Rasulullah Pun ‘Mudik’ pada Bulan Ramadhan Dan Berikut Doa-Doa Seputarnya

Rasulullah Pun ‘Mudik’ pada Bulan Ramadhan Dan Berikut Doa-Doa Seputarnya

Almunawwar.or.id – Pulang kampung atau mudik di indonesia khususnya dan di beberapa negara mayoritas islam seolah menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa di lepaskan oleh umat muslim di saat akan menjelang hari raya idul fitri tiba.

Bahkan sudah jauh-jauh hari persiapan di lakukan untuk bisa berlebaran bareng keluarga dan handaitolan di kampung halaman terutama bagi mereka yang merantau di negeri orang, Sehingga suasana lebaran sudah begitu terasa sesaat menjelang akhir di penghujung bulan ramadhan.

Bagi seorang muslim tentunya sangat perlu persiapan khusus yang tidak hanya membawa oleh-oleh ataupun barang bawaan mudik lainnya, akan tetapi akan jauh lebih indah apabila saat akan melaksanakan maupun sedang di perjalanan bahkan sampai tempat tujuannya selalu di awali dengan berdoa seperti membaca ayat kursi dan basmallah.

Dan rupanya mudik tersebut pernah di lakukan oleh Baginda Rasululloh S.A.W, lebih tepatnya pada saat peristiwa Futhu Makkah “Pembebasan kota Mekkah” Sekaligus menandakan akan kemenangan umat islam secara Kaffah dari bangsa Qurais pada waktu itu.

Dan pastinya cara mudik atau pulang kampungnya Baginda Nabi Muhammad S.A.W itu ada nilai juang tertentu yang hanya bukan sekedar bisa kembali ke kampung halaman (Mekkah) akan tetapi perjuangan dalam menyiarkan agama islam adalah bagian dari pada misi dan tujuannya tersebut.

Hingga patut kita pelajari dan hayati dari cara Nabi ketika akan kembali ke Mekkah selama kurang lebih beberapa tahun Nabi hijrah ke Madinah,

Mudik Rasululloh Dari Madinah ke Mekkah
Di dalam bukunya Pengantin Ramadhan, Muchlis Hanafi menyebutkan bahwa Rasulullah ‘mudik’ ke Makkah selama 19 hari. Dengan demikian Rasulullah dan para sahabatnya merayakan hari raya Idul Fitri ke-6 (puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam mulai abad ke-2 Hijriyah) di Makkah, di kampung halamannya.

Ketika ‘mudik’ tersebut, Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau memaafkan semua musuh-musuh yang dulu menentang dakwah Islam. Beliau juga menghancurkan semua berhala di area Ka’bah yang menjadi sesembahan warga Makkah. Total, ada 360 berhala yang dimusnahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Termasuk tiga berhala yang paling terkenal dan paling besar; Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.

“Nabi mengumumkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan,” kata Marting Ling di dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Setelah selesai dengan semua urusannya di Makkah, Rasulullah kembali ke kampung halamannya yang kedua, Madinah.

“Tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Makkah, yang ada tinggal niat tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya),” kata Rasulullah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Doa Selama Perjalanan Mudik
Riwayat Ibnu Sinni dan Al-Baihaqi menceritakan bagaimana Rasulullah SAW ketika berperang di Tabuk diminta pulang kampung ke Madinah demi menshalatkan jenazah salah seorang sahabatnya, Muawiyah.

Riwayat ini dikutip oleh Imam Nawawi dalam Al-Adzkar pada bab zikir ketika di jalan sebagai berikut ini:

وروينا في كتاب ابن السني و “دلائل النبوة” للبيهقي عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: “أتى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) جبريل (صلى الله عليه وسلم) وهو بتبوك فقال: يا محمد اشهد جنازة معاوية بن معاوية المزني، فخرج رسول الله (صلى الله عليه وسلم)، ونزل جبريل (عليه السلام) في سبعين ألفا من الملائكة، فوضع جناحه الأيمن على الجبال فتواضعت، ووضع جناحه الأيسر على الأرضين فتواضعت، حتى نظر إلى مكة والمدينة، فصلى عليه رسول الله (صلى الله عليه وسلم) وجبريل والملائكة (عليهم السلام)، فلما فرغ قال: يا جبريل بم بلغ معاوية هذه المنزلة؟ قال: بقراءته: قل هو الله أحد، قائما وراكبا وماشيا”

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Kitab Ibnu Sinni dan kitab Dala’ilun Nubuwwah karya Al-Baihaqi dari Abu Umamah Al-Bahili, ia bercerita bahwa Jibril AS mendatangi Rasulullah S.A.W ketika beliau di Tabuk. ‘Wahai Muhammad, saksikanlah shalat jenazah Muawiyah bin Muawiyah Al-Muzani (di Madinah),’ kata Jibril. Rasulullah SAW keluar (dari Tabuk). Sementara Jibril AS turun bersama 70.000 malaikat.

Jibril AS menurunkan sayap kanan di atas bukit hingga merendah. Ia juga meletakkan sayap kirinya di atas tanah sampai merendah hingga ia dapat melihat Kota Mekkah dan Madinah. Rasulullah S.A.W bersama Jibril A.S dan ribuan malaikat kemudian menshalatkan jenazah Muawiyah. Setelah selesai, Rasulullah S.A.W bertanya, ‘Wahai Jibril, dengan amalan apa Muawiyah mendapatkan derajat begitu tinggi ini?’ ‘Muawiyah lazim membaca Surat Al-Ikhlas saat berdiri, berkendaraan, dan berjalan kaki,’ jawab Jibril.”

Jadi menurut keterangan Hadits tadi bahwa amalan yang terbaik saat melaksanakan sebuah perjalanan adalah dengan memperbanyak bacaan Surat Al ikhlas selama perjalanan itu berlangsung, Sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Sahabat Nabi sebagaimana yang telah di ceritakan di atas. Dan berikut bacaan Surat Al Ikhlas Lengkap :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4

Latin : “Qul huwallâhu ahad. Allâhus shamad. Lam yalid, wa lam yûlad. Wa lam yakullahû kufuwan ahad”.

Artinya : “Katakanlah, ‘Dialah Allah yang esa, Dia tempat bergantung, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, Tiada satu pun yang menyamai-Nya.”

Doa Yang Di bacakan Rasululloh ketika melitasi sebuah daerah yang di tujunya
tujuannya.

اللَّهُمَّ رَبَّ السَمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَالأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ القَرْيَة وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا

Allâhumma rabbas samâwâtis sab‘i wa mâ azhlalna, wal aradhînas sab‘i wa mâ aqlalna, wa rabbas syayâthîni wa mâ adhlalna, wa rabbar riyâhi wa mâ dzaraina. As’aluka khaira hâdzihil qaryah wa khaira ahlihâ wa khaira mâ fîhâ. Wa na‘ûdzu bika min syarrihâ wa syarri ahlihâ wa syarri mâ fîhâ.

Artinya, “Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan penghuni yang dinaunginya, Tuhan tujuh bumi apa yang dipikulnya, Tuhan setan dan apa yang disesatkannya, dan Tuhan angin serta apa yang diterbangkannya. Aku memohon kepada-Mu kebaikan daerah ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatannya, kejahatan penduduknya, dan kejahatan apa yang ada di dalamnya.”

Tentu setelah sampai di tempat tujuan, rasa bahagia pun menyelimuti hati dan perasaan, karena bisa kembali dan melihat kampung halaman dengan nyata yang selama ini di damba-dambakan. Maka dalam hal ini Rasululloh S.A.W pun mengajarkan kepada para shahabatnya untuk berdoa agar kampung halaman itu memberikan keberkahan bagi penduduknya khususnya bagi mereka yang pulang kampung. Berikut ini doa Rasulullah S.A.W ketika melihat kampung halaman.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا

Latin : “Allâhummaj‘al lanâ bihâ qarârâ, wa rizqan hasanâ”

Artinya: “Tuhanku, jadikan kampung ini tempat tinggal kami dan jadikan desa ini sebagai rezeki yang baik.”

Dan rasa bahagia ketika bisa kembali ke kampung halaman terasa begitu paripurna dan istimewa karena telah di sambut oleh sanak saudara, keluarga, kerabat dan juga orang-orang yang di cintai. Untuk bagi keluarga yang akan menyambut kedatanga pemudik berikut ada tuntunan doanya yang senantiasa di bacakan pada saat momen tersebut.

Doa Menyambut Keluarga yang Pulang Mudik

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي سَلَّمَكَ

Alhamdulilâhil ladzî sallamaka

Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepadamu.” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, (Darul Mallah, 1971 M/1391 H halaman 195).

Imam An-Nawawi menyebutkan lafal doa lain yang bisa dibaca ketika menyambut anggota keluarga yang mudik.

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي جَمَعَ الشَمْلَ بِكَ

Alhamdulilâhil ladzî jama‘as syamla bika

Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan pertemuan kepadamu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar (Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H, halaman 195).

Sebenarnya tidak ada lafal doa yang baku. Doa lain yang semakna dengan dua lafal ini boleh dibaca untuk menyambut mereka yang mudik sesuai dengan kalimah yang di fahami oleh masyarakat setempat. Namun tidak ada salahnya untuk membacakan doa tersebut karena sudah ada dari keterangan sebagaimana yang di anjurkan oleh para Ulama.

Kesan bahagia yang tiada terhingga tentu begitu terasa saat sampai di kampung halaman tercinta, apalagi di sambut dengan ceria oleh keluarga dan orang yang kita sayangi, tentu akan jauh lebih bermakna seraya hati dan jiwa siap menyambut kedatangan indahnya hari raya bersama keluarga, sambil saling memaafkan dan juga mengungkapkan ucapan lebaran pada orang-orang yang di jumpa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id