingga saat ini nama Syaikhona Kholil masih sangat diagungkan, ribuan peziarah juga memadati “pesarean” Syaikhona tiap harinya.

“Kunci” kemulian itu adalah Adab. Adab mulia Nan luhur adalah hal yang paling menonjol dari sejarah hidup seorang Syaikhona. Dimulai dari masa-masa beliau menuntut ilmu. Ketika nyantri di Pasuruan, Setiap memasuki Kawasan pesantren Sidogiri (setelah berjalan kaki sepanjang 7Km dari Kebon Candi tiap harinya) beliau selalu mencopot sandalnya sebagai wujud ta’dhim terhadap para Masyayikhnya.

Ketika Mondok di Genteng Banyuwangi, Syaikhona berkhidmah penuh kepada sang guru KH. Abdhul Bashir. beliau mengisi bak mandi, mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak untuk Sang kiai. Beliau juga bekerja sebagai pemetik buah kelapa dengan upah 3 sen setiap 80 pohon. dan yang lebih menakjubkan, Syaikhona sama sekali tidak memakai sepeser-pun dari hasil jerih payahnya itu, semua uang penghasilannya beliau persembahkan untuk gurunya, untuk makanan sehari-harinya Syaikhona lebih memilih untuk memungut makanan sisa kiainya.

Ziarah Ke Maqam Pengarang Kitab Sulamut Taufiq

العبد و ما ملك ملك لسيده

” hamba sahaya dan semua yang ia miliki adalah milik dari tuannya ”

Mungkin kalam shufi satu ini bisa mewakili prinsip seorang Syaikhona, “saking” tinggi-nya adab dan tadhim beliau terhadap gurunya, sampai-sampai beliau menganggap dirinya adalah seorang hamba sahaya yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa dihadapan sang Guru.

Pun ketika Syaikhona menuntut ilmu di Mekkah. Ketika berguru kepada Syaikh Muhammad Arrahbini yang merupakan seorang tunanetra, setiap malam Syaikhona sengaja tidur di pintu Musholla Sang guru, dengan harapan beliau akan menginjaknya ketika memasuki pintu musholla, lantas Syaikhona terbangun dan menuntun gurunya menuju pengimaman.

Di Makkah ,Syaikhona yang terkenal memiliki tulisan yang indah sering menulis kitab Alfiah dengan tangannya sendiri lantas menjualnya dengan harga 200 Ryal per-kitab. Seperti ketika mondok di Banyuwangi, Lagi-lagi hasil jerih payahnya itu beliau persembahkan untuk para gurunya, sedangkan untuk makanan sehari-harinya, Syaikhona lebih memilih untuk memungut dan memakan kulit-kulit semangka.

Masih pada fase pendidikan Syaikhona di Mekkah, Adab luhur yang menjadi prinsip beliau disana adalah, beliau sama sekali tidak pernah membuang hajat di tanah Suci Mekkah. Untuk menghormati Kota kelahiran Kanjeng Nabi ini, Syaikhona rela berjalan sejauh 6km keluar batas tanah suci untuk membuang hajat.

Tak cukup sampai disitu, ketika sudah menjadi seorang kiai besar yang disegani dimana-mana. Kala itu beliau pernah menaiki sebuah dokar, ditengah perjalanan beliau bertanya pada si kusir :

“kudanya bagus pak.. Dari mana ? ”

” Dari Bima Kiai.. ” jawab sang kusir.

Mendengar Nama itu beliau teringat akan seorang gurunya di Makkah yg berasal dari Bima. Beliau ingat bahwa gurunya itu mempunyai ratusan ekor kuda. Beliau lantas menyuruh kusir berhenti, Syaikhona lekas saja turun dari dokar itu karena beliau khawatir kuda itu adalah salah satu keturunan dari kuda-kuda yang dimiliki oleh gurunya dari Bima, Syaikh Abdul Ghoni Al-bimawy !!

Dalam menghormati ilmu dan ulama Syaikhona selalu total dan tak pernah tanggung-tanggung. Setiap hal yang berkaitan dengan ilmu, sekecil apapun nisbat-nya akan beliau muliakan. Kisah beliau dengan kuda dari Bima diatas adalah bukti nyatanya.

Beradab tinggi terhadap ilmu dan ulama adalah harga mati bagi Syaikhona, bahkan meski ulama itu adalah murid hasil didikan beliau sendiri. Sebagaimana dikisahkan oleh Kh. Ahmad Ghazali Muhammad dalam kitabnya “Tuhfah Arrawi”, sebelum wafatnya, Syaikhona pernah berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian Hadits yang diasuh oleh santrinya sendiri yaitu Kh. Hasyim Asyari di Tebuireng. Tak hanya itu, Syaikhona bahkan mengambil lalu membalik sandal Kiai Hasyim sebelum beliau turun dari musholla layaknya seorang santri yang mengharap berkah dari gurunya !

Tentunya masih banyak kisah-kisah tentang kehebatan adab dan akhlak Syaikhona yang belum terlacak hingga saat ini. Dan dengan itulah Syaikhona berhasil meraih semuanya, kejayaan, kemuliaan, dan nama agung yang masih sangat semerbak baunya sampai saat ini.

Generasi milenial yang hidup di masakini saya rasa tidak sedang mengalami krisis ilmu, media-media penyalur ilmu di zaman ini bahkan jauh lebih lengkap dibandingkan pada generasi sebelumnya. Perbedaan mencolok yang membuat kita jauh tertinggal dari para salaf kita terdahulu adalah kemerosotan Adab dan akhlak yang makin menjamur pada generasi kita ini. Tentunya faktor utamanya adalah kurangnya pengetahuan akan sosok-sosok Agung yang layak untuk dijadikan panutan.

Dengan tulisan ini saya ingin mengajak untuk tidak memandang kehidupan seorang waliyullah dari “puncak” kemuliaan yang ia miliki. Tapi sudah seharusnya kita menilik jauh ke belakang, hingga kita tahu bagaimana dan dengan apa ia bisa mendapatkan dan meraih semua kemuliaan itu.

Dengan itu kita bisa mengambil benang merah bahwa seorang wali bukanlah mahluk yang tak bisa dijangkau, ia adalah manusia sama seperti kita. Hanya saja Allah menganugrahkan untuknya ribuan keistimewaan. Ketika kita membaca sejarah hidup Syaikhona dari titik nol, dari titik dimana Syaikhona mulai melangkah untuk menjadi seorang ulama yang begitu harum namanya hingga saat ini, kita bisa mengambil banyak sekali nilai-nilai Adab yang bisa kita teladani.

Yang dengan mengamalkan adab-adab luhur itu dalam kehidupan kita- meski mungkin sangat mustahil bagi mahluk seperti kita untuk menjangkau derajat Syaikhona – mudah-mudahan kelak kita bisa diakui sebagai santri beliau “bil ittiba’, dan dikumpulkan bersama beliau kelak bersama para anbiya’ dan awliya’.

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم * إن التشبه بالكرام فلاح

” serupailah mereka jika engkau tidak bisa sama persis seperti mereka * sesungguhnya menyerupai orang-orang mulia adalah kunci keberuntungan.. ”

Semoga kita bisa disampaikan allah kesana di suatu saat nanti. Aamiin Yaa Robbal A’lamiin

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
Pecinta Ulama Nusantara

Tarim
Kota Al Ghanna, Kota As Siddiq, Kota Aulia dan Kota Ulama

ما شاء الله
دبكه يا اهلي مدينه
يا تريم و اهلها
تريم في قلبي
Sanad
@majnun_alqais
* Tulisan ini juga dimuat di Tabloid AsscholMedia edisi Special Ramadhan.
* Ismael Amin Kholil, 18 April, 2019