Estetika Dari Pada Nilai Relasi Antara Manusia, Alam Serta Keberadaan Tuhan

Estetika Dari Pada Nilai Relasi Antara Manusia, Alam Serta Keberadaan Tuhan

Almunawwar.or.id – Tidak mungkin untuk di sadari memang bahwa adanya sebuah hal yang sama sekali tidak terduga juga tidak pula di harapkan itu adalah bentuk dari pada sebuah keniscayaan yang realitanya justru sering di alami dan di rasakan oleh penduduk di muka bumi ini.

Termasuk dari adanya bencana dan musibah yang sering melanda akhir-akhir ini, baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar semua itu memang tidak lepas dari kelalaian para penghuni bumi dalam menjalankan dan memelihara amanatnya sebagai Kholifatu Fil Ard (Pemimpin di Bumi).

Laksana badai yang kian berlalu, dimana ketika badai itu datang, manusia selalu mempersiapkan untuk bisa terhindar daripada musibah tersebut, namun ketika badai jauh pergi menghilang, saat ini pula kebanyakan dari pada umat manusia lalai akan kewaspadaan tersebut.

Dalam artian sebagai manusia yang hakikatnya adalah mahluq Tuhan yang paling sempurna karena di bekali dengn aqal, qalbu dan fikiran yang di isi dengan perkara iman dan keyaqinan tentunya harus mengerti dan memahami betul hikmah yang di dapat di balik bertubi-tubinya permasalahan seperti ini.

Sejatinya kita sebagai manusia yang jauh daripada nilai keutuhan agama di banding dengan ketaatan yang di aplikasikan melalui nilai penghambaan kepada sang Khaliq yang dengan kasih sayang dan karunianya telah menciptakan dunia beserta isinya harus kembali dan banyak mengevaluasi kesalahan dan kehilafan selama ini.

Agar selalu senatiasa kesucian amanat yang telah di mandatkan secara khusus kepada Umat manusia bisa di jaga, di pelihara sesuai dengan konsekuensi di ciptakannya makhluq di muka bumi ini, sesuai dengan kodrat dan ketentuan serta dari taqdir Tuhan yang maha kuasa.

Sehingga terciptalah pembimbingan dalam jiwa di setiap individu umat manusia agar tetap istiqomah dalam mememgang teguh amanat tersebut, jangan sampai terlena dengan kenikmatan duniawi yang hanya sesaat saja, tapi mampu mengolahkannya ke jalan yang telah di perintahkan oleh Agama.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Jika melirik kembali isi dan tujuan dari pada ayat di atas adalah sebuah peringatan yang sejatinya harus lebih di indahkan oleh setiap indiviu mansuia itu untuk lebih bisa menciptakan satu kerukunan pasti dalam menjalankan amanat tersebut.

Sehingga sangat membutuhkan nilai interkasi sosial dan kepedualian serta kepekaan yang tinggi antara kita dan lingkungan sekitar, jangan sampai lupa tujuan dan kodrat kita di ciptkan ke dunia ini yaitu untuk menjaga dan memelihara dunia sesuai dengan mandat dan amanat dari Tuhan yang maha kuasa.

Eksistensi dan esensi dari setiap warna, suku dan juga golongan setiap individu manusia itu merupakan wujud nyata dari pada adanya kepedulian khusus untuk merubah citra buruk, menjadi nilai hikmah yang begitu luar biasa guna menciptakan suasana kondusif di berbagai aspek.

Jangan sampai mengeluarkan tindakan yang abnormal yang jsutru akan menjauhkan dari fase-fase dalam meraih kerukunan yang penting antara manusia dan alam sekitar, untuk itu sangatlah penting menelaah dan belajar kembali tentang makna tujuan hidup dan kehidupan ini.

Dimana asa pertama yang perlu di garis bawahi bahkan di laksanakan adalah pemberdayaan pasti tentang nilai dan etika dari hakikat seorang manusia terhadap sesama, lingkungan sekitar dan tentunya adanya nilai berkesiambungan yang berbuah dan mengikat terhadap sifat butuhnya mahluq kepada sang Khaliq.

Dari estetika tersebut yang berkembang melalui beberapa media saat ini tentunya bisa di implikasikan sebagai sarana tepat untuk lebih menebar juga setidaknya merasakan kepedulian yang begitu luar biasa di antara umat manusia, terlebih dari nilai estetika sosial yang begitu tinggi.

Terlebih untuk saat ini banyak sekali media yang bisa membantu cara menanamkan kepedulian tersebut sebagai wujud dari pada nilai sisi keutuhan di ciptakannya manusia ke dunia ini untuk saling mengenal satu sama lain, sebagaimana yang tersirat dalam Surat Alhujarat ayat 13 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Jangan sampai muncul jiwa dan karakter arogan yang justru akan memecahabelahkan persatuan umat, namun sejatinay kehadiran sarana media sosial ini adalah ruang dan jembatan khusus untuk saling menganl satu sama lain sehinga lahirlah rasa kepekaan dan kepdulian yang begit tinggi.

Terlebih akhir-akhir ini sudah sering di alami berbagai permasalahan yang menyangkut kepentingan publik, mulai dari bencana alam sampai dengan jauhnya kepribadian seorang manusia dari ajaran-ajaran agama yang memberikan kedamaian dan kerukunan bagi manusia dan alam sekitarnya.

Harus disadari, Tuhan telah memberikan bingkisan kepada manusia berupa agama sebagai jembatan manusia untuk menebarkan kebaikan. Namun, begitupun agama selalu berebut manusia agar menjadi pengikutnya, berbagai cara dan tanpa kompromi. Dari situ, tidak sedikit konflik terjadi atas nama agama, apalagi berita-berita hoaks di Medsos yang menjadikan agama sebagai “bemper”.

Ini adalah tanggung jawab kita bersama, memang tidak mudah membendung hoaks karena ia berselancar di awang-awang. Namun, setidaknya kita memberikan pemahaman yang berimbang terhadap masyarakat, peran utamanya adalah para tokoh masyarakat, orang tua, ulama, dan guru.

Kapan terakhir Anda butuh Tuhan? Dan pada saat apa Anda ingat Tuhan? Hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian, karena hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian, maka dari situ muncul seni bersabar, berikhtiar, ikhlas, kreatif, manfaat, dan sebagainya.

Dahulu kebanyakan filosof menganggap bahwa adanya Tuhan itu hoaks, seperti; Ludwig Feuerbach yang meyakini segala konsep tentang Tuhan, malaikat, surga dan neraka adalah hasil dari proyeksi manusia itu sendiri, karena itu manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an ke dalam dirinya. Sedangkan Sigmund Freud, agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima masyarakat.

Lain halnya dengan Karl Marx, agama adalah candu, berbeda lagi dengan Nietzche, Tuhan telah mati, begitupun dengan Sartre bahwa konsep Tuhan hanya sebagai alibi ketidaksempurnaan dan ketidakmampuan manusia semata. Sungguh, mereka hanyalah manusia-manusia penyebar hoaks tentang Tuhan dan agama, karena mereka terjebak oleh pikirannya sendiri, tanpa menyadari agungnya peciptaan Tuhan. Dalam cerpennya Taufiq el-Hakim menggambarkan, “Jari yang biasa mengukur kedalaman air di gelas, tidak mungkin mampu mengukur kedalaman air di laut.”

Di era serba berkembang sekarang, gaya hidup instan, dan berbagai perilaku menyimpang serta didukung kebiasaan serampangan—posisi Tuhan menjadi ada yang tiada, diakui eksistensinya tapi dilecehkan esensinya. Dulu, para filosof menyebarkan hoaks dengan meniadakan Tuhan, dewasa ini manusia menyebarkan hoaks atan nama Tuhan.

Jangan sampai ada persimpangan dan ketimpangan yang justru menjauhkan dari pada nilai estetika mansuai terhadap Tuhan yang maha kuasa, akan tetapi raih dan pupuk kembali tugas sejatinya tersebut sebagai wujud dalam mengaplikasikan semua hal yang sudah menjadi kewajiban.

Yang tentunya kembali pada nilai-nilai agama Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, yang mengurus semua tatanan hidup dan kehidupan ini supaya manusia terutamanya tidak lupa dan tidak terlena oleh kehidupan duniawo yang bersifat sementara.

Justru dengan sering datangnya musibah yang bertubi-tubi ini akan selalu mengingatkan kita dan kembali ke jalan yang di ridhoi oleh Alloh S.W.T melalui nilai daripada penghambaab tersebut yang di wujudkan lewat kerukukan, kepedulian juga persatuan dan kesatuan antara umat beragama khususnya yang ada di bumi Nusantara tercinta.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id