Esensi Diri Berpijak Pada Awal Mula Sejarah diWajibkannya Puasa di Bulan Ramadhan

Esensi Diri Berpijak Pada Awal Mula Sejarah diWajibkannya Puasa di Bulan Ramadhan

Almunawwar.or.id – Penting sekali kiranya bagi setiap umat islam di seluruh dunia mengetahui tentang hal ikhwal dari sejarah di wajibkannya berpuasa di bulan ramadhan, Karena memang bukan hanya soal kewajiban semata akan tetapi ada wawasan dan dorongan tertentu mengapa berpuasa itu di wajibkan pada umat-umat terdahulu.

Sehingga secara individu itu mengetahui tentang makna di syariatkannya berpuasa di bulan suci ramadhan sebagai yang telah di kutip jelas dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Pada ayat tersebut tertata dengan jelas kalimah “Kama Kutiba ‘Alaladzina Min Qoblikum La’allakum Tattaquun” yang bisa di katakan potongan ayat tersebut merupakan titik awal dari pada di syari’atkannya berpuasa di bulan suci ramadhan pada umat-umat terdahulu.

Dengan catatan bahwa umat terdahulu itu adalah orang islam yang beriman tentunya, karena islam merupakan salah satu dari kriteria yang termasuk pada syarat syah dan syarat wajib puasa, artinya tidak syah berpuasa jika syaratnya tidak ada, demikian halya dengan penjelasan yang terdapat pada ayat tadi.

Umat terdahulu yang terkategorikan salah satu dari orang-orang penganut agama samawi, Dimana pengesaan Allah S.W.T, masalah kenabian dan kerasulan serta meyaqini dan mengimani tentang adanya hari akhir nanti itu merupakan sebuiah pengajaran yang terdapat di dalamnya.

Termasuk masalah puasa sendiri yang memang memiliki kaifiat dan esensi di balik pelaksanannya tersebut, Karena memang dengan berpuasa setidaknya itu bisa menimalisir problem humanisme seorang muslim seperti kebutuhan syahwat dan lain sebagainya.

Di samping itu juga fitrah seorang manusia yang notabane nya memlii kesucian itu seolah ternodai dengan prilaku yang berlebihan karena tidak ada pembatasan dari norma-norma tersebut, Dengan berpuasa terutama di bulan suci ramadhan ini masalah tersebut setidaknya bisa di kurangi bahkan di tiadakan.

Dan berbicara soal sejarah berpuasa itu tidak lepas dari adanya peristiwa penting yang di alami oleh baginda Rasulallah S.A.W saat berhijrah dari kota mekkah ke kota Yatsrib atau yang dikenal dengan kota Madinah.

Lebih tepatnya pada tahun kedua setelah hijrah itu mulai di syariatkannya berpuasa ramadhan dengan titik awal dari peritiwa hijrah itu. Dan Puasa Ramadhan diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah dengan cara dan model yang dilakukan umat Islam hingga kini.

Sebelum ayat yang mewajibkan puasa turun, umat Islam biasa berpuasa wajib pada 10 Muharram atau Hari Asyura. Ketika Nabi Muhammad hijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa pada 10 Muharram tersebut.

Orang-orang Yahudi menyatakan, pada 10 Muharram Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari serangan Raja Fira’un. Kemudian Nabi Musa berpuasa pada 10 Muharram sebagai tanda syukur kepada Allah. Lalu, Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam agar berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Pada awalnya umat Islam diwajibkan berpuasa sampai waktu maghrib. Setelah berbuka mereka masih diperbolehkan makan, minum, dan melakukan hubungan seks suami-istri hingga kemudian melakukan shalat Isya dan tidur.

Setelah melakukan shalat Isya dan tidur, mereka tidak diperbolehkan lagi untuk makan, minum, atau berhubungan seks hingga tiba saatnya waktu berbuka. Namun, praktik ini benar-benar menyulitkan umat Islam sehingga tidak sedikit yang melanggar larangan tersebut.

Lalu, Allah S.W.T menurunkan sebuah ayat yang dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 187 yang menyatakan, umat Islam diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan intim dengan para istrinya sepanjang malam bulan puasa hingga terbit fajar. Tentu saja ayat tersebut disambut gembira oleh umat Islam kala itu sembari memanjatkan syukur atas kasih sayang Allah S.W.T

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
islam.nu.or.id