Hal Hal Yang Dapat Menjadikan Kaya Hati Dari Cara Bersyukur Sesuai Dengan Syar’i

Hal Hal Yang Dapat Menjadikan Kaya Hati Dari Cara Bersyukur Sesuai Dengan Syar'i

Almunawwar.or.id – Sebuah laksana lentera kehidupan yang menutur dan mengarahkan segenap jiwa seseorang, Dimana pengharapan kian terpancarkan dari adanya sebuah ketulusan dalam menerima seuah pemberian dan keikhlasan ketika harus di berikan sebuah amanah dan ujian.

Ketetapan hati untuk melangkah lebih pasti sesuai dengan amanah yang terpancarkan dari cahaya jiwa merupakan cara terbaik dalam mewujudkan makna syukur yang sesunguhnya, Sehingga hati terasa begitu lapang, tidak adapun kegundahan yang justru akan mempersulit dan mempersempit jalan pikiran.

Karena semuanya tergantung dari pada penyikapan tentang bagaimana seseorang pandai bersyukur dan tentang ketetapan hati dalam meraih dan bisa melakukan keistiqomahan diri ketika keduanya bersebrangan satu sama lain yang di satu sisi harus bisa pula menyeimbangkannya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mensyukuri semua nikmat dan karunia yang telah Allah S.W.T berikan, Sehingga bisa menjadikan hati lebih sabar, ikhlas dan tentunya bisa menjadikan hati sebagai ladang buah ketenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bersyukur kepada Allah S.W.Titu ada tiga cara, yaitu bersyukur dengan hati, dengan lisan, dan bersyukur dalam sikap perilaku (perbuatan)

1. Bersyukur dengan hati
Bersyukur di dalam hati ialah dengan cara membentuk keyakinan dan keinginan dalam diri untuk menjalani kebajikan-kebajikan yang telah diperintahkan dan tidak gampang memperlihatkan bentuk nikmat yang telah Allah berikan padanya terhadap setiap orang.

2. Beresyukur dengan lisan
Adapun syukur dengan lisan yaitu dengan memperbanyak puji syukur kepada Allah sambil membaca Alhamdulillah.

3. Bersyukur dalam dalam sikap prilaku (Perbuatan)
Adapun bersyukur dalam bentuk sikap tingkah laku dan perbuatan adalah dengan menjadikan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan padanya sebagai sarana amal ibadah serta menjaga diri sedapat mungkin dari tercebur dalam maksiat.

Dan ketahuilah bahwasannya….Sebagaimana yang di kutip dari Syarh al-Hikam al-‘Athooiyyah hal 64 dan Mau’izhoh al-Mu’miniin Min Ihyaa ‘Uluum ad-Diin I/420,

“Seseorang tidak dikatakan bersyukur selagi belum mampu menjadikan nikmat yang telah ia terima sebagai sarana untuk mahabbah (mencintaiAllah) bukan untuk kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi, bila ia menjadikan nikmatNya justru sebagai sarana terhadap hal-hal yang Allah murkai sesungguhnya ia benar-benar telah mengkufuri nikmatNya sebagaimana bila ia menganganggurkan nikmat tersebut karena artinya ia telah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya untuk menggapai kehidupan bahagia”.

Hal hal Yang Dapat Menjadikan Kaya Hati
Kekayaan hati dapat diraih dengan cara membuat hati merasa cukup dan hanya butuh terhadap Allah atas segala yang ia hadapi, mensyukuri segala karunia-Nya, rela menerima segala kehendakNya dan selalu berlindung kepadaNya dalam segala hal yang menyakitkannya.

Dengan selalu menghadirkan rasa butuh akan Tuhannya disegenap penjuru hati maka ia merasa tercukupi dari segala hal selainNya.

Karena Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta.

Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta.

Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah.

Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya.

Ia tidak meminta-minta dengan merengek-rengek untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa puas) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram).

Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Orang inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

Artinya : :Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati)”

وإنما يحصل غنى النفس بغنى القلب بأن يفتقر إلى ربه في جميع أموره فيتحقق أنه المعطي المانع فيرضى بقضائه ويشكره على نعمائه ويفزع إليه في كشف ضرائه، فينشأ عن افتقار القلب لربه غنى نفسه عن غيره وبه تعالى،

Itu;ah sa;ah satu landasan penting mengapa kekayaan hati menjadi faktor utama terciptanya pemikiran yang begitu luas, Sehingga bisa menerapkan keauntentikan jalan hidup dengan yang terpancarkan dari kekayaan hati yang sesungguhnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com