Cerminan Jiwa Dari Kisah Suri Tauladan “Jangan Pernah Lelah Untuk Berdoa”

Cerminan Jiwa Dari Kisah Suri Tauladan Jangan Pernah Lelah Untuk Berdoa jpg

Almunawwar.or.id – Sebagai seorang hamba dan juga manusia biasa sudah sepatutnya kita senantiasa menerima segala hal yang ada dan mengolahnya menjadi sesuatu yang terbaik, meskipun keluh kesah sering sekali dirasakan ketika hati belum bisa menerima sebuah kenyataan yang tidak diharapkan.

Berikhtiyar dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan serta jangan pernah lelah untuk selalu berdoa dalam segala hal apapun untuk meraih yang terbaik bagi jalan kehidupan adalah sebuah hal yang mesti dijadikan kekuatan diri dalam menyongsong masa depan yang jauh lebih pasti.

Karena yaqinilah bahwa hasil jerih payah kita dalam berikhtiyar dan berusaha serta dengan kesungguhan dalam berdoa itu akan mendapatkan nilai dan imbalan yang jauh lebih istimewa di hadapan Alloh S.W.T. Sehingga bisa mendapatkan apa yang selama ini kita harapkan dan inginkan.

Jaminan pasti bagi seseorang yang tidak pernah lelah dan tidak pernah menyerah untuk selalu berdoa adalah keterangan yang tersiratkan dalam sabda Rasululloh S.A.W yang menganjurkan dan memerintahkan kepada ummatnya untuk selalu dan selalu berdoa dalam segala aktivitas yang dikerjakannya.

“Tidak ada seorang muslim yang berdoa melainkan akan dikabulkan, ada kalanya disegerakan didunia, ada kalanya disimpankannya untuknya di akhirat. Dan ada kalanya digunakan untuk menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doa yang ia ucapkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan tali persaudaraan”.

Keterangan yang tertuang pada sebuah hadits tersebut merupakan sebuah harapan yang sangat besar bahwa begitu besarnya nilai dan makna sebuah doa yang terpanjatkan dalam sudut dan ruang seseorang ketika merasakan dan membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari sang maha pencipta.

Sebagaimana yang tertulis pula dalam catatan sebuah hadits yang menggambarkan jaminan bagi seseorang yang selalu berdoa nanti di hari qiyamah, Baginda Rasululloh S.A.W pun bersabda.

“Nanti pada hari kiamat Allah Swt akan memperlihatkan setiap doa yang dipanjatkan oleh setiap orang sewaktu di dunia yang tidak Allah kabulkan, dimana Allah berfirman: Hambaku, pada suatu hari kamu memanjatkan doa kepadaku, namun Aku tahan doamu itu, maka inilah pahala sebagai pengganti doamu itu”. Orang yang berdoa itu terus menerus diberi pahala sehingga ia berharap kiranya semua doanya itu hanya dibalas di akhirat saja dan tidak diberikan di dunia”.

Dari dua keterangan hadits tersebut bisa di pahami dan di mengerti oleh kita semua, akan begitu pentingnya selalu berdoa dalam segala hal, sebab selain bernilai ibadah, berdoa juga merupakan ruhnya dari semua amalan peribadahan yang selalu kita lakukan dam keseharian.

Untuk itu Alloh S.W.T memerintahkan kepada hambanya untuk bisa menjadikan doa sebagai wasilah ataupun perantara untuk meraih apa yang di inginkan dan apa pula yang di harapkan. Karena pada hakikatnya ayat “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan aku kabulkan”- adalah sebuah janji yang mutlak tidak mungkin diingkari oleh Allah Swt. karena sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (QS. Ra’d: 31).

Cukup sudah bagi kita semua untuk menjadikan dalil-dalil tersebut sebagai landsan kuat untuk tetap senantiasa dan selalu berdoa sepanjang waktu. Karena ingatlah doa merupakan senjata ampuh bagi seorang muslim. Untuk itulah berdoa dan berdoalah selalu.

Bahkan dalam keterangan lain Rasulallah Saw bersabda:

الدعاء هو العبادة ثم قرأ قوله تعالى وقال ربكم ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: Doa itu adalah ibadah. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”

Landasan dari keterangan tersebut menberikan sebuah gambaran begitu pentingnya memupuk nilai kehambaan yang sangat membutuhkan bimbingan dan naungan dari Tuhan agar tidak termasuk pada orang-orang yang sombong yang sangat di murkaiNYa, serta bisa mencapai apa yang menjadi keridhoannya.

Namun ingatlah kita semua hanya sebatas berikhtiyar dan menjalankan syariat saja, adapun hasil akhir dari apa yang kita usahakan itu tergantungan dengan kehendak dari Alloh S.W.T yang maha mengetahui apa yang terbaik dan apa yang lebih maslahat untuk kita semua. Sebab keterangan dalam ayat lain menyebutkan

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Senada denga itu, maka salah satu Ulama terkemuka pengarang kitab Al hikam yaitu memberikan penjelasan sekaligus gambaran akan penting sebuah doa bagi seorang muslim. sebagaimana yang tertuang dalam kitab Hikamnya yang berbunyi:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعِطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأُسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةِ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ.

Artinya: “Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini”.

Yaqinkanlah apapun yang di panjatkan dalam berdoa itu pasti Alloh S.W.T mengabulkannya, hanya saja kita butuh waktu yang tepat untuk bisa merasakan buah dari tujuan dan makna dari setiap doa yang kita panjatkan di setiap waktu dan setia saatnya.

Janganlah berputus asa, karena itu jauh dari rahmatnya, berusahalah dam beristiqomah dengan memohon ampunan dan petunjuk melalui nama-nama indah dan bagus Alloh S.W.T yang ada dalam Alquran, sebagaimana firmannya yang artinya ”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60).

Dan tentunya perlu di ingat bahwa, di ijabah dan di kabulkannya sebuah doa itu tidak terikat dengan keinginan dan kemauan seorang hamba, melainkan hanya sesuai ataupu terikat dengan kehendaknYA. Karena Alloh S.W.T lebih mengetahui apa yang di butuhkan dan apa yang di inginkan oleh seorang hamba tersebut.

Jadi semua tidak lepas dari yang namanya sifat qudrot dan irodatnya Alloh S.W.T. yang menjadi sebuah kepastian dari apa yang terbaik dan lebih maslahat bagi seorang hamba. Yang tentunya pula melihat daripada sisi terbaik nilai kehidupannya tersebut.

Jangan pernah cukup untuk menjalankan sebuah perintah amalan yang disertai dengan doa, tetap istiqomah dan kosekswen dalam menjalankannya. Yang tentunya pula disertai dengan rasa sabar dan bersyukur dalam menjalani semua itu, dan janganlah pula untuk tergesa-gesa.

Sebab ada tata cara tertentu bagi seorang muslim dalam menjalankan nilai berdoa tersebut, jangankan kita sebagai manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Para Nabi dan para Rasul pun tidak pernah menyerah dan tidak pernah putus asa dalam menjalankan syariat dan berdoanya tersebut.

Bahkan mereka yang telah dijamin kebahagiaan di akhirat kelak masih mau meminta pertolongan Allah. Sedang kita yang belum tahu di mana tempat akhir persinggahan masih melalaikan fasilitas doa yang telah disedia di dunia. Untuk itulah gambaran dari kisah suri tauladan ini bisa menjadi penyemangat dan pendorong bagi kita untuk tetap selalu dan selalu berikhtiyar dan berdoa, sebagaimana yang tercerminkan pada kisah suri tauladan para Nabi berikut ini.

1. Nabi Adam As bapak para manusia memohon ampunan karena telah mendzalimi dirinya memakan buah khuldi di surga. Saat diturunkan didunia, setiap hamparan tanah tak terlepas dari tetesan air mata penyesalan beliau. Doa beliau:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 23)

2. Nabi Ibrahim As bapak para nabi mendoakan tanah suci makkah sebagai tanah yang diberkati oleh Allah, sehingga walau pun terdiri dari tanah yang tandus dan berbatuan, tetapi selalu dilimpahi rahmat dari berbagai buah-buah.

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنْ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Albaqoroh: 126)

3. Nabi Musa as, nabi yang telah menyelamatkan bani Israil dari kukungan Firaun di mesir, pada saat beliau mendapat kesusahan untuk berdakwah karena cacat pada lidahnya, maka ia berdoa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku (QS. Thoha: 25-28)

4. Nabi Sulaiman As, seorang yang mendapat kenikmatan dunia yang luar biasa, yang memiliki kekuasaan atas jin, manusia, binatang, angin dan air masih mampu mengucapkan doa.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml: 19)

Dan tentunya masih banyak doa-doa yang diucapkan para nabi dalam al-Quran, yang tentunya bila kita mau mentadaburi nya kita akan menjadi malu. Alangkah sombongnya kita, alangkah angkuhnya kita, alangkah malangnya diri kita yang telah menyia-nyiakan waktu dan umur kita dari perbuatan doa kepada Allah sedang para Nabi pun berdoa.

Untuk itulah berdoa dan berdoa selalu untuk bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat yang selama ini menjadi cita-cita dan kenginan pasti bagi setiap muslimin. Sehingga bisa meraih pula keridhoan dari Tuhan sebagai tujuan utama daripada hakikat hidup ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com