Fase Metamorfosis Prospek Jiwa Dalam Menerima Iman Islam dan Ihsan

Fase Metamorfosis Prospek Jiwa Dalam Menerima Iman Islam dan Ihsan

Almunawwar.or.id – Sesungguhnya manusia itu bisa merasakan arti daripada penggilan sebuah kewajiban itu berlandaskan pada tiga pokok ajaran agama islam yaitu iman, islam juga serta ihsan. Karena dengan ketiga hal itulah faktor untuk lebih mengenal jati diri seorang muslim sejatinya lebih tersentuh lagi.

Terlebih lagi dalam segi ibadah itu tidak hanya cukup hanya sebatas pengakuan dan pengmalan saja, akan tetapi rasa dilihat dan rasa melihat kepada sang maha Pencipta dalam segala hal itu jauh lebih bermakna dan berisi di banding hanya sebatas pengamalan saja.

Sehingga bisa menyentuh daripada nilai kehambaan seorang manusia yang sejatinya sangat membutuhkan bimbingan dan naungan dari Alloh S.W.T. Daripada itulah makna iman,islam juga ihsan sangat penting sekali untuk di tanamkan didalam jati diri seorang hamba agar tetap selalu menjaga semua perbuatan dan amalan kita.

Ataupun menjadi buah daripada intisari pengamalan sebuah ilmu yang terlihat dan tercermin dari sifat dan perangai serta akhlaqnya yang baik sesuai dengan pemaknaan dari pengamalannya tersebut, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Baginda Rasululloh S.A.W yang terpenggal dalam sebuah hadits yang artinya:

“Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad). Begitu juga dalam meraih pencapaian ihsan yang kuat, maka Rasululloh S.A.W telah bersabda dalam hadits lainnya dengan redaksinya sebagai berikut:

Ihsan adalah “Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11).

Dari pemaknaan inilah maka Imam As Syafi’i rahimahullah menasehatkan sekaligus menegaskan kepada kita semua untuk menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan.

Senada dengan itu maka Imam Nawawi rahimahullah pun berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi).

Dan pencapaian dalam meraih sebuah hakikat pemaknaan dari seorang hamba yang ihsan itu salah satunya bisa di raih dan dirasakan ketika sedang melaksanakan sholat, karena dengan sholatlah semua permasalahan yang berhubungan dengan jiwa khususnya itu bisa terselesaikan dengan catatan sholat yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya”

Juga hadits yang artinya “Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.

Dari penjelasan tadi tentang makna daripada iman islam dan ihsan itu bisa di definiskan sebagaimana yang telah di riwayatkan dalam sebuah kisah yang telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Umarah -yaitu Ibnu al-Qa’qa’- dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah dia berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kalian bertanyalah kepadaku’. Namun mereka takut dan segan untuk bertanya kepada beliau.

Maka seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘

Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? ‘

Semoga dengan penjelasan yang sederhana ini bisa membukakan mata hati dan kesadaran diri kita bahwa sesungguhnya nilai kehambaan yang membutuhkan bimbingan dan naungan dari Alloh S.W.T itu jauh lebih penting dan bermakna dan bukan hanya sebatas pengamalan sebuah kewajiban saja. Sehingga pintu untuk meraih iman, islam juga ihsan semakin terbuka lebar untuk meraih yang terbaik.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com