Doa Khitan Keselamatan Anak Bahasa Arab Latin dan Artinya Sesuai Sunnah

Doa Khitan Keselamatan Anak Bahasa Arab Latin dan Artinya Sesuai Sunnah

Almunawwar.or.id – Ada beberapa amalan ibadah yang semenjak jaman dahulu sudah menjadi sebuah keharusan, Salah satunya adalah khitan yang di syari’atkan pada jaman Nabi Ibrahim A.S dan sampai sekarang ini sudah menjadi kewajiban terutama bagi para orang tua. Dimana anak laki-laki dari keluarga tersebut harus di khitan terlebih dahulu sebelum memasuki masa baligh. Khitan sendiri merupakan memotong bagian kulit kemaluan (kuluf) yang melingkupi bagian depannya.

Karena jika tidak di potong pada bagian tersebut maka sisa-sisa air kencing akan masuk dan diam di kuluf itu, Sehingga jika di bawa shalat misalnya itu tidak syah karena seolah-olah membawa najis. Sehingga bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki kewajiban selanjutnya setelah memberi nama dan cukuran rambut adalah ketika anak sudah cukup umur untuk di khitan, maka bersegeralah sebelum waktu baligh nya datang.

Semakin cepat semakin baik, karena di khawatirkan jika di nanti-nanti kulit dari pada kuluf tersebut akan sedikit susah dalam memotongnya yang membuat setidaknya membuat rasa sakit bagi seorang anak, meskipun pada masa sekarang ini sudah begitu mudah proses khitan tanpa memberikan rasa sakit bagi anak, Namun alangkah lebih baiknya apabila sudah cukup syarat baik orang tua maupun anaknya maka bersegera untuk di khitan itu jauh lebih baik.

Dalam syariat agama Islam khitan yang tidak hanya sebuah kewajiban bagi orang tua dan anak, namun itu merupakan salah satu bagian penting terhadap sisi keabsahan ibadah lainnya seperti yang telah di kemukakan di atas tadi, Jadi selama belum di khitan maka apa yang menjadi hal di syaratkan di dalamnya maka itu tidak syah hukumnya. Termasuk bagi orang muallaf dewasa, berkhitan itu merupakan sebuah kewajiban.

Dan dalam masalah khitan sendiri banyak di terangkan dalam kitab-kitab fiqih juga dari doanya, Seperti beberapa redaksi berikut ini yang

Dalam Kitab Hilyatun Nufus lil ‘Aris wal ‘Arus, tertulis sebuah doa ketika seseorang akan dikhitan yakni:

اَللَّهُمَّ هَذِهِ سُنَّتُكَ وَسُنَّةُ نَبِيِّكَ، صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَآلِهِ، وَاتِّبَاعٌ مِنَّا لِنَبِيِّكَ، بِمَشِيْئَتِكَ وَإِرَادَتِكَ وَقَضَائِكَ لِأَمْرٍ أَرَدْتَهُ وَقَضَاءٍ حَتَمْتَهُ، وَأَمْرٍ أَنْفَذْتَهُ، وَأَذَقْتَهُ حَرَّ اْلحَدِيْدِ فِيْ خِتَانِهِ وَحِجَامَتِهِ بِأْمْرٍ أَنْتَ أَعْرَفُ بِهِ مِنِّيْ

Allāhumma hādzihī sunnatuka wa sunnatu nabiyyika, shalawātuka ‘alayhi wa ālihī, wat tibā‘un minnā li nabiyyika, bi masyī’atika, wa irādatika, wa qadhā’ika li amrin aradtahū, wa qadhā’in hatamtahū, wa amrin anfadztahū, wa adzaqtahū harral hadīdi fī khitānihī wa hijāmihī bi amrin anta a’rafu bihī minnī.

Artinya, “Ya Allah, ini adalah sunnah-Mu dan sunnah nabi-Mu. Semoga rahmat tercurah padanya dan keluarganya. Dan kami mengikuti nabi-Mu dengan kehendak-Mu dan qadha-Mu. Karena suatu hal yang Engkau inginkan. Karena suatu hal ketentuan yang Engkau tetapkan. Karena suatu perkara yang Engkau laksanakan, dan Engkau merasakan padanya panasnya besi dalam khitan dan bekamnya karena suatu perkara yang Engkau lebih tahu dari aku.

” اَللَّهُمَّ فَطَهِّرْهُ مِنَ الذُّنُوْبِ، وَزِدْ فِيْ عُمْرِهِ وَادْفَعِ اْلآفَاتِ عَنْ بَدَنِهِ وَاْلأَوْجَاعِ عَنْ جِسْمِهِ، وَزِدْهُ مِنَ اْلغِنَى وَادْفَعْ عَنْهُ اْلفَقْرَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلَا نَعْلَمُ

Allāhumma fa thahhirhu minadz dzunūb, wa zid fi umrihī, wadfa‘il āfāti ‘an badanihī wal awjā‘i ‘an jismihī, wa zidhu minal ghinā, wadfa‘ ‘anhul faqra, fa innaka ta‘lamu wa lā na‘lamu. Artinya, “Ya Allah, maka sucikanlah dia dari dosa-dosa. Tambahlah umurnya. Jagalah tubuhnya dari penyakit. Dan tambahlah kekayaan padanya dan jauhkan dari kefakiran. Maka sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara kami tidak mengetahui”.

Sementara dalam Kitab Perukunan Melayu terbitan Alaydrus, halaman 50, disebutkan sebuah doa dari orang tua untuk anak dan keturunannya agar senantiasa dalam keadaan selamat, yakni:

اللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ النَّبِيِّ وَالحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيْهِ وَنَجِّنِيْ مِنَ الغَمِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، وَأَسْئَلُكَ أَنْ تُحْيِيَ قَلْبِيْ بِنُوْرِ مَعْرِفَتِكَ أَبَدًا أَبَدًا يَا رَسُوْلَ اللهِ يَا اللهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Allāhumma bi hurmatin nabiyyi, wal hasani, wa akhīhi, wa ummihī, wa abīhi, najjinī minal ghammil ladzī fīhi, yā hayyu, yā qayyūmu, yā dzla jalāli wal ikrāmi, wa as’aluka an tuhyiya qalbī bi nūri ma‘rifatika abadan abadan, yā rasūlallāhi, yā allāhu, yā arhamar rāhimīna, wal hamdu lillāhi rabbil ‘ālamīna.

Artinya, “Ya Allah, demi kehormatan Nabi Muhammad SAW, Hasan, saudaranya, ibunya, dan bapaknya, selamakanlah aku dari kebingungan yang ada di dalamnya. Wahai Zat yang hidup, wahai Zat yang maha tegak, wahai Zat yang maha besar dan mulia, aku memohon kepada-Mu agar menghidupkan hatiku dengan cahaya makrifat-Mu selamanya, wahai Rasulullah, ya Allah (3 kali), dengan rahmat-Mu, wahai Zat yang maha pengasih. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.”

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id