Contoh Khutbah Saat Prosesi Lamaran Nikah Dan Penjelasan Hukumnya

Contoh Khutbah Saat Prosesi Lamaran Nikah Dan Penjelasan Hukumnya

Almunawwar.or.id – Dalam tata caranya terdapat sebuah ketentuan di saat seorang laki-laki akan melamar pujaan hatinya yang kelak nanti akan di jadikan sebagai calon istri sesuai dengan apa yang di sunnah dan di anjurkan oleh syariat islam yang memang selama ini.

Hal tersebut tentunya bisa di wujudkan dengan cara melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajiban dari syariat tersebut, Sehingga tiada ketetapan yang mampu merealisasikannya terkecuali dengan pelaksanaan amalan yang menjadi ketentuan, salah satunya lewat proses lamaran atau pinangan seseorang.

Pada prosesi tersebut terdapat ketentuan yang memang layak untuk dii ketahui dan dilakukan sebagaimana yang telah di jelaskan dalam sebuah keterangan di mana pemaparan dari Imam al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi al-Kabir (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), juz IX, hal. 163:

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ خُطْبَةَ النِّكَاحِ قَبْلَ الْخِطْبَةِ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةُ

“Imam al-Mawardi berkata: “Ketahuilah bahwa khutbah nikah sebelum acara lamaran itu hukumnya sunnah.”

Sebab dalam islam jika seseorang muslim sudah memenuhi kriteria untuk menikah dan sudah ada calon pasangannya, maka di segerakan untuk melamar dan mempersunting fujaan hatinya tersebut agar senantiasa ketenangan dan ketentraman dalam dirinya saat akan

Doa Sebelum Lamaran Nikah
Diharapkan dengan doa ini, kita akan bisa mendapatkan pasangan yang baik bagi kita menurut Penglihatan Allah SWT. Sebaiknya doa ini dilafalkan oleh kita di malam sebelum khitbah sesudah terlebih dahulu melaksanakan shalat hajat dan shalat istikharah. Doa tersebut ialah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَقْدِرُ وَلآ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلآ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ فَإِنْ رَأَيْتَ لِيْ فِيْ (…….) خَيْرًا فِى دِيْنِيْ وَآخِرَتِيْ فَاقْدِرْهَا لِيْ

Allahumma innaka taqdiru wa lâ aqdiru wa lâ a’lamu wa anta ‘allâmul ghuyûbi. Fa in ra`aita lî fî (…..) khairan fî dînî wa âkhiratî faqdirhâ lî

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Men-takdir-kan, dan bukanlah aku yang men-takdir-kan. Dan (Engkau) Maha Mengetahui apa yang tidak kuketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan (….. [sebutkan nama calon pasangan bin/binti ayahnya]) untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya.”

Contoh khutbah saat prosesi lamaran dilakukan
dan lalu apa saja yang disampaikan dalam khutbah ketika prosesi melamar ini, bisa kita simak pada pemaparan Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam Al- Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II, hal. 437:

أَلْحَمْدُ لِلهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لآ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِى تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Alhamdulillâhilladzî nasta’înuhu wanastaghfiruhu wa na’udzu bihi min syurûri anfusinâ man yahdilLâhu falâ mudlilla lah wa man yudllil falâ hâdiya lah. Wa asyhadu allâ ilâha illaLlâh wahdahu lâ syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduHu wa rasuluHu.

{Yâ ayyuhannâsu ittaqû rabbakumulladzî khalaqakum min nafsin wâhidatin wakhalaqa minhâ zawjahâ wabatstsa minhumâ rijâlan katsîran wanisâ-an wattaquLlâhalladzî tasâ-aluuna bihi wal-arhâma innaLlâha kâna ‘alaykum raqîban} (Q.S. An-Nisâ: 1)

{Yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaquLlâha haqqa tuqâtihi walâ tamûtunna illâ wa-antum muslimûna} (Q.S. Ali ‘Imrân: 102)

{Yâ ayyuhaLladziina âmanû ittaquLlâha waqûlû qawlan sadîdan

Yushlih lakum a’mâlakum wayaghfir lakum dzunûbakum waman yuthi’iLlâha warasûlahu faqad fâza fawzan ‘adzhîman} (Q.S. Al-Ahzâb 70-71)

“Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan pada-Nya, kami memohon ampunan pada-Nya, kami memohon perlindungan dengan-Nya atas segala kejelekan diri kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

Itulah salah satu contoh dari sekian banyaknya makalah-makalah khutbah tentang prosesi nikah dan akad nikah tersebut, sehingga mampu memberikan ketenangan dalam diri dan hatinya.

Hukum menikah ada lima
1. Sunah, yaitu bagi orang yang membutuhkan wathi (bersetubuh) dan mempunyai biaya untuk mahar, pakaian fashol tamkin dan memberi nafkah istrinya padahari dilangsungkannya ‘akad dan malamnya.
2. Khilaful aula, yaitu bagi orang yang membutuhkannya, hanya saja tidak mempunyai biaya.
3. Makruh, yaitu bagi orang yang tidak membutuhkannya dan juga tidak mempunyai biaya.
4. Wajib, yaitu bagi yang bernadzar untuk menikah yang sebelumnya sunah Baginya.
5. Haram, yaitu bagi orang yang tidak mampu memenuhi hak-hak istri.

Selangkah Menuju Sakinah
Adalah salah satu tujuan untuk menggapai apa yang menjadi kebahagiaan bagi seorang yang sudah dewasa, karena itu adalah bagian penting dalam meujudkan adanya kerukunan ketika hendak meraih kebahagiaan dari seseorang yang kelak akan menjadi pasangannya.

Oleh karena itulah layak dan penting kirang mengetahui dasar daripada suau tujuan tersebut dengan selalu senantiasa melakukan hal yang lebih menjurus dan identik terhadap keberlangsungan dan suksesnya tujuan dari pada Sakinah dalam mahligai rumah tangga nanti, diantaranya :

1. Meminang (Khitbah)
Meminang artinya menyatakan permintaan untuk menikah dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan atau sebaliknya dengan perantaraan seseorang yang dipercayai. Mengkhitbah dengan cara tersebut diperbolehkan dalam agama islam terhadap gadis atau janda yang telah habis masa iddahnya, kecuali perempuan yang masih dalam masa iddah bain, sebaiknya dengan jalan sindiran saja. Hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah :

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya : “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. “ (QS. Al-Baqarah ayat 235)

Sedangkan terhadap perempuan yang masih dalam “Iddah Raj’iyah“, hukumnya haram meminang karena perempuan yang masih dalam iddah raj’iyah secara hukum masih berstatus sebagai istri bagi laki-laki yang menceraikannya, dan dia boleh kembali padanya.

Demikian juga tidak diizinkan mengkhitbah seorang perempuan yang sedang dipinang oleh orang lain, sebelum nyata bahwa permintaannya itu tidak diterima. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi :

“Orang mukmin adalah saudara orang mukmin. Maka tidak halal bagi seorang mukmin mengkhitbah seorang perempuan yang sedang dikhitbah oleh saudaranya, sehingga nyata sudah ditinggalkannya” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

Doa Ketika Meminang

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، جئتكم راغبا في فتاتكم (فلانة)، أو في كريمتكم (فلانة بنت فلان

Asyhadu an Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahuu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu, ji’tukum raaghiban fii fataatikum (Fulaanah) aw fii kariimatikum (Fulaanah binti Fulan)

Artinya :“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, aku dating pada kalian karena berharap akan meminang puterimu (…..sianu /Disebut nama anak yang hendak dipinang), atau meminang puteri muliamu (…..sianu /Disebut nama anak yang hendak dipinang).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber :
nu.or.id
almunawwar.or.id