Eksistensi dan Relasi Kitab Kuning Dalam Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

Eksistensi dan Relasi Kitab Kuning Dalam Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

Almunawwar.or.id – Tidak dapat di pungkiri memang eksistensi yang di timbulkan dari perubahan jaman sekarang ini menuntut semua kalangan untuk bisa peka terhadap situasi dan kondisi yang menuntun dan mengarahkan ruang publik ke arah opini yang lebih substansial lagi.

Termasuk pada pembelajaran kurikulum yang di kaji dan di pahami di beberapa lembaga pendidikan, baik formal dan non formal. Dimana kesetaraan antara pemahaman ilmu yang bersifat umum dan ilmu yang lebih khusus itu harus di berdayakan pasti agar tidak ada ketimpangan dari pola penyeimbangan hasil dari pada ilmu itu sendiri.

Terutama bagi para pelajar dan pengajar di sebuah Pondok Pesantren yang merupakan cikal bakal lahirnya generasi-genarasi muda islam di masa yang akan datang, juga sebagai penopang terhadap kemajuan jaman di era milenal ini dengan segala tantangan dan rintangannya.

Dimana metode pembelajaran yang semestinya menjadi pilar dari dunia pendidikan ke pesantrenan meskipun bisa dikatakan lebih klasik itu harus di senantiasa di jadikan barometer kekuatan dan keunggulan yang bisa di tonjolkan dari sebuah lembaga pendidikan khususnya dari Pondok Pesantren itu sendiri.

Eksistensi santri dan kitab kuning mampu menjawab perubahan zaman jika metode pengkajian kitab tersebut tidak terpaku kapada teks saat kitab tersebut ditulis, melainkan menyesuaikan dengan kondisi zaman pembaca. Perkembangan sains dan teknologi menuntut santri untuk merekonstruksi kitab kuning.

Sehingga menjadi kekuatan yang khas dalam kehidupan terkini. Bukan malah ditinggalkan karena dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman, dan juga tidak bersikap anti-modernisasi dengan bersikukuh berpegang teguh kepada teks kitab kuning.

Sebab kalau berbicara tentang sistem pendidikan, di sini pesantren memiliki kekhasan dalam mendidik santri-santrinya. Salah satunya adalah adanya karya ulama salaf shalih yang menjadi sumber rujukan atau yang lebih kita kenal dalam dunia pesantren sebagai kitab kuning.

Kitab kuning ini sudah menjadi candu dalam dunia pesantren, ketiadaannya merupakan kemustahilan dan bukanlah pesantren jika tidak ada kitab kuning dalam pengajarannya. Apapun ilmunya mulai dari fikih, nahwu, sharaf, tafsir, hadits, dan banyak lagi keilmuan Islam yang menggunakan kitab kuning sebagai sumbernya.

Karena seseorang bisa jauh lebih menggali lagi ilmu-ilmu yang menjadi tolak ukur para Ulama terdahulu dalam memberikan fatwa sesuai dengan pengalamannya yang tercurah lewat karya-karya terbaik para Ulama tersebut pada sebuah karangan kitab kuning.

Lebih jelasnya lagi, seseorang bisa memahami, mengerti akan tujuan dari pada kalam suci Alquran dan Al hadits itu tergantung dari kepiwaian dalam segi pemahaman dari literasi kitab kuning itu sendiri, yang dalam hal ini menjadi landasan ilmu dalam segi penerangan dan penghayatannya.

Di sisi lain sistem pengajaran yang menggunakan kitab kuning di pesantren mengalami banyak perubahan dalam perjalanannya. Dimulai dari yang klasikal yakni kiai membaca dan memaknai kitab sedangkan santri mencatatnya dan santri membaca sedangkan kiai sebagai pengoreksi bacaan santri (sorogan).

Dan tamatnya pembelajaran apabila kitab yang dibaca sudah khatam, hingga sistem kelas dan tingkatan-tingkatan mulai dari ibtidaiyah, tsanawiyah, sampai aliyah. Pada akhirnya sistem ini mengalami pemformalan dengan adanya ijazah dan lembaga yang semulanya tidak diakui negara menjadi lembaga formal di bawah Kementrian Agama.

Hal ini senada dengan maksud dan tujuan dari adanya sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren yang mampu mencetak genarasi-generasi muda islam yang siap menjawab semua tantangan hidup dan kehidupan ini dengan menjadikan kitab kuning sebagai rujukan serta Alquran dan Asunah sebagai sumber semua ilmu.

Meskipun tidak di pungkiri memang semua jawaban dari pada tantangan dan rintangan di era milenal ini sangat di butuhkan realisasi dari dukungan ilmu-ilmu lainnya, akan tetapi prospek ke depan untuk lebih memberikan situasi dan kondusifnya jama itu tergantung dari generasi muda islam selanjutnya yang berdedikasi pada sistem materi pembelajran dair pondok pesantren itu sendiri.

Lalu pertanyaannya adalah apakah kitab kuning cukup bagi kita, sedangkan kita hidup di zaman dan tempat yang berbeda dari kehidupan mereka, ulama salaf sholih, dan tentu saja perbedaan zaman dan tempat menuntut keadaan dan problem yang berbeda.

Tentu saja kita butuh komparasi dalam belajar agar kita bisa menjadi pribadi yang berjalan ke depan melintasi rintangan dan ganjalan yang ada. Tetapi tetap melihat ke belakang, mungkin saja kejadian di belakang mencerminkan rintangan yang akan datang.

Jika pun tidak ada, lintasi dengan cara kita sendiri yang membuat kita tetap berada dalam jalur yang benar dan tak tersesat pada akhirnya, hingga sampailah kita pada tujuan yang sesungguhnya.

Rekonstruksi merupakan penafsiran data psikoanalitis sedemikian rupa, untuk menjelaskan perkembangan pribadi yang telah terjadi, beserta makna materinya yang sekarang ada bagi individu yang bersangkutan. Dalam ilmu filsafat, teori ini terdapat dalam filsafat pendidikan yang bercirikan radikal atau sangat mendalam.

Bagi aliran ini, persoalan-persoalan pendidikan dan kebudayaan dilihat jauh ke depan dan jika perlu diusahakan terbentuknya tata peradaban yang baru.

Dan Insya Allah, pendidikan pesantren dengan kitab kuningnya akan tetap menuntun kita ke jalan yang lebih baik dan diridhoi Allah. Sehingga kita menjadi insan kamil, generasi penerus bangsa yang shalih sehingga terciptalah cita-cita bangsa yang luhur, yakni baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
aswajaonline.com