Doa Tata Cara Menjenguk Orang Sakit Sesuai Sunnah Dan Hikmah di Balik Kesabaran

Doa dan Tata Cara Menjenguk Orang Sakit Sesuai Sunnah

Almunawwar.or.id – Sudah menjadi kewajiban bagi seorang Muslim  apabila ada seseorang yang sedang diberikan ujian seperti sakit dan lain sebagainya untuk bisa memberikan semangat dengan menjenguknya ataupun mengunjunginya dengan melaksanakan amalan tatakrama menjenguk sesuai sunnah Baginda Rasululloh S.A.W.

Karena bagaimanapun juga antara muslim dengan muslim lainnya adalah laksana seperti jasad yang satu dan bersatu “Almuslim wal muslim Kaljasadilwahid” ataupun di ibaratkan seperti kedua belah tangan “Almuslim wal Muslim Kalyadaini” yang tentunya sangat saling membutuhkan dan saling merasakan satu sama lain.

Begitu juga ketika seorang muslim sedang dalam keadaan sakit, sudah menjadi kewajiban bagi Muslim lain untuk menjenguknya dan melakukan amalan doa dan tata cara terbaik sesuai dengan sunnah oleh Baginda Rasulullloh S.A.W.

Ibnu Abbas berkata :

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَبِيٍّ يَعُوْدُهُ فَقَالَ: لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ! كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُوْرُ –أَوْ تَثُوْرُ- عَلَى شَيْخٍ كَبِيْرٍ تزيره القبور. فَقَالَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَنَعَمْ إِذًا “

Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menjenguk seorang a’raby (arab badui), beliau bersabda, “Tidak mengapa, (sakitmu ini sebagai) pembersih dosa insya Allah.” Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Pembersih dosa?! Sekali-sekali tidak, bahkan ini adalah demam yang mendidih -atau bergejolak- pada seorang yang sudah tua renta, yang akan mengantarkannya kepada kubur.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau demikian, benar (ia adalah pengahapus dosa).” (H.R Bukhari)

1. Duduk di dekat kepala si sakit dan mendoakannya
Ibnu Abbas berkata

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا عَادَ الْمَرِيْضَ جَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، ثُمَّ قَالَ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمَ أَنْ يَشْفِيَكَ، فَإِنْ كَانَ فِيْ أَجَلِهِ تَأْخِيْرٌ عُفِيَ مِنْ وَجَعِهِ

Artinya : “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menjenguk orang sakit beliau duduk di dekat kepala orang tersebut. Kemudian beliau berucap sebanyak tujuh kali. “Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, pemilik ‘Arsy yang besar untuk menyembuhkanmu. Maka apabila dalam ajalnya yang datang kemudian, semoga dia diselamatkan (dibebaskan) dari rasa sakitnya.”(H.R Bukhari)

2. Meletakkan tangan pada wajah dan perut orang yang sakit

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدٍ : أَنَّ أَبَاهَا قَالَ : اشْتَكَيْتُ بِمَكَّةَ ، فَجَاءَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَعُودُنِي ، فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِي ، ثُمَّ مَسَحَ صَدْرِي وَبَطْنِي ، ثُمَّ قَالَ : ” اللَّهُمَّ ، اشْفِ سَعْدًا ، وَأَتْمِمْ لَهُ هِجْرَتَهُ

Artinya :”Dari Aisyah binti Sa’d dari Ayahnya, bahwa ia berkata; “Aku pernah menderita rasa sakit yang amat berat ketika di Makkah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguk dan beliau mengusap wajah dan perutku sambil berdo’a:“Ya Allah, sembuhkanlah penyakit Sa’d dan sempurnakanlah hijrahnya.” (H.R Bukhari)

3. Mendo’akan dgn membaca do’a berikut ini 7 kali:

أسأل اللَّه العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك

Artinya : “Aku memohon ampunan kepada Alloh yang maha Agung, Dzat yang menciptakan Arsy yang besar dan yang memberikan kesembuhan kepada orang yang sakit.”

Berdasarkan keterangan yang telah di riwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Muni’, Abi Dawud, Imam Turmudzi, dan Imam Nasa’i dalam melakukan amalam dalam satu hari satu malam serta Ibnu Hibban dalam shahihnya serta Imam Hakim dalam sahih bukhori :

” أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، أَنْ يُعَافِيَكَ وَيَشْفِيَكَ ” . في الدعاء للمريض ، هو عند الإمام أحمد ، وابن منيع ، وأبي داود ، والترمذي وحسنه ، والنسائي في عمل اليوم والليلة ، وابن حبان في صحيحه ، والحاكم ، وقال : صحيح على شرط البخاري ، كلهم عن ابن عباس رفعه : ” من عاد مريضا لم يحضر أجله ، فقال عنده سبع مرات : أسأل اللَّه العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك ” ، ليس عند أحد منهم ” يعافيك ” ، وهي مستفيضة على الألسنة ، بل ربما يقتصر عليها ، ولم أرها في شيء من الكتب ، نعم في الدعاء للطبراني ، بلفظ : ” من دخل على مريض فقال : أسأل اللَّه العظيم ، رب العرش العظيم ، أن يعافيك ، إلا عوفي ما لم يحضر أجله ” ، وكذا هو عند أبي نُعيم في عمل اليوم والليلة ، وفي آخره أن بعض رواته رفعه مرة ووقفه مرتين ، هذا كما ترى اقتصر فيه على العافية ، وقد وقعتا مجتمعتين في نسخ عدة الحصن الحصين لابن الجزري العافية ، لكن ملحقة بالهامش ، وجوزت غلطها فإنها ليست في أصله الحصن الحصين

قال المصنف رحمه الله تعالى ( وتستحب عيادة المريض لما روى البراء بن عازب رضي الله عنهما قال : ” { أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم باتباع الجنائز ، وعيادة المرضى } ” فإن رجاه دعا له والمستحب أن يقول : ” أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك ” سبع مرات لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { من عاد مريضا لم يحضره أجله فقال عنده سبع مرات أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك عافاه الله من ذلك المرض }

Mushonnif berkata : “Dianjurkan untuk menjenguk orang yang sakit” sebagaimana yang telah di riwayatkan oleh Imam Buro bin Azib R.A. Rasululloh S.A.W bersabda ” Rasullalloh S.A.W telah memmerintahkan kepada kita semua untuk menjenguk orang yang sakit dan jika mendatanginya, maka di sunnatkan untuk membaca doa أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك 7 kali. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Baginda Rasululloh S.A.W “Sesungguhnya Nabi bersabda “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit maka di anjurkan untuk membacakan ” أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك عافاه الله7 kali dekat orang yang sait tersebut.”

Keutamaan Bersabar
1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).

2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).

3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).

4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).

5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).

6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).

7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).

8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).

9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar).

10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).
Penjelasan: Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.

12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).

13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la).

14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad).

15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani).

16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami).

17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

Wallohu ‘Alamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com