Etika Dalam Bergaul Dengan Non Muslim Serta Dari Hukum Mendoakannya

Etika Dalam Bergaul Dengan Non Muslim Serta Dari Hukum Doa Mendoakannya

Almunawwar.or.id – Tidak menutup kemungkinan memang semakin berkembang dan bertambahnya angka pertumbuhan manusia itu adanya pergaulan ataupun interaksi sosial bagi semua orang termasuk dari bercampurnya orang muslim dan non muslim dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari seperti dalam bidang pekerjaan dan lainnya.

Hal itu tentu menimbulkan sebuah penyikapan yang real bagi kita selaku orang muslim tentang bagaimana beretika langsung dengan orang non muslim tersebut, apalagi jika keadaan memaksa untuk hidup bersamanya karena sebuah tuntutan ataupun faktor lainnya yang mendorong terhadap kebersamaan itu.

Tingkat kesadaran dan penyikapan khusus dari adanya sentuhan kebersamaan tersebut sering sekali menimbulkan kepekaan dan kepedulian terhadap sisi lain dari seorang non muslim tersebut, sehingga lahirlah rasa ingin memberikan sesuatu yang terbaik karena memang ada sisi baiknya dari kepribadiannya itu.

Lantas bagaimana jika memang hal seperti terjadi di tengah-tengah kehidupan ini? Ataupun di balik semua itu kita mendoakan non muslim tersebut dengan maksud dan tujuan tertentu, apakah boleh ataupun tidak diperbolehkan bergaul dan interaksi sosial dengan baik dan elegan (al-mu’asyarah al-jamilah) dengan mereka di dunia.

واعلم أن كون المؤمن موالياً للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضياً بكفره ويتولاه لأجله ، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوباً له في ذلك الدين ، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة . وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه . والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة ، والمظاهرة ، والنصرة إما بسبب القرابة ، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه ، وذلك يخرجه عن الإسلام

“Dan ketahuilah bahwa orang Muslim mencintai non-Muslim (kafir) melihat tiga situasi dan sikap :
1. Tidak boleh jika rida akan ke-kafir-an dan bahkan mencintai orang kafir lantaran kekafirannya. Hal ini dilarang. Sebab rida akan kekafiran adalah kafir.

2. Pergaulan dan interaksi sosial dengan baik dan elegan (al-mu’asyarah al-jamilah) di dunia. Dan hal ini boleh atau tidak dilarang.

3. Menolong orang kafir, entah dengan sebab ada tali persaudaraan (kerabat) atau dengan sebab simpati (cinta), dan serta tetap meyakini bahwa agamanya adalah tidak benar..”
( as-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi, Murah Labidz yang dikenal dengan nama Tafsir an-Nawawi I/ 94).

Hukum Mendoakan Non Muslim
Mendoakan non Muslim dalam urusan dunia terlebih agar mereka diberi hidayah diperbolehkan, yang tidak diperbolehkan adalah mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir.

( فَرْعٌ ) يَجُوزُ إجَابَةُ دُعَاءِ الْكَافِرِينَ ، وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ وَلَوْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ ، خِلَافًا لِمَا فِي الْأَذْكَارِ إلَّا مَغْفِرَةَ ذَنْبِ الْكُفْرِ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ فَلَا يَجُوزُ .

Maksudnya : “orang-orang Muslim boleh menjawab doanya orang-orang non-Muslim (kafir), dan boleh mendoakannya, walaupun doa memohon ampunan (maghfirah) dan kasih sayang (rahmat). Berbeda dengan keterangan dalam kitab al-Adzkaar kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan”. (Hasyiyah al-Qalyubi IV/270)

( فَرْعٌ ) فِي اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ خِلَافٌ ا هـ .وَاعْتَمَدَ م ر الْجَوَازَ وَأَظُنُّ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحْرُمُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ إلَّا إذَا أَرَادَ الْمَغْفِرَةَ لَهُ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَسَيَأْتِي فِي الْجَنَائِزِ التَّصْرِيحُ بِتَحْرِيمِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ بِالْمَغْفِرَةِ نَعَمْ إنْ أَرَادَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ إنْ أَسْلَمَ أَوْ أَرَادَ بِالدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُ سَبَبُهُ وَهُوَ الْإِسْلَامُ ثُمَّ هِيَ فَلَا يُتَّجَهُ إلَّا الْجَوَازُ ا هـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَيَنْبَغِي أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى وَجْهٍ يُشْعِرُ بِالتَّعْظِيمِ وَإِلَّا امْتَنَعَ خُصُوصًا إذَا قَوِيَتْ الْقَرِينَةُ عَلَى تَعْظِيمِهِ وَتَحْقِيرِ غَيْرِهِ كَأَنْ فَعَلَ فِعْلًا دَعَا لَهُ بِسَبَبِهِ وَلَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَأَشْعَرَ بِتَحْقِيرِ ذَلِكَ الْغَيْرِ ا هـ .

Pendapat Ulama dalam anjuran mendoakan orang non muslim
Ar-Ramli as-Shaghiir memilih diperbolehkannya “Tidak haram mendoakan non muslim dengan mendapatkan ampunan kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan”.

Bila yang dikehendaki “Ya Allah ampunilah ia bila masuk islam atau bila dikehendaki agar ia islam saat didoakan ampunan maka boleh”

Hanya saja menurut alQasiim bila yang demikian tidak menimbulakan pengagungan terhadap mereka, bila menimbulkan maka dilarang terlebih bila disertai tanda kuat akan pengagungan terhadap mereka dan melecehkan terhadap lainnya seperti selepas mereka menjalani suatu pekerjaan dan tidak terdapati selainnya yang mampu mengerjakannya maka doanya pertanda mengagungkan mereka dan melecehkan selainnya”. (Hasyiyah as-Syibra malisy VI/1)

Doa Kesehatan dan hidayah Untuk Non Muslim

وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لِلْكَافِرِ بِنَحْوِ صِحَّةِ الْبَدَنِ وَالْهِدَايَةِ وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ التَّأْمِينِ عَلَى دُعَائِهِ

Artinya : “Dan diperbolehkan mendoakan semacam kesehatan badan dan ulama berbeda pendapat tentang diperbolehkannya mengamini doa mereka”. (Hasyiyah al-jamal III/436)

Sikap Muslim Terhadap Non-Muslim
Dalam kajian Islam, kita menemukan setidaknya dua kategori non-Muslim dalam Islam, yaitu kafir harbi dan kafir dzimmi atau sering disebut ahli dzimmah. Kafir harbi merujuk pada non-Muslim yang memusuhi umat Islam dan berusaha menghalangi dakwah Islam. Sementara kafir dzimmi adalah non-Muslim yang hidup damai dan bergaul bahu-membahu dengan umat Islam. Ciri kafir dzimmi disinggung dalam Tafsir Al-Qasimi berikut ini:

وأما أهل الذمة الذين بين أظهرنا، ممن رضي بأداء الجزية لنا وسالمنا، واستكان لأحكامنا وقضائنا، فأولئك لا تشملهم الآية؛ لأنهم ليسوا بمحادّين لنا بالمعنى الذي ذكرناه

Artinya, “Adapun ahlud dzimmah yang ada di tengah masyarakat kita, termasuk mereka yang rela membayar retribusi kepada kita, hidup damai dengan kita, dan tunduk pada regulasi dan putusan pemerintah kita, maka mereka itu tidak tercakup dalam ayat ini karena mereka tidak melakukan perlawanan terhadap kita sebagai makna yang kami jelaskan,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XVI, halaman 5731).

Non-Muslim yang masuk dalam kategori ahli dzimmah memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain. Kita sebagai Muslim boleh berinteraksi dan harus bergaul secara baik dengan mereka sebagai keterangan Tafsir Al-Qasimi berikut ini:

ولذا كان لهم ما لنا، وعليهم ما علينا، وجاز التزوج منهم ومشاركتهم، والاتجار معهم، وعيادة مرضاهم. فقد عاد النبي صلى الله عليه وسلم يهودياً، وعرض عليه الإسلام فأسلم كما رواه البخاري

Artinya, “Karena itu mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita. Kita boleh menikahi perempuan mereka, berkumpul, bertransaksi, dan menjenguk orang sakit dari kalangan mereka. Rasulullah SAW pernah menjenguk seorang Yahudi dan juga pernah mengajaknya memeluk Islam dan yang bersangkutan menerimanya sebagaimana riwayat Bukhari,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XVI, halaman 5731).

Meskipun demikian, perkawinan dengan non-Muslim masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tetapi polemik terkait perkawinan beda agama di kalangan masyarakat cukup bersuara.

Syekh M Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya menambahkan bahwa kebijakan dan regulasi pemerintah wajib melindungi dan mengakomodasi kepentingan mereka. Pemerintah memiliki kewajiban yang sama dengan umat Islam terkait perlakuan terhadap non-Muslim.

وعلى الإمام حفظهم والمنع من أذاهم، واستنقاذ أسراهم، لأنه جرت عليهم أحكام الإسلام، وتأبد عهدهم، فلزمه ذلك، كما لزم المسلمين، كما في ” الإقناع ” و ” شرحه

Artinya, “Pemerintah wajib melindungi mereka, menghalangi pihak yang ingin menyakiti mereka, dan menyelematkan tawanan mereka. Pasalnya, hukum yang berlaku di kalangan Islam berlaku juga pada mereka dan kontrak politik mereka bersifat langgeng. Ini lazim mengikat pemerintah sebagaimana juga umat Islam seperti tercantum pada Iqna‘ dan syarah-nya,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil)

Dalam konteks Indonesia dengan masyarakat yang beragama, toleransi terhadap perbedaan agama, suku, golongan, sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan sosial.

Cara Rasulullah Lindungi Non-Muslim
Rasulullah mampir di sebuah lembah ketika beliau bersama para sahabatnya pulang dari perang Dzatur Riqa’. Rombongan singgah sejenak di bawah rindangnya pepohonan, melepas penat, hingga ramai-ramai tidur di tempat itu.

Saat itu Rasulullah menggantungkan pedangnya di atas pohon, dan turut beristirahat sebagaimana peserta perjalanan yang lain. Kala semua orang terlelap itulah, kejadian tak terduga muncul.

Seorang pria dari golongan musuh tiba-tiba datang, mencabut pedang Nabi yang bertengger di pohon, lalu mengacungkannya ke leher Rasulullah. Dengan tegas, anggota kaum Musyrikin ini menggertak, “Kau takut padaku?”

Rasulullah menjawab dengan tenang, “Tidak.”
“Siapa yang melindungimu dari perbuatanku?”
“Allah,” sahut Nabi.
Jawaban singkat Nabi itu ternyata membawa kekuatan luar biasa. Pedang si musuh jatuh hingga giliran Nabi mengambil pedang itu.
Selanjutnya Rasulullah bertanya, “Siapa yang melindungimu dari perbuatanku?”

Bisa dibayangkan, betapa kalutnya mental si musuh. Setelah ia merasa gagah menenteng senjata hendak menghabisi nyawa Nabi, kini tiba-tiba situasi berbalik. Bayang-bayang kematian ada di depan mata.

“Jadilah engkau sebaik-baik orang yang melindungi,” jawab musuh itu, memohon simpati dari Nabi.
“Maukah kau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?” Nabi menawarkan.
“Tidak. Tapi aku berjanji tidak akan memerangimu, juga tidak bersekutu lagi dengan kubu yang memerangimu.”

Orang musyrik ini beruntung berhadapan dengan Rasulullah, manusia pilihan yang bersih dari kotoran benci dan dendam. Orang tersebut dibebaskan begitu saja oleh Nabi.

Kisah ini bisa kita baca di kitab Riyâdlus Shâlihîn, yang memaparkan jalur riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim.

“Mengapa Rasulullah melepaskan orang yang hampir saja menggorok lehernya? Jika diamati, hadits tersebut mengungkap adanya janji dari orang yang tak mau masuk Islam itu untuk benar-benar menghentikan permusuhan dengan kaum Muslimin. Komitmen ini bisa dibaca sebagai kontrak sosial, dan Nabi sangat menghormati sebuah janji meski potensi dikhianati tetap ada.

Hal ini pula yang tampak ketika Rasulullah mentransformasi kota Yatsrib menjadi Madinah. Secara bahasa madînah berarti tempat beradab. Makna ini dicerminkan oleh Nabi dari keputusannya membangun konstitusi yang menjamin kehidupan secara aman dan damai pluralitas penduduk di sana.

Konstitusi itulah yang dikenal sebagai “Piagam Madinah” (Mîtsaq Madînah). Piagam ini dibangun dari kesepakatan bersama (mu’âhadah) atau dalam bahasa modern dikenal dengan kontrak sosial yang menjamin kesamaan hak dan perlindungan terhadap seluruh anggota kesepakatan.

Artinya, konstitusi yang diagung-agungkan modernitas sebagai penanda sistem politik yang maju dan rasional, telah dilakukan Nabi belasan abad lalu.

Saat itu Madinah dihuni oleh penduduk yang cukup plural. Ada kaum Muslim Muhajirin dan Ansor, suku Aus dan Khajraj, serta suku-suku lain. Juga pemeluk agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Nabi sengaja membangun sistem berdasar perjanjian kolektif demi terlindunginya hak-hak dasar seluruh warga tanpa terkecuali, mulai dari hak hidup, hak kepemilikan, hingga hak diperlakukan adil tanpa diskriminasi. Sebagaimana lazimnya konstitusi, para pelanggar dianggap sebagai pengkhianat dan mendapat sanksi tertentu.

Rasulullah bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Artinya: “Barangsiapa yang membunuh orang yang terikat perjanjian, maka ia tak akan mencium bau surga. Sungguh bau surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Ingatlah, siapa yang sewenang-wenang terhadap orang yang terikat perjanjian, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan darinya (merampas), maka aku adalah lawan bertikainya pada Hari Kiamat”. (HR Abu Dawud)

Dua hadits tersebut menunjukkan betapa seriusnya Rasulullah dalam menanggapi perjanjian atau kesepakatan, apalagi yang melibatkan banyak orang.

Meski secara politik berada di puncak kepemimpinan, Nabi tidak menggunakan kekuasaannya itu untuk memaksa orang lain berbondong masuk Islam, mendiskriminasi minoritas, atau kezaliman lainnya.

Beliau lebih suka tampil sebagai pemimpin dan pengayom ketimbang sebagai penguasa, dan dengan segenap kearifannya membangun peradaban secara cerdas dan bermartabat.Semoga cara Rasulullah S.A.W dalam memimpinnya tersebut dapa di tauladani dan di amalkan oleh para pemimpin negeri indonesia tercinta ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com
nu.or.id