Dibalik Bahayanya Paham Liberalisme Terhadap Ajaran Haqiqat Islam

Dibalik Bahayanya Paham Liberalisme Terhadap Ajaran Haqiqat Islam

Almunawwar.or.id – Sebuah konsep dasar agama islam yang sudah sejak dahulu di atur dan di pastikan melalui syariat Nabi Muhammad S.A.W adalah bagian penting dalam menjalankan keutuhan dan kebenaran Islam yang sesungguhnya bagi setiap individual umat muslim di dunia.

Yang sejatinya tugas dari peranannya tersebut bisa di pelihara dan di jaga dengan sebaik serta sekuat mungkin oleh kita semua selaku umat Beliau. Terutama dalam menjaga keutuhan aqidah islam sebagai dasar paripurna dalam menjalankan semua perintahan agama islam yang mulia ini.

Namun seiring dengan berkembang jaman dan berjalannya waktu, maka banyak sekali paham-paham yang bermunculan di muka bumi ini, salah satunya faham liberalisme yang merupakan paham yang membongkar kemapanan dalam ajaran Islam yang sudah baku. Setiap manusia mempunyai kewenangan dalam menilai baik dan buruk tanpa harus ada campur tangan siapapun.

Oleh karena itulah mengetahui akan bahaya nya faham-faham yang masuk pada kategori “gojwatul fikri” atau perang secara pemikiran karena berbedanya pendapat dan ideologi patut ahkan wajib kiranya di ketahui dan di pahami lebih jauh dan lebih luas oleh kita semua.

Sebab tidak hanya perang opini saja yang digencarkannya, namun secara perlahan tapi pasti ideologi-ideologi mereka kini sudah masuk merambah ke berbagai lembaga-lembaga pendidikan termasuk di antaranya ke dalam Pondok Pesantren.

Perubahan pemikiran yang mereka kembangkan sendiri itu justru secara tidak langsung akan merusak semua tatanan ajaran islam yang sesungguhnya yang telah di syari’atkan oleh baginda Rasululloh S.A.W. melalui sunnah yang di lanjutkan oleh para Ulama sebagai pewaris para Nabi.

Ideologi ataupun dasar pemikiran yang mereka kembangkan adalah melalui gagasan ataupun ide yang termuat pada pemahaman sekularisasi Agama. Yang dimana sekularisasi merupakan gagasan penting yang berasal dari kelompok Islam Liberal sebagai pemahaman yang tidak lepas dari kaum liberalisme.

Dimana secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi, yaitu:

1. Liberalisasi bidang aqidah dengan penyebaran paham pluralisme agama
Liberalisasi aqidah islam dilakukan dengan penyebaran paham “pluralisme agama”. Paham ini pada dasarnya menyatakan, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama.

Atau mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relativ terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelativannya maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa agamanya sendiri yang benar.

2. Liberalisasi bidang syari’at dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad
Inilah aspek liberalisasi yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti, dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”.

Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode “kontekstualisasi” sebagai salah satu mekanisme dalam hukum Islam. Salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan obyek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga, Misalnya, dalam masalah perkawinan antar agama, khususnya antara wanita muslimah dan non muslim.

3. Liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Qur’an
Liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Qur’an. Mereka berusaha keras meruntuhkan keyakinan kaum muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari kesalahan. Meraka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan tentang otentitas al-Qur’an dan kekeliruan kitab-kitab agama lain.

Hampir satu abad yang lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi anehnya, kini imbauan itu diikuti oleh banyak sarjana muslim sendiri.

Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok yang mengklaim hanya kitab suci agamanya saja yang suci dan benar.

Dengan konsep ini manusia sekuler dapat tidak mengakui kebenaran Islam yang mutlak. Mereka akan menolak konsep-konsep Islam yang yang tetap (tsawabit) karena semua hal dianggap relatif. Sumber utama pemikiran ini apabila diurut akan berujung pada aliran Sufastha’iyyah (kaum sophist). Dalam aqidah annasafi dinyatakan :

حقيقة الأشياء ثابتة والعلم بها متحقق خلافا السفسطائية

Artinya: “Semua hakikat segala perkara itu tsabit adanya, dan pengetahuan kita akan dia adalah yang sebenarnya kecuali menurut kaum sufastha’iyyah “.

Golongan Sufastha’iyyah sendiri itu adalah golongan ‘Indiyyah (Subyektifisme) yang menganut faham bahwa tidak ada kebenaran obyektif dalam ilmu. Semua ilmu adalah subyektif, dan kebenaran mengenai sesuatu hanyalah semata-mata pendapat seseorang. Maka kebenaran bagi mereka adalah segala yang berlaku di masyarakat dan bukan yang dikonsepkan dalam al-Qur’an.

Sama persis dengan pemahaman ajaran yang berkembang di masyarakat luas saat ini, dimana tidak ada pengukuhan yang pasti terhadap kebenaran Islam haqiqi yang tumbuh dalam jari dirinya, sehingga munculah berbagai anggapan dan pemahaman yang sesat yang justru akan membahayakan aqidah islam yang sesungguhnya.

Berangkat dari permasalahan yang sudah menjadi hal layak publik ini, tentu kita semua berharap adanya kewaspadaan terhadap pengembangan ideologi agama yang jauh dari haqiqat islam yang sesungguhnya dengan tetap menjaga utuh nilai-nilai ajaran ahli sunnah yang terkonsep pada risalah para ulama salafus sholeh sebagai pewaris para anbiya.

Hanya kepada Alloh S.W.T kita semua berlindung dan memohon petunjuk serta bimbingannya sehingga terbebas dari hal-hala yang justru akan merusak nilai-nilai aqidah Islam yang sudah tertanam dalam diri kita masing-masing.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com