Bukti Keotentikan Nabi S.A.W Sudah Mengenal Nusantara DiKala Masih Hidup

Bukti Keotentikan Nabi S.A

Almunawwar.or.id – Hadir dan berdirinya agama islam tercinta di bumi nusantara ini tidak lepas dari penyebaran dakwah yang di lakukan oleh beberapa kalangan mulai dari para pedagang (gujarat), Ulama sampai dengan orang-orang islam yang datang dari timur tengah.

Kedatangan Agama yang membawa rahmat untuk semua Alam di bumi pertiwi ini memang tidak serta merta dapat di terima oleh beberapa kalangan, khususnya ketika harus berhadapan dan beradaptasi langsung dengan nilai adat istiadat yang ada di daerah tersebut.

Sehingga membutuhkan nilai kultur yang murni dan kebijakan pasti ketika menyampaikan risalah dakwahnya tersebut, dalam artian seorang Da’i itu harus mengetahui adat dan kebiasaan yang di miliki oleh beberapa daerah di tanah air yang sangat begitu banyak sekali.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan mulai mampunya masyarakat pribumi menerima ajaran Agama Islam tersebut maka penyebaran risalah yang di bawa oleh para Ulama tersebut mulai merambah ke sejumlah daerah yang ada di tanah air.

Dan terbukti Islam yang dulunya adalah agama minoritas, sekarang menjadi sebuah agama yang mayoritas di Negara Kesatuam Republik Indonesia tercinta ini, bahkan menjadi negara yang memiliki penduduk paling banyak beragama islam se dunia di banding dengan negara islam lainnya.

Hal ini tentunya tidak lepas dari nilai perjuangan para Ulama terdahulu dalam menyampaikan risalah dakwahnya walaupun satu ayat, sekaligus menjadi semangat juang yang telah di kobarkan baginda Rasulullah S.A.W dalam menyampaikan dkwah kepada umat-umatnya di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Sabda nabi yang mengatakan “Ballighu anni walau ayatan,” Sampaikanlah apa yang dari aku walau hanya satu ayat”, membangkitkan semangat para sahabat menyebarkan Islam ke berbagai daerah. Dalam catatan berikut, terdapat beberapa sahabat Nabi dalam perjalanannya pernah menginjakkan kaki di bumi nusantara.

Estapet nilai kultur dakwah nabi dalam menyebarkan ajaran Islam ini di teruskan oleh perjuangan para Shahabat, Tabi’in Thabi’at sampai dengan para Ulama dengan hari kiamat datang kelak, dan bukti dari pada Nabi sudah mengenal bumi nusantara yang bawa oleh beberapa tokoh islam berikut ini.

1. Ali bin Abi Thalib
Pada tahun 625 M, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia. (Sumber keterangan ini bisa dicek pada: H. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

2. Ja’far bin Abi Thalib
Sekitar tahun 626 M, beliau berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia. (Sumber: Habib Bahruddin CV), 1929, h.33).

Selain itu, terdapat sebuah artefak ditemukan bahwa saat itu di indonesia tepatnya dipulau jawa yaitu Kalingga , Jepara. Pada tahun 640-650 M ada sebuah kerajaan yang ratunya adil bernama Ratu Sima dan anaknya bernama Ratu Jayisima.

Ketika itu ada seorang dari tanah arab yang diutus pada masa Utsman bin Affan dari Bani Umayyah. Bani Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama (Muawiyah bin Abu Sofyan) setelah masa Khulafar Rasyidin.

Lalu singgah di Kalingga-Jepara, kemudian Ratu Sima dan Putrinya masuk Islam dan memerintah dari tahun 646-650 M, dan Islam belum berkembang saat itu, lalu ditandai adanya surat-menyurat atau korespondesi antara Ratu Sima pada masa Bani Umayyah untuk di datangkan guru-guru untuk berdakwah. Surat-surat mereka sekarang tersimpan di Museum Granada, Spanyol.

3. Ubay bin Ka’ab
berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. Sekitar tahun 626 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35).

4. Abdullah bin Mas’ud
Berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar tahun 626 M. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay archipelago).

5. Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il
berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar tahun 625 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38).

6. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi
Berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929; T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968).

Kemudian pada tahun 718 M, Khalifah UMAR BIN ABDUL AZIZ & anaknya ABDUL MALIK telah menginjakan kaki di Palembang – Sumatra Selatan. Pada waktu itu Palembang dipimpin oleh seorang Raja Sriwijaya yang bernama RAJA SRINDRA VARMA.

Dakwah Umar bin Abdul Aziz membuat Raja tertarik lalu masuk Islam. Terbukti di makamnya tertuliskan kalimat Lailla hailallah Muhammad Rasulullah. Lalu di tandai juga ada surat-menyurat (korespondensi) antara Raja Srindra Varma dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga untuk meminta didatangkannya para guru untuk berdakwah. Yang kini surat-suratnya di simpan di Museum Oxford, inggris.

7. Salman Al-Farisi
Beliau berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah sekitar tahun 626 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39).

Sejarawan Agus Sunyoto dalam bukunya “Atlas Walisongo” mengatakan, dari berita-berita yang bersumber dari Dinasti Tang, yang menyebutkan bahwa pada tahun 674 Masehi saudagar-saudagar Tazhi (Arab) sudah berdatangan ke Kalingga, merupakan satu petunjuk bahwa pada awal zaman Islam, saudagar-saudaga muslim dari Arab sudah mulai masuk wilayah nusantara.

Namun sampai berabad-abad kemudian sejarah mencatat bahwa agama Islam di Nusantara lebih banyak dianut oleh penduduk asing asal Cina, Arab dan Persia. Berdasarkan catatan Marcopolo yang kembali dari Cina lewat laut teluk Persia menyebutkan bahwa pada abad ke-13 hanya penduduk asing itu yang memeluk Islam di Nusantara. Catatan dari juru tulis Cheng Ho juga menyebutkan hal serupa. Tahun 1433 penduduk pribumi Nusantara masih belum memeluk Islam.

Agus Sunyoto mencatat bahwa pada akhir abad ke-15 hingga paruh abad ke-16 ada sekumpulan tokoh penyebar Islam, Wali Songo. Inilah tonggak terpenting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Disebut tonggak karena kedatangan saudagar muslim sejak tahun 674 M tidak serta merta diikuti dengan penyebaran agama Islam kepada penduduk pribumi. Tetapi setelah Walisongo, Islam berkembang pesat di Nusantara cukup membutuhkan waktu sekitar 50 tahun.

Hal ini karena Wali Songo sangat paham dengan kultur sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa menjadikan dakwah Islam yang mereka sampaikan diterima secara baik. Mereka masuk bisa lewat wayang, kidung-kidung lokal yang dimodifikasi dengan subtansi Islam. Banyak hal yang membuktikan bahwa dakwah yang mereka lakukan sangat fleksibel sehingga tanpa harus kehilangan subtansinya, orang merasa tertarik dengan Islam.

Agus Sunyoto dalam atlasnya itu menyebutkan ada sepuluh tokoh Wali Songo. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Syekh Siti Jenar, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Raden Patah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
gusdurfiles.com
almunawwar.or.id