Doa Anak Shalih dan Tidak Shalih Bagi Orang Tua Suul Khatimah Ataupun Sebaliknya

Doa Anak Shalih dan Tidak Shalih Bagi Orang Tua Suul Khatimah Ataupun Sebaliknya

Almunawwar.or.id – Ketulusan hati untuk senantiasa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang yang terkasih dan tersayang seperti pada sanak keluarga, kedua orang tua itu memang tidak memandang dari segi pengukuran amalan ketika dan semasa hidup di dunia ini, terlepas dari amal baik atau banyaknya amal buruk.

Sehingga tiada yang tidak berharga dan bermanfaat jika memang kehendak Alloh S.W.T mengiringi semua lantunan dan harapannya tersebut yang terlantunkan pada sebait doa ataupun beribu pengharapan yang selalu terselipkan ketika tangan mengadahkan dalam aktivitas berdoa.

Karena jika melihat daripada keadilan dan begitu maha luasnya karunia yang Alloh S.W.T berikan kepada hambanya itu sesulit apapun ataupun sekotor apapun amalan hamba ketika hidup di dunia nya itu maka tidak ada dosa yang tidak di ampuninya.

Begitu pula ketika seorang anak ataupun siapa saja yang berdoa kepada kedua orang tuanya, namun sebagaimana diketahui semasa hidupnya orang terkasih (orang tua) itu banyak berbuat maksiat daripada taatnya, sehingga kebawa mati sebelum benar-benar dia kembali bertaubat kepada Alloh S.W.T.

Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya rasa pesimis dalam benak dan pemikiran orang yang berdoa tersebut, apakah sampai doa-doanya tersebut sampai dan bermanfaat bagi kedua orang tuanya atau malah sebaliknya, dan hal seperti inilah salah satu kutipan yang akan di jelaskan berikut ini.

Allah S.W.T berfirman dalam hadits Qudsiy : “Wahai Keturunan Adam, ketika kau berharap dan berdoa kepada Ku, kuhapuskan dosa dosa kalian dan tidak kupertanyakan lagi, wahai keturunan Adam, walau sampai dosamu memenuhi langit, dan kau mohon ampun pada Ku, kulimpahkan pengampunan Ku (HR Ahmad).

Dari keterangan tersebut menutur kemudian bahwa tidak ada doa yang tidak terkabulkan dan sampainya semua doa yang di panjatkan oleh seorang hambanya, meskipun latar belakang dari amalan hidup dan kehidupan seseorang yang di doakannya tersebut penuh dengan kemaksiatan dan dosa.

Dan salah satu keterangan lain yang mengisyaratkan bahwa karunia Allah S.W.T itu tiada terhingga dan pula tiada terukur jika sudah di kehendaki untuk pengampunan bagi hambanya, salah satu di antaranya adalah sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Annas R.A.

عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول – قال الله تعالى : يا بن ادم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان ولا أبالي , يا بن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك , يا بن ادم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة – رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

Artinya : “Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman :  “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih).

Dan memang secara teori do’a anak sholeh bermanfaat (bisa diharapkan meringankan siksa) bagi kedua orang tuanya, selama kedua orang tuanya tidak melakukan dosa syirik selama hidupnya. Namun realitasnya wallohu a’lam. Sehingga tetaplah mendo’akan kedua orang tua kita, jika kedua nya meninggal dalam keadaan muslim, betapapun kita melihatnya banyak melakukan dosa dan maksiyat selain syirik.

Jangan pernah lelah dan berputus asa untuk tetap mendoakannya meskipun sudah lama meninggal, ataupun melakukan amalan-amalan yang di anjurkan yang pahalanya di khususkan untuk mayit orang tua kita tersebut. Bahkan seyogyanya di jadikan rutinitas penting di setiap waktunya.

Sebab sudah banyak hadits Nabi saw. yang berarti bahwa amalan-amalan orang yang hidup bermanfaat bagi si mayit diantaranya ialah do’a kaum muslimin untuk si mayit pada sholat jenazah dan sebagainya (baca keterangan sebelumnya) yang mana do’a ini akan diterima oleh Allah S.W.T.

Pelunasan hutang setelah wafat, pahala haji, pahala puasa dan sebagainya (baca haditsnya dihalaman selanjutnya) serta do’a kaum muslimin untuk sesama muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat sebagaimana yang tercantum pada ayat Ilahi Al-Hasyr ayat 10 .

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Mengapa dalam hadits ini dicontohkan do’a anak yang sholeh karena dialah yang bakal selalu ingat pada orang tuanya dimana orang-orang lain telah melupakan ayahnya. Sedangkan anak yang tidak pernah atau tidak mau mendo’akan orang tuanya yang telah wafat itu berarti tidak termasuk sebagai anak yang sholeh.

Sebab dari anak sholeh ini si mayit sudah pasti serta selalu (kontinu) menerima syafa’at darinya. Begitulah yang dimaksud makna dari hadits ini, dengan demikian hadits ini tidak akan berlawanan/berbenturan maknanya dengan hadits-hadits lain yang menerangkan akan sampainya pahala amalan orang yang masih hidup (penebusan hutang, puasa, haji, sholat dan lain-lain) yang ditujukan kepada simayit.

Begitu juga mengenai amal jariahnya dan ilmu yang bermanfaat selama dua hal ini masih diamalkan oleh manusia yang masih hidup, maka si mayit selalu (kontinu) menerima juga syafa’at darinya, Sehingga sangat bermanfaat bagi si mayit tersebut.

Tidak hanya menafsirkan secara real saja dalam kontek hanya doa anak shalih saja yang bisa memberikan manfaat bagi seorang mayit, karena hal tersebut di rasa kurang tepat. sebab tentu akan ada pertanyaan bagi mereka yang tidak mempunyai dan tidak di karunia anak semasa hidupnya.

Ataupun permasalahan yang sering di rasakan oleh mereka seorang anak yang bermaksiat akan tetapi tetap dan selalu mendoakan kedua orangnya, apakah doanya tersebut berdampak manfaat bagi kedua orang tua (meringankan siksa kubur) atau tidak sama sekali.

Nah hal seperti ini juga tentu sudah menjadi bagian penting dari pada penjelasan hadits-hadits tadi seperti yang sudah di bahas tadi, karena memang jika melirik dari pada keterangan akan sampainya

إذا مات المسلم وفي رواية ابن آدم. انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح أى مسلم يدعو له وفائدة التقييد به مع أن دعاء الغير ينفعه تحريض الولد على الدعاء لأصله. إعانة الطالبين ٣/١٥٧

Tiga amal yang tidak terputus : amal jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak yang soleh / muslim yang mendo’akan. Tapi untuk no 3 tidak khusus anaknya saja / setiap orang islam yang mendoakan pahalanya sampai pada mayit, dalam hadits di atas menyebutkan anak hanya sebagai motivasi pada anak untuk mendo’akan orang tuanya yang meninggal.

Dalam keterangan lain yang di jabarkan dalam salah satu kitab karangan Ulama yaitu I’anatutholibin dengan penafsiran bahwa yang di maksud dengan kalimah “Walad” itu yang di itlaqkan itu khusus namun yang di maksudnya adalah umum termasuk dalam hal ini adalah orang-orang muslim.

Adapun yang di maksud dengan ucapan “Yad’u lahu” adalah sababiah sampainya doa yang di panjatkan tersebut baik bagi kedua orang tuanya ataupun bagi dirinya sendiri, sehingga sangat di harapkan itu menjadi bagian dari pada doa yang sampai kepada seorang mayit.

اعانة الطالبين : (قوله: أو ولد) فائدة التقييد به، مع أن دعاء الغير ينفعه، تحريض الولد على الدعاء لاصله.وقوله أي مسلم، أي أن المراد بالصالح: المسلم، فأطلق الخاص وأراد العام.وعبارة المغني، والولد الصالح هو القائم بحقوق الله وحقوق العباد، ولعل هذا محمول على كمال القبول، وأما أصله فيكفي فيه أن يكون مسلما.اه.(وقوله: يدعو له) أي لابيه بنفسه، أو بتسبب في دعاء الغير لابيه.فدعاؤه له مستعمل في حقيقته وفي مجازه، وهو التسبب

Sehingga tidak apa-apa, boleh dan tetap dianjurkan, karena yang dimaksud dengan sholeh adalah muslim. Jika anak sholih maka lebih baik dan sempurna terkabulkan doanya, beda dengan anak tidak sholih, tapi tetap nyampe bi idznillaah karena inti nyampe’nya doa adalah doanya anak muslim atau orang muslim. Hanya saja seorang anak yang fajir/fasiq sebaiknya taubat dan istighfar terlebih dahulu sebelum memulai do’a.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id