Cara Menyenangkan Istri Lahir Batin, Memuliakan Suami Dengan Memuliakan Keluarganya

Cara Menyenangkan Istri Lahir Batin, Memuliakan Suami Dengan Memuliakan Keluarganya

Almunawwar.or.id – Dalam menyatukan satu kerukunan pasti pada sebuah hubungan terutama bagi mereka yang sudah berumah tangga itu adalah adanya keserasian khusus dengan tujuan yang sama untuk meraih satu kebahagiaan dan keyakinan pasti dalam menuju kebahagiaan mahligai rumah tangga yang sesungguhnya.

Karena hakikat dari pada ketenangan, kebahagiaan yang di dasari dengan rasa kasih sayang yang nyata pada sebuah keluarga itu intinya berdasarkan cara mengetahui juga melaksanakan apa yang selama ini menjadi hak dan kewajiban dari pada suami istri tersebut.

Dan dari hal itulah sudah seyogyanya di antara kedua pasangan tersebut mampu merealisasikannya dalam menjalani hidup dan kehidupan pada bahtera rumah tangga, dalam artian ada penyeimbangan khusus ketika hak dan kewajiban dari keduanya menjadi landasan untuk menggapai sakinah mawaddah warohmah.

Juga dari cara menghormati, menghargai sanak keluarga dari kedua belah pihak sebagai raihan keridhoan yang semestinya sudah menjadi cara paling tepat sesuai dengan syariat untuk menciptakan satu kerukunan pasti sebagaimana yang sangat di inginkan dan di harapkan oleh pasangan suami istri.

Cara Menyenangkan Istri Sesuai Dengan Syariat
cara menyenangkan istri lahir dan batin adalah dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami sebagaimana keterangan dari kitab ‘uqudul lujain :

ـ (الفَصْلُ الأَوَّلُ:فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنةُ الزوجة ومهْرُها، والقَسْم، وتعليمُها ما تحتاج إليه من فروض العبادات وسننها ولو غيرَ مؤكَّدة، ومما يتعلق بالحيض، ومن وجوب طاعته فيما ليس بمعصية

Pasal Pertama
Menerangkan hak seorang isteri dari suaminya,yaitu : menggaulinya dengan baik,menafkahinya,menyerahkan maharnya,pembagian yang adil baik lahir maupun bathin bagi suami yang beristeri lebih dari satu,mengajari ilmu agama yang berkaitan dengan kewajiban beribadah dan sunah-sunahnya,dan mengajari ilmu yang erat kaitanya dengan haidl,dan mengajari untuk selalu taat kepada suami dalam perkara di luar ma’siyat

ـ (الفَصْلُ الثَّانِيْ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَّوْجِ) الواجبة (عَلَى الزَّوْجَةِ) وهي طاعة الزوج في غير معصية، وحسن المعاشرة، وتسليم نفسها إليه، وملازمة البيت، وصيانة نفسها من أن توطئ فراشه غيره، والإحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها، إذ النظر إليهما حرام ولو مع انتفاء الشهوة والفتنة، وترك مطالبتها له بما فوق الحاجة ولو علمت قدرته عليه، وتعففها عن تناول ما يكسبه من المال الحرام، وعدم كذبها على حيضها وجودا وانقطاعا

Pasal Kedua
Menerangkan hak-hak suami yang wajib atas isterinya aitu:
A. Wajib taat pada suami kepada perkara selain ma’syiat
B. Menggaulli atau melayani suami dengan baik penuh adab dan etika
C. Menyerahkan dirinya sepenuh jiwa dan raganya
D. Tidak meninggalkan rumah atau tempat tinggal suaminya
E. Menjaga dan memelihara kehormatan suami atas diri dan rumah tangganya
F. Selalu menutupi badan serta auratnya dari pandangan lelaki yang bukan muhrimnya,walaupun wajah dan dua telapak tangannya,karena melihatnya hukumnya haram walaupun tanpa syahwat ddan aman dari fitnah
G. Tidak meminta sesuatu yang diatas kemampuan suaminya walaupun suami bisa mengusahakan untuk mendapatnya
H. Memelihara diri serta agamanya dari mengkonsumsi makanan dari hasil usaha suami yang haram
I. Tidak menutupi atau berbohong kepada suami akan hal keadaan dirinya baik sedang dalam keadaan haidh atau telah selesai haidhnya.

Cara menyenangkan istri lahir dan batin juga dengan cara bergaul dengan mereka secara patut dan bila rasa cinta mulai terasa memudar dengan bersabar

وَعاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ …يقول الحق جل جلاله : وعاشروا النساء بِالْمَعْرُوفِ بأن تلاطفوهن فى المقال وتجملوا معهن فى الفعال ، أو يتزيّن لها كما تتزين له. قال الورتجبي : كونوا فى معاشرتهن فى مقام الأنس وروح المحبة ، وفرح العشق حين أنتم مخصوصون بالتمكين والاستقامة والولاية ، فإن معاشرة النساء لا تليق إلا فى المستأنس بالله ، كالنبى صلّى اللّه عليه وسلم وجميع المستأنسين من الأولياء والأبدال ،حيث أخبر صلّى اللّه عليه وسلم عن كمال مقام أنسه بالله ورؤيته لجمال مشاهدته حيث قال : «حبّب إلىّ من دنياكم ثلاث : الطيب ، والنساء ، وجعلت قرة عينى فى الصلاة.» «1»ثم قال : عن ذى النون : المستأنس بالله يستأنس بكل شىء مليح ووجه صبيح ، وبكل صوت طيب وبكل رائحة طيبة. ثم قال : عن ابن المبارك : العشرة الصحيحة : ما لا يورثك الندم عاجلا ولا آجلا ، وقال أبو حفص : المعاشرة بالمعروف : حسن الخلق مع العيال فيما ساءك. ه.فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فاصبروا فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً إما ولدا صالحا أو عاقبة حسنة فى الدين. …..قال الورتجبي : كل أمر من الله – سبحانه – جاء على مخالفة النفس امتحانا واختبارا ، والنفس كارهة فى العبودية فإذا ألزمت عليها حقوق الله بنعت الرياضة والمجاهدة واستقامت فى عبودية الله ، أول ما يطلع على قلبك أنوار جنان القرب والمشاهدة ، قال الله تعالى : وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوى ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوى ، وفى أجواف ظلام المجاهدة للعارفين شموس المجاهدات وأقمار المكاشفات. ه. المراد منه.

Firman Allah Ta’ala : “Dan bergaullah dengan mereka secara patut”. Allah al-Haq Azza Wa Jalla berfirman “Dan bergaullah dengan istri-istrimu secara patut, dengan cara bertutur secara lembut, memperbaiki sikap dan prilaku atau berdandan untuk mereka sebagaimana mereka berdandan untukmu,Imam al-Wartajaby berkata “Bergaullah dengan mereka dengan dasar suka-cita dan penuh kasih sayang bila kalian menginginkan derajat istiqamah dan kedududukan dimata Allah, sebab bergaul dengan wanita secara benar tidaklah dapat dan pantas kecuali bagi orang yang ‘tenang dengan Allah’ seperti halnya yang dilakukan oleh Baginda Nabi SAW dan orang-orang yang telah menggapai derajat ketenangan semisal para kekasih-kekasih Allah.

Oleh karenanya Nabi SAW pernah menggambarkan kesempurnaan ketenangan dan musyahadahnya dengan Allah saat beliau bersabsa “”Aku diberi rasa cinta kepada duniamu itu tiga perkara, yaitu senang kepada wangi-wangian, cinta kepada wanita dan ketika dijadikan padaku rasa sejuk mataku seolah-olah aku melihat Allah di dalam shalat”.

Kemudian Dzin Nun berkata “Orang yang memiliki rasa tenang pada Allah akan pula memberikan ketenangan pada segala sesuatu dengan keelokan, wajah yang bersinar, tutur yang indah dan aroma yang mewangi”. Ibn al-Mubarak berkata “Bergaul yang benar adalah yang tidak menimbulkan sesal diawal dan dibelakang”.

Abu Khafsh berkata “Bergaul yang pantas adalah keindahan prilaku pada keluarga dalam mensikapi hal yang tidak mengenakkanmu”. “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

Adakalanya dengan memperoleh keturunan yang shalih, atau kebeikan dalam hal agama. Imam al-Wartajaby berkata “Sesuatu dari Allah yang tidak sesuai keinginan nafsu adalah bentuk ujian dan cobaanNyaNafsu sejatinya membenci akan pengabdian, bila engkau mampu membuatnya mentaati hak-hak Allah secara disiplin melalui bentuk riyadhah dan mujahadah maka yang pertama tumbuh dari dalam hatimu adalah aneka cahaya keindahan kedekatan dan musyahadah dengan Allah S.W.T.

Sebagaimana yang terkutip dari Firmannya “Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”, ditengah-tengah kegelapan mujahadah bagi orang-orang arif billah terdapat kilauan mentari-mentari mujahadah dan indahnya purnama mukasyafah”.(DHIF Al-Bahr al-Madiid I/482).

Memuliakan Suami Dengan Memuliakan Keluarganya

وَيَنْبَغِيْ) أي يطلب لها (أَنْ تَعْرِفَ أَنَّهَا كَالْمَمْلُوْكَةِ) أي الأمة (لِلزَّوْجِ) وكالأسير العاجز في يد الرجل (فَلاَ تَتَصَرَّفُ) أي تنفق (فِيْ شَيْءٍ مِنْ مَالِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ) أي الزوج (بَلْ قَالَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ: إِنَّهَا لاَ تَتَصَرَّفُ أَيْضًا فِيْ مَالِهَا إِلاَّ بِإِذْنِهِ، لأَنَّهَا كَالْمَحْجُوْرَةِ لَهُ) أي إن المرأة لزوجها كالممنوع من تصرف المال لأجل الغرماء.

Seyogyanya (sunah) seorang isteri mengetahui dan menempatkan dirinya seperti seorang Amat (hamba sahaya perempuan) terhadap suaminya,atau seperti tawanan dalam kekuasaan seseorang). Ia (isteri) tidak diperbolehkan menafkahkan harta suaminya tanpa seizinnya. Ulama mengatakan : Bahkan seorang isteri tidak boleh mentashorufkan hartanya sendiri kecuali atas izin suaminya,karena seorang isteri laksana orang yang ditahan tashorufnya.

(وَيَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ دَوَامُ الْحَيَاءِ مِنْ زَوْجِهَا) وقلة المماراة له (وَغَضُّ طَرْفِهَا) بسكون الراء أي خفض عينها (قُدَّامَه، وَالطَّاعَةُ) أي لزوجها (لأَمْرِه، وَالسُّكُوْتُ عِنْدَ كَلاَمِه، وَالْقِيَامُ عِنْدَ قُدُوْمِهِ) أي مجيئه من السفر (وَخُرُوْجِه) أي من المنزل، وإظهار الحب له عند القرب، وإظهار السر عند الرؤية له (وَعَرْضُ نَفْسِهَا) أي إظهارها (لَهُ) أي الزوج (عِنْدَ) إرادة (النَّوْمِ، والتَعَطُّرُ) أي طيب الرائحة له (وَتَعَهُّدُهَا الْفَمَ) أي تجديد إصلاحه (بِالْمِسْكِ وَالطِّيْبِ) ونظافة الثوب (وَدَوَامُ الزِّيْنَةِ بِحَضْرَتِه، وَتَرْكُهَا) أي الزينة (عِنْدَ غَيْبَتِهِ) قال الأصمعي: رأيت في البادية إمرأةً عليها قميص أحمرُ، وهي مختضبة، وبيدها سبحة، فقلت: “ما أبعد هذا من هذا ؟”، فقالت من بحر الطويل:
ولله مني جانب لا أضيعه >< وللهو مني والبطالة جانب

Dan wajib kepada seorang isteri :
A. Memelihara rasa malu terhadap suaminya
B. Menundukkan kepala/meenurunkan pandangannya ketika berada didepan suami
C. Menuruti semua perintah suami,dan diam ketika suami berbicara
D. Berdiri serta menyambut ketika suami tiba dari perjalanan.
E. Dan mengantarkan suami sampai pintu depan rumah ketika suami akan melaksanakan perjalanan
F. Menampakkan sikap cinta ketika dekat suami
G. Menyerahkan dirinya ketika suami hendak tidur
H. Menggunakan wewangian/farfum ketika berhadapan dengan suami
I. Selalu menjaga dan membersihkan mulutnya ketika akan berbicara dengan suami
J. Mengenakan pakaian yang bersih ketika bersama suami
K. Selalu berhias/mempercantik diri ketika bersama suami
L. Meninggalkan berhias ketika suami sedang tidak berada dirumah/sedang bepergian,

فعلمت أنها امرأة صالحة لها زوج تتزين له (وَتَرْكُ الْخِيَانَةِ لَهُ عِنْدَ غَيْبَتِهِ فِيْ فِرَاشِهِ وَمَالِهِ) قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: {لاَ يَحِلُّ لَهَا أَنْ تُطْعِمَ مِنْ بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ إِلاَّ الرَّطْبَ مِنَ الطَّعَامِ الَّذِيْ يُخَافُ فَسَادُهُ، فَإِنْ أَطْعَمَتْ عَنْ رِضَاهُ كاَنَ لَهَا مِثْلُ أَجْرِهِ، وَإِنْ أَطْعَمَتْ بِغَيْرِ إِذْنِهِ كَانَ لَهُ الأَجْرُ وَعَلَيْهَا الوِزْرُ}. (وَإِكْرَامُ أَهْلِهِ) أي الزوج (وَأَقَارِبِهِ) ولو بالكلام الجميل (وَرُؤْيَةُ الْقَلِيْلِ مِنْهُ) أي الزوج (كَثِيْرًا) وقبولُ فعله بالشكر، ورؤيةُ حاله بالفضل (وَأَنْ لاَ تَمْنَعَ نَفْسَهَا) منه (وَإِنْ كَانَتْ عَلَى ظَهْرِ قَتَبٍ) بفت القاف والتاء أي سرج البعير، وذلك إذا كان التمتع مباحا، بخلاف غير المباح كوطء حائض أو نفساء قبل لبغسل ولو بعد انقطاع الدم عند الشافعي رضي اللع عنه.

Dan tidak berkhianat kepada suaminya ketika suami sedang bepergian (menjaga farji/kehormatan serta harta suami). Rosulullah bersabda : “Tidak halal (haram),bagi seorang isteri memberikan makanan dari rumah suaminya kecuali atas izinya dan kecuali memberikan makanan yang tidak tahan lama (makanan akan terbuang mubadzir jika tidak di berikan).Jika isteri memberikan/menshodaqohkannya dengan izin suami,maka ia mendapat pahala seperti yang diberikan kepada suaminya,namun jika ia memberikannya tanpa izin suaminya,maka suami mendapatkan pahala sedangkan isteri akan mendapat dosa”.

Selanjutnya yang harus dilakukan isteri adalah
A. Memuliakan keluarga dan kerabat suami,walau hanya dengan bicara yang baik dan beradab
B. Pemberian suami berapapun nilainya ia anggap besar karena rasa syukur
C. Tidak boleh menahan dirinya/melarang, mencegah suaminya untuk bersenang-senang atas dirinya, walaupun ia sedang berada dalam punggung unta, dengan catatan “tamattu” nya diperbolehkan agama. Berbeda jika dilarang agama seperti suami menginginkan senggama sedangkan isteri dalam keadaan haidh atau nifas.Bahkan menurut Imam syafi’i r.a walaupun darah haidh atau nifas itu telah berhenti namun belum mandi besar

وقال ابن عباس رضي الله عنهما، سمعت رسولَ الله صلى الله عليه وسلم: {لَوْ أَنَّ امْرَأَةً جَعَلَتْ لَيْلَهَا قِيَامًا وَ نَهَارَهَا صِيَامًا وَ دَعَاهَا زَوْجُهَا إِلَى فِرَاشِهِ وَ تَأَخَّرَتْ عَنْهُ سَاعَةً وَاحِدَةً جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُسْحَبُ بِالسَّلاَسِلِ وَ الأَغْلاَلِ مَعَ الشَّيَاطِيْنَ إِلَىْ أَسْفَلِ السَّافِلِيْنَ}.

Ibnu Abbas berkata : Aku mendengar Rosulullah bersabda : Dan bahwa sesungguhnya jika ada seorang isteri yang seluruh malamnya ia gunakan untuk tahajjud,dan siangnya ia berpuasa sunah,namun ketika suaminya mengajak senggama ia mengakhirkan ajakan suaminya walau hanya satu saat saja,maka (jika tidak bertaubat) pada hari qiamat ia akan datang dengan digusur/di tarik dengan rantai dan seluruh badannya di belenggu,ia bersama-sama golongan syetan menuju tempat paling bawah dari yang paling bawah (neraka).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com