Besarnya Pengaruh Status Sosial di Media Sosial Bagi Wujud Jiwa Yang Bersosial

Besarnya Pengaruh Status Sosial di Media Sosial Bagi Wujud Jiwa Yang Bersosial

Almunawwar.or.id – Tidak menutup dan tidak dapat di pungkiri bahwa dalam hal yang mempengaruhi sisi kehidupuan dan cara pandang sesorang dalam menjalankan rutinitas kehidupannya itu adalah adanya perbedaan yang berangkat dan berawal dari sisi status sosial seseorang tersebut.

Dimana pada umumnya kebiasaan orang dari adanya rasa hormat dan segan tergantung pada kedudukan seseorang itu, apakah dari jabatannya, kekayaannya, turunannya padahal hal tersebut justru akan membuat kapasitas dan elektabilitasnya akan jauh lebih menurun, karena semuanya adalah hanya hal dunyawiyah saja yang bersifat sementara.

Terlebih untuk sekarang ini banyak cara untuk orang bisa mempublikasikan kelebihan yang di mlikinya itu, entah dari harta atau kedudukan bahkan jabatan lewat beberapa media sosial saat ini dan semuanya seolah menjadi kebanggaan bagi dirinya ketika semua orang tahu akan apa yang di miliki orang tersebut.

Padahal itu hanya sebatas sementara saja, hanya titipan yang kelak nanti akan di ambil kembali oleh sang pencipta Allah S.W.T, dan hal ini tentunya tidak mencerminkan jati diri seorang muslim yang benar-benar mengerti dan memahami apa itu arti dan kedudukan sosial ketika berinterkasi sosial dengan lingkungan sekitar.

Tidak salah memang apabila publikasi yang di buat lewat beberapa media sosial tersebut sebagai sebuah status atau situasi dan keadaan yang sedang di alaminya, akan tetapi masalahnya jika di barengi apalagi di tunggangi dengan maksud-maksud tertentu itu alangkah tidak baik bahkan tidak indah lagi.

Mengapa dikatakan demikian? Karena perbuatan seorang mukmin yang sholih itu tidak hanya bisa menjaga dirinya, namun senantias memelihara, menjaga juga membaca situasi yang terjadi di lingkungan sekitar jangan sampai orang lain yang mengetahuinya itu merasakan ketidaknyamanan atas apa yang telah di publikasikannya itu.

Namum adanya internet dan media sosial nampaknya mempengaruhi segala hal dalam kehidupan, demikian juga dalam urusan status sosial ini. Dahulu, status sosial bergengsi didasarkan seseorang siapanya siapa, profesinya apa dan berapa banyak duitnya, sedangkan sekarang menjadi lebih terbuka untuk siapa saja, bahkan tidak hanya bagi mereka yang sudah mapan.

Sebab dalam konstruksi kehidupan sosial pada umumnya, status sosial biasanya didasarkan pada jalur keturunan, jabatan, profesi, dan kekayaan. Anak Kiai atau anak pejabat, otomatis akan lebih dihormati. Profesi dokter dan pegawai negeri juga dianggap lebih terhormat. Demikian juga halnya dengan orang kaya, ia akan terkenal di lingkungannya.

Orang hebat bagi kaum ‘zaman now’ adalah mereka yang pengikut nitizennya banyak. Dan faktanya, banyaknya fans juga tergantung “status” di media sosial seperti youtube, twitter, instagram, dan lainnya. Semakin cantik, semakin ganteng, semakin unik, dan semakin rajin mengirim status medsos, maka biasanya semakin banyak follower dan subscriber-nya.

Bahkan banyak orang rela bertaruh nyawa demi mengirimkan status sensasional untuk memuaskan para penonton, fans, pemilik jempol dan menarik hati para calon penggemar. Data Kompas menyebutkan bahwa sampai tahun 2017, ada 257 orang meninggal gara-gara ingin mengambil gambar ‘keren’ melalui gadgetnya. Mereka meninggal karena tenggelam, kecelakaan kendaraan, jatuh dari ketinggian, tersengat listrik, senjata api dan diserang binatang.

Dan siapa yang paling banyak follower, like, atau pemirsanya maka “status sosialnya” juga akan ikut naik karena keren, terkenal, berpengaruh. Dalam tahap ini, media sosial dapat membawa kepada kesejahteraan. Ria Ricis dan Atta Halilintar adalah dua contoh yang bisa kaya raya melalui status-status yang di upload mereka di chanel youtube.

Dalam perspektif psikologi, Abraham Maslow menempatkan kebutuhan status sosial (penghargaan) pada posisi kedua dari atas setelah aktualidasi diri. Status sosial berada diatas kebutuhan jasmani, kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan akan kasih sayang. Menurut Maslow, seseorang “harusnya” berpikir tentang status sosial setelah perutnya kenyang, merasa aman, dan mendapatkan kasih sayang yang cukup.

Jadi, jelas sudah bahwa status (media) sosial adalah sangat penting di jaman sekarang. Semakin banyak yang suka dengan status, semakin banyak pengikutnya, semakin terkenal, bisa diundang kemana-mana, semakin banyak endorsement dan iklannya, lalu bertambah lah pemasukannya. Dan pada waktu yang sama, status sosialnya juga terus naik, hanya dari status (media) sosial.

Fokus pada pembahasan, Tidak masalah memang apa yang di publikasikan lewat media-media sosial ini sebagai wujud dari pemberian informasi, atau berdakwah atau juga saling mendoakan satu sama lain juga sebagai emdia kepetnigngan usaha dan bisnis selama tidak menyalahi aturan koridor hukumnya.

Namun patut untuk di cermati, bahwa niat dan tujuan membuat sebah caption atau status itu harus di evaluasi kembali jangan sampai orang lain merasa tidak nyaman, bahkan geram juga meimbulkan keresahan publik, namun jadikan semua itu sebagai fasilitas terbaik sesuai dengan koridor hukum yang berjalan dalam agama Islam.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
arrahmah.co.id