Buka Dan Hidupkan Pintu Hati Dengan Melaksanakan Salah Satu Amalan Terbaik Ini

Buka Dan Hidupkan Pintu Hati Dengan Melaksanakan Salah Satu Amalan Terbaik Ini

Almunawwar.or.id – Tentunya sebagai salah satu bagian penting bagi sisi kehidupan manusia adalah kebahagiaan dan ketenangan hati yang memang selama ini menjadi tujuan pasti dari butir-butir kehidupan itu, Sehingga perisai dalam menemukan unusr kebahagiaan hati tersebut hendaknya di cari dan di jalani.

Namun terkadang berbagai masalah yang menimpa sisi hidup dan kehidupan seseorang itu seolah menjadi halangan dan rintangan yang hendaknya di lalui dengan penuh kesabaran dan proses untuk bisa menerima segala hal tersebut meskipun pada kenyataannya itu sangat sulit untuk di terima.

Dari sisi inilah sudah semestinya kita sebagai umat islam perlu mencermati segala hal yang membuat hati ini seolah mati, tiada bergairah dalam menggapai dan membangun cita-cita yang semestinya dapat di capai dan di raih dengan penuh seksama sebagaimana yang sudah masuk pada planing masa depan.

Sehingga penatapan kembali tentang bagaimana cara menghidupkan hati itu adalah salah satu tujuan hidup seseorang, sebagaimana yang telah banyak di anjurkan oleh mereka para Ulama dalam menemukan hakikat kebahagiaan hati yang sesunguhnya, bahkan hati terasa begitu hidup.

Salah satunya adalah sebuah ungkapan yang di kemukakan oleh Ulama Ahli Tasawwuf Syeikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

لَا عَمَلَ أَرْجَى لِلْقُلُوبِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ

Artinya : “Tiada amal yang paling dapat diharapkan dapat menghidupkan hati dari pada amal yang kehadirannya hilang darimu dan wujudnya hina di sisimu.”

Tidak ada amal yang lebih bisa menghidupkan hati manusia dari pada amal yang dilakukan karena Allah, amal yang tidak lagi di hiraukan lagi keberadaannya oleh pelakunya. Amal yang oleh pelakunya dianggap sebagai amal biasa saja, bukan sebagai amal yang luar biasa. Bahkan ia akan menganggapnya sebagai amal kecil dan tidak memperhatikannya lagi karena sibuk melakukan amal-amal lain demi kepatuhan terhadap Allah S.W.T.

Merujuk penjelasan Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, kalam hikmah Ibn ‘Athaillah di atas berdasarkan firman Allah S.W.T:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (المؤمنون: 60)

Artinya : “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. al-Mu’minun: 60)

Mereka inilah orang-orang yang selalu diliputi rasa ketakutan terhadap Allah karena merasa amal-amalnya tidak ada yang sempurna, banyak cacat dan kurangnya. Mereka sangat khawatir amalnya tidak diterima dan justru khawatir akan mendapatkan siksa karenanya.
Kisah ‘Aisayah Ra

Suatu kali, ‘Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah maksud ‘orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu)’ adalah para pencuri, pezina dan peminum minuman keras yang takut terhadap Allah?” Beliaupun menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ. (رواه الترمذي)

Artinya : “Tidak wahai Putri Abu Bakar as-Shiddiq, namun mereka adalah orang-orang yang (gemar) berpuasa, shalat dan sedekah sementara mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka inilah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi)

Demikianlah di antara mental orang yang gemar melakukan kebaikan adalah melakukan kebaikan disertai harap-harap cemas amalnya tidak akan diterima karena berbagai cacat dan kekurangannya. Sebab dengan seperti itu, justru ia akan berhati-hati dalam beramal dan berupaya melakukannya sesempurna mungkin. Tidak menganggap amalnya sebagai hal yang luar biasa namun justru mengkhawatirkan diterima atau tidaknya. Amal seperti inilah yang justru dapat menghidupkan hati dan diterima di sisi Allah Swt.

Tanda Diterima dan Tidaknya Amal
Dalam kontek ini al-Imam Zainul Abidin R.A menyatakan:

كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَفْعَالِكَ إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ رُؤْيَتُكَ فَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يُقْبَلْ لِأَنَّ الْمَقْبُولَ مَرْفُوعٌ مَغِيبٌ عَنْكَ، وَمَا انْقَطَعَتْ عَنْهُ رُؤْيَتُكَ فَذَاكَ دَلِيلٌ عَلَى الْقَبُولِ

Artinya : “Segala amal dari amal-amalmu bila pandanganmu masih berkaitan dengannya maka hal itu menunjukkan amalmu tidak diterima, sebab amal yang diterima itu diangkat dan sirna darimu; sedangkan amal yang pandanganmu sudah terputus darinya maka itu menunjukkan atas diterimanya (amalmu di sisi Allah).”

Semoga senantiasa dapat terbuka kembali apa yang menjadi penghalang dalam perisai hati untuk menemukan kembali kehidupan hati yang sesungguhnya. Amiiin

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
aswajamuda.com