Hakikat Cinta (Mahabbah) Dan Pengertiannya Menurut Pandangan Islam

Hakikat Cinta Dan Pengertiannya Menurut Pandangan Islam

Almunawwar.or.id – Manusia sebagai makhluq sosial dan paling mulya di hadapan sang kholiq di banding dengan makhluq lain, tentunya memiliki keistimewaan yang tiada terhingga didalam jiwa dan sanubarinya yang dijadikanya sebagai perantara untuk lebih mengenal jati diri begitu pula dengan jauh lebih mengenal sang kholiq.

Semua itu berawal dari adanya rasa cinta yang menimbulkan kepekaan baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan sekitar. Adanya keinginan untuk memberikan yang terbaik serta mengamalkan apa yang baik dan menjadi anjuran dari agama itu adalah buah dari adanya rasa cinta kita terhadap agama ini.

Karena selain bisa menjadi landasan kuat, pengukuhan cinta seorang hamba terhadap sang khaliq nya merupakan modal yang paling kuat untuk jauh lebih konsisten lagi dalam memegang dan menjalankan perintah dan tugas serta makna hidup di dunia ini.

Makna inilah yang sejatinya akan membuat semua orang merasakan begitu besarnya karunia sang pencipta dengan Rahman dan Rahiimnya yang diberikan kepada semua makhluq terutama bagi manusia. Sebagai benteng paling kuat untuk mengerjakan apa yang sudah menjadi kewajiban manusia selama ini. Firman Allah S.W.T dalam surat Al Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dari penjelasan ayat tersebut, maka bisa diketahui dengan pasti makna cinta yang sesungguhnya dalam islam, baik secara individual maupun yang bersentuhan langsung dengan masalah umum. Maka dalam bagian ini para Ulama jumhur mengemukakan pendapatnya

rasa cinta kepada Nabi adalah meyakini dalam menolongnya, mempertahankan sunnahnya, tunduk patuh pada sunnahnya, takut menyelisihinya (tidak sesuai dengannya). ada juga yang berpendapat rasa cinta itu terus menerus mengingat sang kekasih

Bahkan ada juga yang berpendapat cinta aadalah lebih mengutamakan kekasih, rasa cinta ialah kerinduan mendalam pada kekasih juga rasa cinta itu ialah berkesesuaian/setuju terhadap kehendak tuhan, mencintai apa yang dicintai, membenci apa yang dibenci

Ungkapan-ungkapan di atas lebih banyak mengisyaratkan buah dari cinta bukan hakikat cinta, maka dari sini kita harus lebih mengerti definisi ataupun ta’rif cinta menurut kajian Islam. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam qaul shohih yang mengatakan bahwa.

الْمَحَبَّةُ فِي اللُّغَةِ : الْمَيْلُ إِلَى الشَّيْءِ السَّارِّ

Artinya :”Pengertian cinta dalam segi bahasa yaitu condong / suka pada sesuatu yg berjalan”

قَالَ الرَّاغِبُ الأَصْفَهَانِيُّ : الْمَحَبَّةُ إِرَادَةُ مَا تَرَاهُ أَوْ تَظُنُّهُ خَيْرًا ،وَهِيَ عَلَى ثَلاثَةِ أَوْجُهٍ : مَحَبَّةٌ لِلَّذَّةٍ كَمَحَبَّةِ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ ،وَمَحَبَّةٌ لِلنَّفْعِ كَمَحَبَّةِ شَيْءٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى : { وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ } ،وَمَحَبَّةٌ لِلْفَضْلِ كَمَحَبَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ بَعْضَهُمْ لِبَعْضٍ لأَجْلِ الْعِلْمِ

Artinya : “Arroghib al-asfahani berkata,CINTA adalah ,menghendaki / mengharap pada sesuatu yang kau lihat atau kau menyangka sesuatu tersebut adalah baik dan cinta terbagi jadi 3 macam :

Pertama cinta untuk saling memiliki (kenikmatan) seperti adanya hubungan cinta antara pasangan kekasih, berikutnya cinta untuk kemanfaatan seperti cinta pada sesuatu yang bisa untuk dimanfaatkan,sebagian dari itu adalah sebagaimana firman Allah dalam surat AS-SHOF ayat 13

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”.

Dan yang ketiga adalah cinta untuk keutamaan seperti cinta pada ahli ilmu pada sebagian ke sebagian yang lain dikarenakan ilmu. Dalam kitab Al-mausuah Al-fiqhiyyah juz 36 hal 186 ulama berpendapat

أَنَّ الْمَحَبَّةَ مِنَ الأُمُورِ الْقَلْبِيَّةِ الَّتِي لَيْسَ لِلإِنْسَانِ فِيهَا خِيَارٌ وَلا قُدْرَةٌ لَهُ عَلَى التَّحَكُّمِ فِيهَا

Artinya : “sesungguhnya cinta adalah urusan hati yang mana tiada kemampuan bagi manusia untuk memilih dan tiada pula kesanggupan / kemampuan baginya untuk mengontrol”.

Dari keterangan tersebut maka lahirlah tiga hal yang sangat sinkron dengan yang namanya rasa mahabbah atau cinta yang tumbuh dalam hati sanubari manusia. Dan ketiga-tiganya tersebut saling berkaitan dan saling membutuhkan satu sama lain, sebagaimana yang digambarkan dari buah penjelasannya.

1. Mawaddah (cinta)
Mawaddah menurut bahasa adalah : mencintai sesuatu dan mengharapkan adanya sesuatu itu.
dan dari kedua makna tersebut digunakan satu sama lain yang mana tamanni (pengharapan) menyimpan makna wudd (cinta). karena tamanni itu mengharap wujudnya sesuatu yang dicintai. termasuk dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Sementara makna mawaddah secara istilah tidak keluar dari makna secara bahasa. dan perbedaan antara mahabbah dan mawaddah. bahwa hubb itu berada pada sesuatu yang menetapkan condongnya tabiat dan hikmah secara keseluruhan. sedangkan wudd itu hanya dari segi kecondongan tabiat saja. dan dari sini mahabbah lebih umum dari pada mawaddah.

2. Al-‘isyqu (rindu)
isyqu secara bahasa adalah rasa rindu yang menggebu-gebu pada perempuan dan berlebihan dalam rasa cinta.
dan makna secara istilah tidak keluar dari makna secara bahasa. hubungan antara mahabbah dan isyqu itu bahwa mahabbah lebih umum dari pada isyqu.

3. Al-irodah (kehendak/keinginan)
Adanya rasa mahabbah yang berbuah pada makna Isyqu(Rindu) itu senantiasa akan menimbulkan tergeraknya hati untuk bisa berbuat sesuatu yang terbaik bagi diri dan bagi yang di cintainya. Dengan adanya keinginan(Irodah)tersebut menjadi bukti bahwa tumbuhnya rasa cinta memang menjadi pengokokh dan modal kuat dalam mengaplikasikannya

Sebab haqiqat dari cinta itu adalah kecenderungan/kecondongan pada hal yang sesuai dengan seseorang, kesesuaian itu ada kalanya karena rasa nikmat yang didapatkannya, seperti gambar-gambar yang indah, suara merdu, makanan dan minuman yang lezat dan lain-lain dari setiap hal yang mana tabiat yang normal condong padanya karena ada kesesuaian/kecocokan padanya.

Ataupun merasa nikmat dengan apa yang dirasakan akal dan hati terhadap makna-makna batin yang mulia. seperti rasa cinta pada orang-orang sholih, orang-orang alim, orang yang ahli berbuat kebaikan yang berkesan dari perjalan hidup indah mereka, perilaku-perilaku yang baik.

Karena tabiat manusia cenderung pada kegemaran dengan meniru mereka sehingga timbul gelora semangat kefanatikan kaum pada kaum yang lain. dan bentuk keberpihakan umat pada yang lain pada sesuatu hal yang dapat menetakan untuk perpindahan meninggalkan tanah air, menerjang hal-hal yang menghalangi, dan merusak jiwa.

Atau juga adakalanya rasa cinta seseorang itu timbul karena mencocoki dari segi perbuatan baik yang dilakukan padanya, pemberian nikmat padanya. karena jiwa itu tercipta untuk mencintai orang yang berbuat baik padanya.

Akan lebih indah dan baiknya pula apabila rasa Mahabbah tersebut dijadikan sebagai jalan untuk meraih keistimewaan dari Alloh S.W.T dan rasulnya. Dengan menjadikannya sebagai tujuan utama melebihi dari rasa cinta kepada yang lainnya sehingga berbuah keimanan dan ketaqwaan yang istiqomah.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com