Dua Kesuksesan Yang di Raih Oleh Al-Battani, Ulama Sang Ahli Astronomi

Dua Kesuksesan Yang di Raih Oleh Al-Battani, Ulama Sang Ahli Astronomi

Almunawwar.or.id – Kemajuan teknologi astronomi saat ini yang begtiu berkembangn pesat memang tidak leas dari sisi penemuan yang begitu fenomenal dari para pendahulunya yaitu para ilmuwan yang dengan kemahiran dan kejeniusannya tersebut mampu memberikan kontribusinya yang besar dalam sejarah dunia.

Salah satu di antara dari ilmuwan tersebut adalah Syeikh Al Battani yang merupakan seorang Ulama juga ilmuwan Irak yang hidup pada tahun 850-923 M. Dimana beliau mampu memecahkan tentang hal-hal yang berkaitan erat dengan ilmu di bidang tata surya dan perbintangan.

Menariknya lagi dalam melahirkan penemuannya tersebut, Sang ilmuwan Albattani mengunakan sistem otodidak dengan kepintaran dan kejeniusannya yang bersumber dari beberapa kitab islami itu mampu mengembangkan teknologi tersebut sebelum pada akhirnya di lanjutkan oleh para re generasi selanjutnya.

Kemahiraannya dalam bidang tersebut rupanya menjadi indikasi tersendiri terhadap terciptanya penemuan teknologi yang berada pada ruang lingkup ilmu astronomi tersebut di antaranya Astronomi juga mempelajari asal usul penciptaan alam, tata surya, galaksi, planet, rasi, dan benda-benda langit lainnya.

Dimana secara persfektif ada beberapa istilah yang mengarah langsung pada pengembangan ilmu astronomi tersebut seperti Bola langit yang merupakan suatu bangun khayal yang berbentuk bola dengan bumi sebagai pusatnya sedangkan benda-benda langit lain seakan menempel pada kulit bola tersebut.

Selanjutnya ada yang di sebut dengan Sumbu langit, Dimana perpanjangan sumbu bumi hingga memotong kulit bola bumi. Dan perpanjangan sumbu langit tersebut maju ke arah utara akan memotong kulit bola langit di kutub langit utara (KLU). Sedangkan perpanjangan sumbu langit ke arah kutub selatan memotong kulit bola langit di kutub langit selatan (KLS).

Ada juga yang disebut dengan lingkaran besar itu adalah lingkaran pada bola langit dengan bumi (pusat bola) sebagai pusat lingkaran. Begitu juga dengan lingkaran kecilyang ada pada bola langit dengan pusat lingkaran selain pusat bola.

Nadir yang ada titik di langit tepat di bawah kaki seorang pengamat dengan bersumber pada zenit adalah titik di langit tepat di atas kepala seorang pengamat, juga dari Meridian langit adalah lingkaran besar vertikal pada bola langit melalui titik utara (U) dan titik selatan (S).

Berikutnya ada yang di sebut dengan Horizon yaitu sebuah lingkaran besar horizontal (melintang) pada bola langit dimana bumi berperan sebagai pusat lingkaran tersebut untuk membentuk lingkaran almukantari yaitu lingkaran kecil yang sejajar dengan horizon dan melalui benda langit.

Juga dari lingkaran tinggi yang merupakan lingkaran besar vertikal yang melalui benda langit dan proyeksi benda langit tersebut pada horizon. Ada juga yang di sebut dengan bujas (bujur astronomis) dari suatu bintang adalah busur pada lingkaran ekuator yang diukur dari titik Aries berlawanan arah dengan peredaran semu harian sampai proyeksi bintang tersebut pada ekliptika.

Dimana proses berjalannya beberapa istilah tersebut sangat membutuhkan lintas (lintang astronomis) yaitu suatu yang ada pada busur lingkaran bintang astronomis, antara bintang tersebut, dan proyeksinya pada ekliptika yang mampu berjalan pada titik koordinatnya.

Ada juga yang di sebut dengan deklinasi yaitu suatu bintang adalah busur pada lingkaran deklinasi yang menyatakan jarak antara bintang tersebut dengan proyeksinya pada ekuator. Dan juga titik Aries (titik musim semi) yaitu titik potong antara lingkaran ekliptika (bidang orbit bumi) dengan lingkaran ekuator.

Dalam menggambar bola langit, ilmu Astronomi mengenal tiga macam tata koordinat bola langit, diantaranya adalah tata koordinat horizon, tata koordinat ekuator, dan tata koordinat ekliptika. Dan secara replikanya tersebut dari cara menggambar bola langit yang paling banyak digunakan adalah tata koordinat horizon.

Alasan mengapa dari penggambarannya menggunakan koordinat horizon, Sebab salah satu keunggulan dari pada tata koordinat horizon itu adalah caranya sederhana dan relatif mudah dilukis. Namun ada juga kelemahannya yaitu hanya dapat digunakan untuk melukiskan keadaan bola langit pada waktu dan tempat tertentu.

Kembali pada sejarah terciptanya penemuan ilmu bidang Astronomi yang di prakarsai oleh seorang Albattani, Dimana beliau merupakan ahli astronomi terbesar di kalangan orang Arab yang terkenal akan kemahiran dan kejeniusannya dalam memecahkan sebuah masalah yang menyangkut pada ilmu perbintangan.

Sedangkan nama lengkapnya tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqa al-Harrani al-Sabiʾ al-Battani. Dia lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Dua penemuan yang paling terkenal dan fenomenal dari seorang Syeih Albattani itu adalah :
1. Beliau menggunakan metode dan alat teropong yang jauh lebih maju dari pada yang dimiliki oleh orang Yunani. Bahkan sebagian peralatan yang ada yang tidak diketahui sama sekali oleh mereka, Sekaligus menjadi kelebihan tersendiri jika di banding dengan para Ilmuwan lainnya.

2. Beliau juga menggunakan hitungan yang akurat dalam menghitung persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam ilmu astronomi. Hitungan yang dipergunakan jauh lebih maju daripada yang dipergunakan oleh orang Yunani, termasuk hitungannya dalam berbagai segitiga yang juga belum dikenal oleh mereka.

Dari kesuksesan yang melahirkan cara dari dua penemuan tersebut itu tidak lepas dari terciptanya cikal bakal terhadap lahirnya sebuah penemuan tekologi yang di gagas oleh Al battani itu sendiri, atau lebih tepatnya beliau mendalami astronomi sejak berusia 20 tahun hingga akhir hayatnya.

Bahkan La Lande, seorang ahli Astronomi dari Perancis mengatakan bahwa Al-Battani termasuk salah seorang dari 20 orang besar ahli astronomi dalam sejarah manusia. Ia juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Alam Semesta bahwa Al-Battani merupakan ahli astronomi paling besar pada bangsa dan zamannya, selain salah seorang ilmuwan besar Islam.

Para ilmuwan astronomi sebelumnya banyak merujuk kajian astronomi kepada ilmu astronomi Yunani terutama kepada karya-karya Ptolomeus dan ilmu astronomi India. Naskah teoritis dan mendasar mereka adalah buku Ptolomeus yang dikenal oleh orang Arab dengan judul Al-Majesty.

Para ahli astronomi Arab banyak yang mengikuti Ptolomeus yang berpendapat bahwa bumi dian dan dikitari oleh delapan planet: Matahari, bulan, 5 planet dan bintang. Untuk membuktikan kesesuaian antara tatanan seperti itu dan kenyataan yang ada, dia meletakkan aturan perputaran dan hitungan matematisnya.

Akan tetapi dengan berlalunya waktu tahu, Bangsa Arab tahu mengenai kelemahan Ptolomeus sehingga mereka mengkritiknya tanpa memberikan jalan keluar. Sehingga bermunculan spekulasi tentang daya penciptaan dan penemuannya tersebut yang sudah di publikasikannya tersebut.

Pada awalnya kegiatan Al-Battani tercurahkan kepada yang dinamakan al-zayj atau kalender astronomi yang dia buat pada tahun 900 masehi dengan sangat cermat dan akurat. Pengamatannya yang sangat akurat mengenai gerhana matahari menjadi dasar yang pasti bagi pengamatan sejenis hingga tahun 1749 Masehi.

Semuanya tertata dengan rapih dan berhasil di catatkan pada sebuah buku yang di berinama Al-Zayj, Dimana buku tersebut berisi hasil-hasil peneropongannya terhadap bintang-bintang tetap. Dan buku tersebut pula telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Latin dan bahasa Spanyol.

Pengaruhnya sangat besar bukan saja dalam bidang ilmu astronomi untuk kalangan bangsa Arab saja, melainkan juga dalam ilmu astronomi dan hitungan segitiga lingkaran pada bangsa Eropa pada abad pertengahan dan awal renaissance. Dia telah menetapkan hitungan yang sangat akurat mengenai panjang hitungan tahun dan pembagian musimnya serta peredaran yang pasti untuk Matahari.

Al-Battani juga membenarkan ucapan Ptolemeus mengenai tetapnya posisi bumi yang berjauhan dengan matahari, dengan membangun dalil atas perubahan yang terjadi pada teori yang ditemukan Ptolomeus dan dengan mengikuti gerakan rata-rata planet tersebut. Akhirnya Al-Battani mendapatkan kesimpulan bahwa penyesuaian waktu berubah sangat lamban. Al-Battani juga memastikan perubahan sudut tampak matahari, dan kemungkinan terjadinya gerhana matahari total.

Selain itu, Al-Battani juga meluruskan sejumlah pengetahuan mengenai gerakan bulan dan bintang bergerak. Dia membuat teori baru yang menunjukkan tingkat kecerdasan dan keluasan wawasannya, yang menjelaskan kondisi dimana bulan bisa terlihat, dan memantapkan gerakan rata-rata yang ditemukan oleh Ptolemeus.

Dia juga memiliki hasil peneropongan gerhana bulan dan gerhana matahari yang dijadikan patokan oleh Dantrhone pada tahun 1749 M tentang batas kecepatan bulan dalam satu abad. Dia memberikan pemecahan yang sangat bagus melalui pencarian titik tengah bagi segitiga lingkaran.

Dalam bidang ilmu pasti Al-Battani adalah orang yang pertama kali memasukkan sinus dan cosinus dalam ilmu pasti. Dia menggunakan sinus dan cosinus sebagai ganti hypotenuse yang banyak digunakan oleh orang Yunani. Lalu dia menyempurnakan definisi bayangan semu dan bayangan inti, selain membuat daftar untuk dua hal tersebut.

Penemuan hukum segitiga sama sisi yang sempurna pun dinisbatkan kepadanya. Selain itu dia juga memecahkan berbagai persoalan hitungan ala Yunani dengan menggunakan cara ilmu ukur untuk mengetahui detail ukurannya.

Hasil yang dicapai oleh Al-Battani dalam ilmu Astronomi mendapatkan tempat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dia adalah seorang ahli ilmu astronomi yang brilian tanpa menggunakan peralatan yang canggih yang baru ditemukan pada abad ke-17.

Itulah sekilas kisah tentang awal dari pada di temukannya ilmu bidang Astronomi yang di ciptakan oleh seorang Ulama besar yang mampu memberikan perubahan dan warna tersendiri terhadap daya cipta dan manfaat besar peradaban dunia ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id