Dampak Pendidikan Formal Dalam Dunia Pesantren diBalik Pemantapan 4 Strategi Kiai

Dampak Pendidikan Formal Dalam Dunia Pesantren diBalik Pemantapan 4 Strategi Kiai

Almunawwar.or.id – Kehadiran lembaga pendidikan saat ini sangatlah menentukan kadar dari kualitas pendidikan seorang manusia dalam mengabdikan hidupnya untuk masyarakat banyak, termasuk di dalamnya ketika kstrukturan pendidikan umum (formal) hadir di tengah-tengah dunia pesantren yang notabane nya adalah pendidikan non formal.

Dimana peran kedua dari metode pendidikan tersebut tentunya memiliki karakter masing-masing dalam segi penerapan dan penerimaan bagi seorang pelajar, baik yang berhubungan dengan masalah kajian umum (ilmu yang ada di sekitar) maupun pendidikan yang mengarah kepada hal insaniyah (kepribadian yang luhur dan beradab).

Yang keduanya sosok ataupun sistem yang mampu mengarahkan daya pemikiran seseorang dalam mengenal kepribadiannya sekaligus mampu berinteraksi dan bertoleransi dengan ligkungan sekitar, Sehingga lahirlah pemahaman yang mendasar tentang bagaimana pentingnya peran dari kedua lembaga pendidikan tersebut jika di sinkronisasikan.

Dan tingkat penyesuaian ini rupanya menjadi sebuah rancangan dan strategi khusus bagi para pengajar yang ada di sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren untuk bisa tetap istiqomah dari eksistensi pesantren sebagai lembaga salah satu lembaga yang mampu mencetak manusia yang penuh dengan IPTEK dan di dasari dengan Imtak.

Seiring dengan itu hadirnya pendidikan formal yang ada di sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren adalah bentuk dari pada upaya khusus bagi tenaga pendidik untuk tutur serta memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah urusan itu harus di sertai dengan ilmunya.

Sebagaimana yang telah di isyaratkan dalam sebuah keterangan bahwa “Barangsiapa yang bermaksud kepada haliyah dunia maka harus di sertai (menguasai) ilmu keduniaanya, Barang siapa yang bermaksud kepada haliyah akhirat maka harus di sertai (menguasai) ilmu keakhiratan nya (ilmu agama) dan barang siapa yang bermaksud kepada keduanya, maka harus di sertai (menguasai) kedua ilmu tersebut.

Nah dari keterangan inilah tentu bisa di fahami betul tentang bagaimana pentingnya kedua peran ilmu yang di lahirkan dari dua pendidikan formal dan non formal dalam mewujudkan dan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, berpendidikan dan tentunya berilmu agama yang luhur.

Sehingga keberadaan dari ilmu yang di pelajari dari pendidikan formal di tengah-tengah pesantren tentunya sangat membantu pula bagi pesantren itu sendiri dalam memberikan pengenyaman kapasitasnya sebagai bagian dari upaya untuk mencetak manusia yang cerdas dan memiliki akhlaqul karimah yang mulia.

Meskipun tidak menutup kemungkinan di balik efek manfaat pendidikan formal itu terdapat pula dampak yang kurang berkenan bagi dunia pesantren, Salah satunya adalah Standarisasi santri yang menempuh pendidikan formal mengalami penurunan. Penurunan dalam hal penguasaan kitab kuning dan penurunan akhlak sopan santun. Penurunan akhlak santri tidak terjadi kepada santri madrasah diniyah.

Nah untuk menyeimbangkan pola pengenyaman dari kedua pendidikan tersebut, maka peran dari pada strategi khusus seorang kiyai itu sangatlah penting untuk lebih mengimbangi moment tersebut tanpa harus keluar dari kulturisiasi dunia pesantren tersebut terutama bagi para kiyai perintis dan generasi penerusnya.

Dalam rancangan ini menurut beberapa pengamatan berdasarkan keberrlangsung yang berada dan terjadi di dunia pendidikan saat ini khususnya dari pesantren itu sendiri, setidaknya ada 4 Strategi kyai perintis dan generasi penerus dalam mengembangkan manajemen pesantren :

1. Mempertahankan pola akuistik (paham kesufian) diintegrasi dengan modernisasi pendidikan Islam
2. Menerapkan prinsip al-muhafadzatu ‘ala al-qadim as asholih wa akhdzu bi al-jadidi al-aslah
3. Berorientasi tuntutan kebutuhan masyarakat
4. Pengelolaan kelembagaan pesantren tidak didominasi keluarga internal kyai, bisa melibatkan alumni maupun orang di luar pesantren.

Catatan Bagi Seorang Santri
Di samping itu maka pengevaluaisan diri tentang bagaimana merombak kembali niat dan tujuan dari pada mereka yang ingin mengenyam pendidikannya di sebuah lembaga pondok pesantren sangatlah penting karena itu akan menetapkan pendirian hati ketika berada di sebuah lembaga pendidikan.

Jangan sampai hanya formalitas semata, akan tetapi mempunyai keinginan yang luhur dan niat yang kuat untuk bisa turut berperan penting dalam memberikan efek manfaat besar baik bagi diri maupun dari lingkungan sekitar yanghanya bisa di raih bagi mereka yang berkseungguhan dalam niatnya.

Sebab ingatlah “Niat merupakan pondasi penting dari amal. Tidaklah sempurna perbuatan seseorang tanpa landasan niat” Kita mencontoh ulama’ salaf yang disetiap aktifitasnya selalu adanya niat. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:

“نية المؤمن خير من عمله ”

Artinya : “Niat seorang mukmin, lebih baik dari amalnya”

Begitu juga dengan santri yang memasuki pondok pesantren. Apa niatnya?. Apakah sudah sesuai dengan ruh ilmu atau hanya sebagai formalitas belaka? pertanyaan ini tentunya bisa kembalikan pada diri masing-masing khususnya bagi para pelajar

Abah Ghofur (pengasuh ponpes Sunan Drajat) dan beberapa kiai lainnya (pengalaman penulis),sering memberikan peringatan bagi santri-santrinya, agar tidak salah niat dalam menimba ilmu. Beliau berpesan bahwa ketika nyantri, niatkanlah mencari ridho Allah SWT. Sederhananya adalah bila Allah telah memberikan ridhoNya, maka apapun jenis amal/perbuatan yang dilakukannya, insya Allah akan terasa berkah baginya.

Di sisi lain, santri juga tidak hanya berfikir cara mendapatkan ridhonya Allah. Namun, cari dan lakukanlah apa saja yang membuat Allah ridho akan kamu. Salah satunya dengan belajar ilmu agama.

Oleh sebab itu, bila telah memasuki dunia pesantren, luruskan kembali niat. Mondok bukan diniatkan untuk jadi orang yang akan menyaingi para ulama’ atau bertujuan mendapat sanjungan ketika pulang. Bukan juga dengan niat agar mendapatkan banyak simpatisan ketika menyampaikan ilmunya. Juga tidak untuk mendebat orang-orang bodoh. Tidak,sekali-kali tidak demikian!.

Bukankah kita mengetahui bahayanya orang yang belajar ilmu agama malah masuk neraka?. Tentu kita semua tahu akan hadits nabi Muhammad SAW, yaitu:

من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار

Artinya : “Siapa yang mencari ilmu agama, tujuannya agar melampaui para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau agar orang-orang berpaling kepadanya, pasti Allah masukkan ia ke dalam neraka.” (Riwayat al-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam al-Musnad).

Sebab ilmu yang kita dapatkan ini adalah amanah dari-Nya. Amanah untuk difahami, diamalakan, dan disebarkan. Itulah sebabnya peran dari dua lembaga pendidikan tersebut sangatlah penting terhadap nilai luhur kepribadian seseroang khususnya bagi kaum pelajar saat ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
suarapesantren.net