“Fa Idza Faraghta Fanshab” Teruslah Bekerja Dan Berharap Pada Allah S.W.T Semata

Fa Idza Faraghta Fanshab Teruslah Bekerja Dan Berharap Pada Allah S.W

Almunawwar.or.id – Sebuah makna haqiqi yang terselebung dalam diri adalah adanya harapan paling dalam dari keinginan untuk bisa menggapai semua keinginan hidup, sehingga kenyataan kian lebih terealisasikan seiirng terbukanya rasa optimisme dalam menghadapai kenyataan hidup ini.

Teruslah bekerja dan yaqinkan akan meraih masa depa yang indah dan cerah meskipun harus melalui perjuangan yang tak terhenti dan tertatih-tatih, karena semua itu akan terbayarkan tatkala hanya kepada Allah S.W.T berserah diri dan menaruh semua harapan dari bentuk nilai sebuah perjuangan.

Jangan sampai menyerah apalagi diam tidak bertindak suatu apapun, bukalah semua harapan tersebut dengan maksimal dan optimalnya semua kemampuan di kerahkan untuk senantiasa meraih dan menyambut nilai rasa keyaqinan dan optimisme dalam menjalani sendi-sendi kehidupan ini.

Ingatlah jika semua sudah dikerahkan sesuai dengan kemampuan, maka syukuri dan nikmati semua jerih payah yang telah di lakukan. Karena tidak di tuntut dan di wajibkan meraih apa yang di impikan dan di cita-citakan, namun daya ikhtiyar nya itulah yang akan menjadi nilai sebuah kesempurnaan amalan mahluq.

Jika kamu telah selesai (melakukan suatu pekerjaan), maka lakukanlah (pekerjaan lain) dengan sungguh-sungguh. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. (Asy-Syarh: 7-8)

Tema pokok dari surat Asy-Syarh adalah penguatan kepada Rasulullah SAW agar tetap tegar dalam menjalankan misi dakwah Islam, meskipun tantangan yang dihadapinya sangatlah berat. Penguatan itu diberikan dengan mengingatkan betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada beliau. “Bukankah telah Kami lapangkan dadamu, dan Kami ringankan beban yang memberatkan pundakmu, dan telah Kami tinggikan sebutan namamu…” (Asy-Syarh: 1-4).

Kemudian Allah menegaskan salah satu kaidah atau hukum-Nya yang pasti, “Maka sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (Asy-Syarh: 5-6). Baru kemudian diikuti dengan dua perintah,“Jika kamu telah selesai (melakukan suatu pekerjaan), maka lakukanlah (pekerjaan yang lain) dengan sungguh-sungguh. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap”.

Perintah pertama, “Fa idza faraghta fanshab”. Ada yang mempersempit makna ayat ini dengan mengartikannya, “Jika kamu telah melakukan satu ibadah maka lakukanlah ibadah yang lain dengan sungguh-sungguh”, dengan diberi contoh “setelah selesai shalat, berdzikir dan berdoalah. Selesai berdzikir dan berdoa, bacalah Al-Qur`an”.

Akan tetapi keumuman redaksi ayat ini harus dimaknai lebih luas, menyangkut semua aktivitas manusia, tidak terbatas pada ibadah mahdhah. Inti dari perintah pertama ini menurut hemat penulis adalah tuntunan kepada orang beriman agar “jangan biarkan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berguna”.

Dengan kata lain, melakukan pekerjaan yang melahirkan kebaikan-kebaikan, atau beramal saleh (‘amilush-shalihat). Amal saleh juga jangan dipersempit artinya dengan ibadah mahdhah atau pekerjaan-pekerjaan “ukhrawi”, tapi mencakup semua pekerjaan, termasuk pekerjaan-pekerjaan “duniawi”.

Dari kaidah “Fa idza faraghta fanshab” ini bisa diturunkan beberapa prinsip dalam praktik kehidupan, antara lain sebagai berikut. “Istirahat adalah ganti pekerjaan”.

Seorang guru, sekadar contoh, setelah selesai mengajar di kelas, dia duduk di ruang guru mengoreksi pekerjaan siswa, setelah itu berbincang sejenak dengan rekan sesama guru atau membuka WhatsApp untuk bermedia sosial. Waktu yang tersisa digunakan untuk membuat persiapan mengajar, kemudian berjalan-jalan di sekitar gedung sekolah untuk meregangkan otot setelah duduk beberapa jam sambil menuju mushalla untuk melakukan shalat dhuha.

Intinya, semua waktu digunakan untuk sesuatu yang berguna, tidak ada yang sia-sia. Bermedia sosial untuk tujuan memperoleh informasi dan silaturahmi juga pekerjaan yang berguna. Jalan-jalan untuk relaksasi juga pekerjaan yang berguna.

Berbagai bentuk hiburan yang dibenarkan oleh syariat, seperti berolah raga, bermusik, berwisata, adalah juga bagian dari pekerjaan yang berguna, karena tujuan utamanya adalah re-kreasi, yaitu menghilangkan letih agar sesudah itu bisa menjalankan ibadah dan pekerjaan dalam keadaan segar dan bersemangat.

Prinsip berikutnya adalah “jangan menunda pekerjaan”. Pekerjaan yang bisa dilakukan hari ini, jangan ditunda sampai besok. Nanti, nanti, nanti; besok, besok, besok; hanya ada dalam kamus para pemalas. Jangan menunda pekerjaan sampai kehabisan waktu, kehilangan kesempatan, atau kedaluwarsa.

Menunda-nunda pekerjaan menyebabkan menumpuknya pekerjaan dan terbengkalainya pekerjaan. Menunda-nunda shalat sampai detik-detik terakhir atau injury time adalah kebiasaan yang buruk. Menunda-nunda bayar utang, termasuk utang puasa, bisa berakibat hilangnya kesempatan karena Ramadhan berikutnya telah tiba, apalagi kalau menyangkut hak-hak adami, hutang akan dibawa sampai hari kiamat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita semua “Gunakanlah lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, longgarmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu”. (H.R. Al-Hakim).

Prinsip ketiga adalah “jangan pernah menganggur”. Yang dimaksud menganggur bukan tidak menjadi PNS, tidak kerja di perusahaan atau pabrik dan sejenisnya. Yang dimaksud menganggur adalah membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berguna, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Ketika anda melakukan sesuatu meskipun tidak berbayar atau bergaji, tapi bermanfaat untuk diri sendiri dalam jangka pendek atau jangka panjang, bermanfaat bagi orang lain, banyak atau sedikit, maka anda tidaklah disebut penganggur. Jika anda tidak disibukkan oleh kegiatan yang berguna, maka anda pasti akan disibukkan oleh kegiatan yang berbahaya atau setidaknya tidak berguna. Di akhirat nanti setiap orang akan diminta pertanggung jawaban tentang untuk apa dihabiskannya umurnya.

Adapun perintah kedua “Wa ila Rabbika farghab”, mengarahkan orang beriman agar menggantungkan harapannya hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah lah dia bersandar. Hanya kepada Allah lah dia berlindung. Karena hanya Allah lah tempat bersandar, penjamin harapan, pemberi perlindungan yang paling aman.

Manusia akan tetap resah dan gelisah jika antara dirinya dengan Allah masih terhalang oleh tabir kebodohan dan ketidakpahaman terhadap Rabbnya. Siapa yang melupakan Allah, maka Allah akan membuat dia lupa kepada dirinya sendiri. Adakah manusia yang bisa mengelak atau bersembunyi dari Allah di hari perhitungan? Di hari itu, kepada siapa manusia minta perlindungan dari hukuman Allah? Tiada lain hanya kepada Allah juga.

Wallohu A’lamu Bishowwab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
dutasislam.com