Bersuri Tauladan Terhadap Jiwa Kepemimpinan Rasulullah S.A.W dari 100 Kemuliaannya

Bersuri Tauladan Terhadap Jiwa Kepemimpinan Rasulullah S.A

Almunawwar.or.id – Dalam membentuk sebuah kemajuan dan kesetaraan khusus pada sebuah lingkungan baik itu yang bersifat wilayah maupun dari sebuah sistem keorganisaian yang secara universal itu merupaka sbeuah wadah aspirasi semua golongan adalah lahirnya sebuah jiwa kepemimpinan yang berlandaskan tanggung jawab.

Karena bagaimanapun juga maju dan mundurnya sebuah wadah tersebut tergantung dari cara berkepemimpinan serta karakter dari pemimpinnya itu sendiri, yang dalam hal ini adalah dalam mengolah, memelihara dan juga secara berkesinambungan mampu berorientasi pada sistem leadership seperti baginda Rasulallah S.A.W.

Bahkan seorang pemimpin tidak hanya di percaya memegang mandat yang di berikan oleh bawahannya, akan tetapi apa yang sudah di mandatkannya tersebut sesuai dengan ketentuan AD ART juga administrasi lainnya itu merupakan amanat yang harus selalu senantiasa di laksanakan.

Baik secara umum dan secara khusus karena hakikatnya kita adalah seorang pemimpin yang kelak nanti akan di minta pertangungjawabannya sesuai dengan ruang lingkup yang di pimpinnya tersebut, jadi sejatinya peran itu sudah seharusnya suri tauladan dari Baginda Rasulallah S.A.W menjadi acuan dan sumber bagi setiap individu umat islam.

Dan berikut di bawah ini adalah landasan penting yang harus senantiasa di prioritaskan bagi seorang pemimipin dalam menjadikan ruang lingkup wilayah kepemimpinannya tersebut yang bersandar dan bersumber pada suri tauladan Rasulallah S.A.W.

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulallah S.A.W
1. a leader obviously must prioritize the needs of his society over his own
Dimana seorang pemimpin hendaknya mendahulukan kepentingan masyarakatnya diatas kepentingan pribadinya. Nabi Muhammad S.A.W sudah mencontohkan poin pertama ini ketika beliau melaksanakan hijrah ke Madinah berbarengan Abu Bakar ra. dan dua orang lainnya, yaitu Amir bin Fuhairah (budak Abu Bakar) dan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi.

Dimana ketika di tengah travelling ke Madinah, beliau berhenti di tenda seorang wanita yang bernama Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah, dia ialah seorang rakyat kecil. Ummu Ma’bad tidak mempunyai sedikitpun makanan ataupun minuman. Sehingga tidak bisa menjamu tamunya.

Lantas Nabi S.A.W menyaksikan seekor kambing betina di samping tenda Ummu Ma’bad, dan meminta izin terhadap Ummu Ma’bad demi memerah susu kambing tersebut. Dan Ummu Ma’bad menyampaikan terhadap Nabi bahwa kambing betina tersbut telah tua dan susah demi mencari makan, sehingga Nggak mungkin sanggup menghasilkan susu. Tapi, Ummu Ma’bad tetap mengizinkan Nabi demi memerahnya.

Sebelum memerah, Nabi berdoa اللهم بارك لها في شاتها. Lantas, kambing betina tersebut menghasilkan tidak sedikit air susu. Di ketika seperti itu, Nabi Muhammad mempersilahkan Abu Bakar dan dua orang lainnya demi minum terlebih dahulu.

Dan Nabi Muhammad ialah orang terakhir yang minum susu hasil perahannya, lalu Nabi bersabda سيد القوم خادمهم وساقيهم آخرهم شربا. Hadits ini sebagai dalil bahwa keputusan strategi seorang pemimpin wajib berorientasi pada kepentingan rakyatnya.

2. Guarding all elements
Artinya mengayomi seluruhnya elemen, Sebagaimana yang disampaikan oleh kiai kami di berbagai forum, bahwa ketika itu Nabi Muhammad S.A.W tidak hanya sebagai pemimpin bagi orang Islam saja, tapi juga pemimpin bagi seluruh orang di Jazira Arab, termasuk di dalamnya ialah golongan Kristen, yahudi, majusi, dan Pagan.

Mereka seluruhnya sanggup hidup berdampingan dibawah komando pemimpin yang bijaksana. Mereka dilindungi oleh Nabi, bahkan Nabi menjelaskan bahwa siapa yang menghabisi kafir yang terikat perjanjian damai (kafir mu’ahad), maka ia Nggak bakal mencium wangi surga dari jarak 40 tahun travelling.

Tapi, wajib dipahami bahwa Islam mengakui keberadaan agama lain bukan artinya mengakui kebenaran agama lain tersebut. Dalam hal ini, kiai kami menyebutkan perbedaan istilah plurality of religions (pluralitas agama) dan religious pluralism (pluralisme agama). Islam mengakui adanya pluralitas agama, tetapi Nggak mengakui pluralisme agama.

3. Non-Discriminative Leadership dan The King of the peasent
Maksudanya Nabi Muhammad S.A.W menganggap sama antara rakyat kecil ataupun orang kaya. Tiap-tiap memperoleh undangan dari rakyat kecil, nabi tetap datang demi menghormatinya. Karena itu merupakan bagian dari pada amanata yang harus di jalankan tanpa tembang pilih dan tanoa melihat status sosial serta kedudukan seseorang.

Seratus Kemulyaan Yang di Miliki Baginda Rasulallah S.A.W
1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.
2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.
4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.
8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.
11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.
12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.
15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.
20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.
21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.
23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?
26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.
27. Menerima undangan para abdi dan budak.
28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.
30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.
33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.
34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.
36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.
37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.
38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.
42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.
46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!
53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.
54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
59. Saat gembira, Rasulullah Saw memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
62. Rasulullah Saw mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.
66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.
70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
71. Duduk dan makan di atas tanah.
72. Tidur di atas tanah.
73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.
75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.
77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.
79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.
80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.
83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.
84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
93. Tidak pernah makan dua model makanan.
94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian : satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
islam-institute.com