Bolehkah Mengganti Lafadz Salam Dengan Kalimat Lain? Berikut Penjelasannya

Almunawwar.or.id – Sejatinya dalam islam itu sesuatu yang sudah tersirat ada dalam alquran yang merupakan sebuah kewajiban itu tidak bisa di rubah atau di gantikan dengan sesuatu yang mirip dengan hal yang di maksud, termasuk salah satunya dari menggantikan lapadz salam dengan bahasa ataupun kalimah selain salam.

Dan permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum khususnya bagi masyarakat di abad modern seperti sekarang ini, dimana soal mengatakan sebuah ucapan dengan bahasa bahasa nasional ataupun daerah ketika berjumpa ataupun hanya sekedar mengucapkannya saja itu sudah menjadi sebuah tradisi.

Lalu bagaimana jika ucapan salam yang di maksud lapadznya di ganti dengan kalimah selain salam? Apakah boleh atau sebaliknya, Nah berikut penjelasan mengenai kedudukan kalimah pengganti lapadz salam,

Sebagaimana yang tertuang dalam sebuah keterangan pada kitab Al adzkar halama 280 yang menyebutkan bahwa :

و اما رد السلام فان كان المسلم عليه واحد تعين عليه الرد، و ان كانوا جماعة كان رد السلام فرض كفاية عليهم فان رد واحد منهم سقط الحرج عن الباقين و ان تركوه كلهم اثموا كلهم وان ردوا كلهم فهو النهاية فى الكمال و الفضيلة كذا قاله اصحابنا وهو ظاهر حسن

الاذكار ٢٨٠

Artinya : “Karena salam telah ada aturanya dalam Al-qur’an,hadis bahkan ijma’, maka dalam menjawabnya tidak boleh asal-asalan. Apalagi merubahnya dgn kata-kata yg tidak layak.Pengubahan ini haram hukumnya.Diterangkan dalam kitab Ihya juz IV dalam bab as-sama.’

Dan ingatlah kata-kata salam yang baik adalah kata-kata yg salam yang di ajarkan oleh Rosululloh S.A.W, bukan kata selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam.Hukum mejawab salam adalah wajib ketika yg memberi salam adalah seorang yang muslim.

Kewajiban membalas ini berlaku mesti kita sedang berkumpul dengan yang lain. Hanya saja ketika seorang memberi salam kepada suatu jama’ah, maka menjawabinya adalah fardlu kifayah dan yang lebih utama adalah manakala kumpulan jamaah itu menjawab semua. Sebagaimana yang tertuangkan dalam Al quran surat Annis ayat 86 :

و اذا حييتم بتحية فحيوا باحسن منها او ردها ان الله كان على كل شئ حسيبا (النساء : ٨٦)

Artinya :”Apabila kamu diberi suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu “.Q.S. An-Nisa :86

Salam adalah suatu do’a dan cita-cita atas keselamatan dari bahaya serta tetapnya kemanfaatan-kemanfaatan atasnya, dan ketika seseorang mengucapkan salam pada seseorang,maka wajibla atas orang itu membalasnya dgn yg lebih baik, Yakni dgn menambahkan lafadz warohmatulloh bahkan yag lebih baik lagi dengan menambahkan kata wabarokatuh.

Dengan mengacu keterangan tersebut, maka mengganti lafad salam adalah itu hukumnya tidak boleh.karena hukum asal membalas salam adalah dari alqur’an dan diatur oleh hadis dan ijma’. Dengan mengganti lafadz salam dengan kata kata yang jelek berarti kita telah melakukan kesalahan yg besar. Dan ini termasuk maksiat lisan

و كل قول يحث على محرم او بفتر عن واجب وكل كلام يقدخ فى الدين او فى احد من الانبياء او فى العلماء او العلم او الشرع او القران او فى شئ من شعائر الله…………و ترك رد السلام عليك الواجب.

سلم التوفيق ٧١_٧٢

Walhasil karena salam telah ada aturanya dalam Al-qur’an,hadis bahkan ijma’, maka dalam menjawabnya tidak boleh asal-asalan. Apalagi merubahnya dengan kata-kata yang tidak layak. Pengubahan ini haram hukumnya, sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Ihya juz IV dalam bab as-sama’

و لا يجوز فى القران الا التلاوة كما انزل ) و تلقفه الخلق عن السلف فتصرفه ومده و الوقف و الوصل و القطع فيه على خلاف ما تفتضيه التلاوة و التجويد حرام

Artinya : “Tidak diperkenankan membaca Al-quran kecuali seperti yang diturunkan seperti yang diikuti orang2 salaf, Maka membaca panjang, Berhenti, Menyambung, Memutuskan dengan berbeda dengan tuntunan tajwid adalah haram.”

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id