Hikmah dan Hakikat di Balik Ujian Hidup Bagi Seorang Muslim Yang Beriman

Hikmah dan Hakikat di Balik Ujian Hidup Bagi Seorang Muslim Yang Beriman

Almunawwar.or.id – Tentu sebagai salah satu catatan penting bagi seorang muslim yang beriman dan bertaqwa pada Allah S.W.T mengalami dan melalui beberapa fase atau tahapan dalam hidupnya, Sebelum pada akhirnya mampu meraih apa yang menjadi cita-cita dan harapan dalam hidupnya.

Karena tiada yang lebih sempurna dan paripurna dalam merasakan dan menikmati indah dan bahagianya dalam idup dan kehidupan selain mereka yang mampu melalui ujian dan tantangan dan juga rintangan dalam sendi-sendi kehidupannya dari segala aspek penting kehidupannya tersebut.

Sehingga bisa di katakan, kesuksesan seseorang muslim itu tergantung bagaimana cara menyikapi sekaligus mensyukuri apa yang sudah dan akan di berikan oleh Allah S.W.T. karena tidak semat-mata Allah S.W.T memberikan sebuah ujian itu melainkan terdapat sebuah mahkota yang luar biasa dan siap menyambutnya.

Meskipun secara bertubi-tubi ujian tersebut itu selalu datang menghampiri, mulai dari masalah dan problematika ekonomi, krisis kepercayaan diri serta dari aspek kehidupan lainnya yang sangat berepnagruh terhadap sebuah keyakinan dalam pandangan hidup dan kehidupannya.

Ingatlah apa yang menjadi tumpuan dan pijakan hari ini adalah sebuah kepercayaan dan amanat yang selalu senatiasa di jaga dari semua hal yang mungkin bisa merugikan dan menjerumuskan terhadap jadinya sebuah amalan, untuk itu jagalah amanat tersebut dengan sebaik mungkin.

Inilah yang menjadi sebuah aspek penting terhadap hikmah di balik ujian hidup ini, jangan sampai menjerumuskan pada hal yang justru menistakan hakikat dirinya, akrena sesungguhnya itu adalah sebuah mahktota yang semestinya bisa di raih dengan sedemikian dan sebaik mungkin.

Walau banyak rintangan dan tantangan yang senanitasa harus di hadapi, bahkan begitu teramat sangat luar biasa ujian yang menimpa bagi seorang mukmin yang beriman dan bertaqwa, sebagaimana yang tersirat dalam sebuah ahdits berikut ini.

ﺃﺷﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻼﺀ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻳﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ
ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ﻭ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ
ﻓﻰ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ﺍﺑﺘﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺩﻳﻨﻪ

Ingatlah Allah S.W.T menguji seorang hambanya itu tidak keluuar dari pada kemampuan seorang hambanya tersebut, tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaannya, semakintinngi ujian yang di hadapai semakin meningkat pula iman dan ketaqwaannya, dari itulah tetap husnu dzon dan optimis dalam menggapai semua harapan kehidupan.

Jangan sampai berkecil hati, ingatlah di balik semua apa yang menimpa kita semua baik ataupun tidak dikatakan sebagai sebuah musibah itu adalah adanya sebuah jaminan pasti dari beberapa hadits dan dalil lainnya yang menjadi sumber dan rujukan untuk mengembalikan keyakinan kita terhadap hikmah di balik ujian tersebut, dan berikut beberapa keterangan al hadits yang di maksud.

1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).

2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).

3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?”Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru mereka dan yang meniru mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (berat). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).

4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).

5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)
6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).

7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).

8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).

9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar).

10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kamiorang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).
Penjelasan: “Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah”.

12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).

13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la).

14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad).

15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani).

16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami).

17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

Hakikat dari pada Ujian Hidup

الابتلاء ليس احتبارا عن قوتك الذاتية ولكن احتبار عن قوة استعانتك بالله

Ujian dan cobaan dalam kehidupan sejatinya bukan untuk mengukur kekuatan dirimu tetapi untuk mengukur kekuatan kepasrahan, tawakkal dan kesungguhanmu memohon pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla

عَنْ سعد بن أبي وقاص قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata :

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulallah, siapa manusia yang paling berat cobaannya ?”.

Rasulullah menjawab : “Para Nabi lalu orang-orang shalih lalu orang-orang yang semisal dengan mereka lalu yang semisal dengan mereka. Seseungguhnya seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas Dien (agama) nya, semakin kuat ia berpegang teguh dengan Dien nya, semakin berat cobaan dan ujian yang diterimanya. Sedangkan yang Dien nya biasa-biasa saja, maka ia diuji sebatas kualitas Dien nya itu. Dan ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di atas bumi tanpa dosa”.

(HR Tirmidzi dengan derajat Hasan Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban)

Keterangan bisa di lihat dari kitab Tuhfatul Ahwadzi

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻋﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﺑﻦ ﺑﻬﺪﻟﺔ ﻋﻦ ﻣﺼﻌﺐ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻓﻴﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﺖﺭﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻴﺴﻰ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﺃﺧﺖ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺌﻞ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ

Bisa menelaah kembali isi dan makna dari Sarah sebuah hadits berikut ini :

ﻗﻮﻟﻪ : ) ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ( ﺃﻱ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺃﺻﻌﺐ ) ﺑﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﻣﺼﻴﺒﺔ ) ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ( ﺃﻱ ﻫﻢ ﺃﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻻﺑﺘﻼﺀ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﺘﻠﺬﺫﻭﻥ ﺑﺎﻟﺒﻼﺀ ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻠﺬﺫ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﺎﻟﻨﻌﻤﺎﺀ ، ﻭﻷﻧﻬﻢ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻮﺍ ﻝﺗﻮﻫﻢ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻷﻟﻮﻫﻴﺔ ، ﻭﻟﻴﺘﻮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻴﺔ . ﻭﻷﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺗﻀﺮﻉﺍ ﻭﺍﻟﺘﺠﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ) ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ : ﺍﻷﻣﺜﻞ ﺃﻓﻌﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺜﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺃﻣﺎﺛﻞ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﺃﻱ ﺍﻷﺷﺮﻑ ﻓﺎﻷﺷﺮﻑ ﻭﺍﻷﻋﻠﻰ ﻓﺎﻷﻋﻠﻰ ﺭﺗﺒﺔ ﻭﻣﻨﺰﻟﺔ . ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﻫﻮ ] ﺹ: 67 [ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻼﺅﻩ ﺃﺷﺪ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ” ﺛﻢ ” ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺘﺮﺍﺧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺗﺒﺔ ﻭﺍﻟﻔﺎﺀ ﻟﻠﺘﻌﺎﻗﺐ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﻮﺍﻟﻲ ﺗﻨﺰﻻ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻷﻥﺑﻴﺎﺀ ﻟﻠﺠﻨﺲ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﻭﻳﺼﺢ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﻟﻼﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺇﺫ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻋﻈﻴﻢ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﺟﺴﻴﻢ ﺑﻠﻴﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻷﻫﻞ ﺯﻣﻨﻪ ، ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻳﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ( ﺃﻱ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﺿﻌﻔﺎ ﻭﻗﻮﺓ ﻭﻧﻘﺼﺎ ﻭﻛﻤﺎﻻ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺍﻟﺠﻤﻠﺔ ﺑﻴﺎﻥ ﻟﻠﺠﻤﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻼﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﻟﻴﺔ ) ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ( ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻟﻼﺑﺘﻼﺀ ﻭﻗﺪﺭﻩ ) ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ( ﺑﻀﻢ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﺍﻟﻤﻬﻤﻠﺔ ﺃﻱ ﻗﻮﻳﺎ ﺷﺪﻳﺪﺍ ﻭﻫﻮ ﺧﺒﺮ ﻛﺎﻥ ﻭﺍﺳﻤﻪ ﺿﻤﻴﺮ ﺭﺍﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﺠﺎﺭ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﺨﺒﺮ ) ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ( ﺃﻱ ﻛﻤﻴﺔ ﻭﻛﻴﻔﻴﺔ ) ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ( ﺃﻱ ﺫﺍ ﺭﻗﺔ ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺭﻗﺔ ﺍﺳﻢ ﻛﺎﻥ ﺃﻱ ﺿﻌﻒ ﻭﻟﻴﻦ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ﺟﻌﻞ ﺍﻟﺼﻼﺑﺔ ﺻﻔﺔ ﻟﻪ ﻭﺍﻟﺮﻗﺔ ﺻﻔﺔ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﻣﺒﺎﻟﻐﺔ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﻞ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻠﺐ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺜﺚ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺮﻗﺔ ﺃﻥ ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ، ﻭﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻔﻨﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ، ﺍﻧﺘﻬﻰ . ) ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺩﻳﻨﻪ ( ﺃﻱ ﺑﺒﻼﺀ ﻫﻴﻦ ﺳﻬﻞ ، ﻭﺍﻟﺒﻼﺀ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﻠﺔ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ، ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻓﺒﻼﺅﻩ ﺃﻏﺰﺭ ) ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺎ ﻳﻔﺎﺭﻕ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ) ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ( ﺃﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ) ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺮﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ( ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻋﻦ ﺧﻼﺻﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ، ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺒﻮﺳﺎ ﺛﻢ ﺃﻃﻠﻖ ﻭﺧﻠﻲ ﺳﺒﻴﻠﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺄﺱ . ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ( ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻛﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺢ .

Itulah salah satu makan penting bagi seorang muslim untuk senantiasa dijadiakn sebagai sarana tepat dalam meraih keutmaan dan keistimewaan di balik semuah masalah dan musibah yang bis menimpa kapan saja dan di mana saja, ingatlah Allah S.W.T bersama kita semua. Amiiin.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com